Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Simalakama Invasi Darat: Trump Terjepit di Antara Ambisi Militer dan Penolakan Domestik

Redaksi Prokal • Senin, 30 Maret 2026 - 20:15 WIB

Tentara AS
Tentara AS

PROKAL.CO– Tekanan terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk melancarkan operasi tempur darat ke Iran kini mencapai titik didih. Meskipun bombardemen udara dan serangan rudal telah berlangsung sejak 28 Februari lalu, kekuatan militer serta ketahanan rezim Teheran terbukti belum goyah. Kondisi ini memicu perdebatan sengit di Washington mengenai langkah "perjudian" terakhir: mengirimkan sepatu bot prajurit ke tanah Iran.

Kegagalan Strategi Aliansi Tradisional

Berbeda dengan invasi Afghanistan (2001) atau Irak (2003), AS kini kehilangan kartu truf utamanya, yaitu aliansi dengan kelompok minoritas lokal. Strategi divide et impera yang biasanya menjadi "buku teks" invasi AS menemui jalan buntu. Kaum Kurdi, yang menjadi elemen vital dalam melumpuhkan ISIS, secara tegas menolak tawaran aliansi Washington. Mereka enggan kembali menjadi korban politik "habis manis sepah dibuang" demi menjaga perasaan Turki.

Di sisi lain, opsi merangkul minoritas Baluch di Iran Selatan pun terganjal penolakan keras dari Pakistan. Tanpa dukungan faksi lokal, AS terpaksa merancang operasi mandiri yang jauh lebih berisiko.

Laporan intelijen menunjukkan bahwa Trump kini menyiapkan sekitar 10.000 prajurit elit, termasuk Unit Ekspedisi Marinir (MEU), Divisi Lintas Udara ke-82, serta unit sabotase Baret Hijau dan Delta Force. Fokus utamanya bukan pendudukan total, melainkan penguasaan titik vital seperti Pulau Kharg (ekspor minyak), Pulau Qeshm, dan fasilitas nuklir di Isfahan.

Namun, jumlah ini tampak kerdil dibandingkan dengan mobilisasi 1 juta tentara yang telah disiapkan Iran. Teheran dilaporkan telah mempelajari kegagalan AS di Vietnam dan Afghanistan, serta mendapat sokongan teknologi rudal anti-kapal dari China yang mampu menenggelamkan kapal induk pengangkut pasukan.

Badai Politik di Dalam Negeri

Di dalam negeri, Trump menghadapi gelombang perlawanan yang masif. Gerakan "No Kings" telah meluas di 50 negara bagian, mencerminkan hasil survei Reuters yang menunjukkan 61 persen rakyat AS menentang perang ini. Bahkan di internal Partai Republik, para legislator mulai ragu. Mereka khawatir jumlah korban jiwa yang besar akan menjadi "bom waktu" elektoral pada Pemilu Sela November mendatang.

Secara ekonomi, serangan balasan Iran ke negara-negara Teluk telah menghancurkan infrastruktur energi, yang berpotensi membatalkan komitmen ekonomi senilai 2 triliun dolar AS kepada Washington. Operasi di Pulau Kharg juga dipastikan akan mengusik China sebagai importir utama minyak Iran, menambah daftar musuh diplomatik AS.

Situasi ini membuat banyak tokoh dunia, termasuk Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius, menilai bahwa Trump tidak memiliki exit strategy atau jalan keluar yang jelas. Dengan Iran yang sudah menutup pintu negosiasi akibat trauma "ditikam dari belakang" di masa lalu, Trump kini berada dalam posisi sulit. Alih-alih melumpuhkan lawan, sang Presiden justru terjebak dalam dilema "maju kena, mundur pun kena" di tengah teater perang yang kian membara.

Editor : Indra Zakaria