Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Dunia Terguncang: 8 Juta Massa "No Kings" Turun ke Jalan, Rekor Protes Anti-Trump Terbesar dalam Sejarah

Indra Zakaria • Selasa, 31 Maret 2026 - 07:38 WIB

Jutaan orang membawa spanduk dan bendera saat mereka berbaris dalam aksi protes nasional  No King di Chicago.
Jutaan orang membawa spanduk dan bendera saat mereka berbaris dalam aksi protes nasional No King di Chicago.

 

CHICAGO – Amerika Serikat kembali membara dalam gelombang protes yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jutaan warga dari berbagai lapisan masyarakat tumpah ruah ke jalan-jalan utama dalam aksi bertajuk “No Kings”. Gerakan ini menandai salah satu demonstrasi terbesar dalam sejarah modern negeri Paman Sam sebagai bentuk penolakan masif terhadap kepemimpinan Donald Trump.

Laporan dari pihak penyelenggara menyebutkan angka partisipasi yang fantastis: lebih dari 8 juta orang terlibat dalam 3.300 titik aksi yang tersebar di seluruh 50 negara bagian AS, serta merembet ke belasan negara lainnya. Skala ini resmi memecahkan rekor jumlah demonstrasi terbanyak dalam satu hari di Amerika Serikat.

Suara Akar Rumput yang Memekak

Aksi ini merupakan gelombang ketiga dari gerakan “No Kings” yang digerakkan oleh koalisi organisasi sipil, serikat pekerja, dan kelompok akar rumput. Kemarahan publik kali ini dipicu oleh akumulasi isu krusial, mulai dari kebijakan imigrasi yang kontroversial, ketegangan konflik dengan Iran, hingga tekanan terhadap hak pilih warga.

Di Chicago, ribuan massa memadati pusat kota dengan teriakan slogan anti-pemerintah. Spanduk dan bendera memenuhi cakrawala kota, membawa pesan kuat mengenai keadilan sosial, perlindungan bagi imigran, dan pembelaan terhadap hak-hak kelompok minoritas yang dianggap terancam.

Pemandangan serupa terlihat di New York City. Arus massa mengalir deras menuju titik ikonik seperti Times Square dan Central Park. Kehadiran tokoh publik seperti aktor kawakan Robert De Niro dan aktivis senior Al Sharpton memberikan bobot lebih pada pesan demonstran bahwa demokrasi harus dijaga dari dominasi elite.

Sementara itu, di Minnesota, tepatnya di kawasan Twin Cities, sekitar 200 ribu orang dilaporkan turut ambil bagian. Senator independen Bernie Sanders tampak hadir di tengah massa, menyuarakan kritik tajam terhadap ketimpangan ekonomi dan besarnya pengaruh kelompok superkaya dalam roda politik Amerika saat ini.

Isu perdamaian dunia menjadi benang merah yang menyatukan jutaan pengunjuk rasa. Banyak demonstran di Washington DC, tepatnya di sekitar Lincoln Memorial, menyoroti keterlibatan Amerika dalam konflik global di Timur Tengah. Mereka memprotes penggunaan anggaran negara yang besar untuk perang di luar negeri sementara rakyat domestik terhimpit kenaikan harga kebutuhan pokok, krisis kesehatan, dan pendidikan.

“Kami butuh anggaran untuk rumah sakit dan sekolah, bukan untuk membiayai konflik di tanah orang lain,” teriak salah satu orator di jembatan utama ibu kota.

Meskipun sebagian besar aksi berlangsung damai, ketegangan dengan aparat sempat dilaporkan terjadi di beberapa lokasi. Namun secara umum, gelombang "No Kings" kali ini mengirimkan sinyal kuat bahwa polarisasi politik di AS telah mencapai titik didih.

Gerakan ini kini dipandang bukan sekadar unjuk rasa musiman, melainkan simbol perlawanan terorganisir terhadap apa yang para aktivis sebut sebagai kecenderungan otoritarian dalam pemerintahan saat ini. Dunia kini menanti bagaimana pemerintahan Trump merespons tekanan publik yang kian meluas dan beragam ini. (*)

Editor : Indra Zakaria