TEHERAN – Ketegangan di kawasan Timur Tengah memasuki babak baru yang kian memanas. Pemerintah Iran secara resmi menyatakan penolakannya terhadap proposal gencatan senjata dalam konflik yang tengah berlangsung. Teheran menegaskan bahwa mereka tidak mencari jeda pertempuran sementara, melainkan menuntut penghentian perang secara menyeluruh dan permanen.
Pernyataan keras ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera. Araghchi menekankan bahwa posisi Iran saat ini bukan sekadar menghentikan baku tembak, tetapi juga mencakup tuntutan jaminan keamanan di masa depan serta kompensasi atas kerugian besar yang telah ditimbulkan oleh eskalasi konflik tersebut.
Baca Juga: Guncangan Global: Konflik Iran vs Israel-AS Picu Krisis Energi di 5 Negara, Kuba Lumpuh Total
Klarifikasi Mengenai Komunikasi dengan Amerika Serikat
Menanggapi spekulasi yang beredar mengenai adanya negosiasi di balik layar dengan Washington, Araghchi memberikan klarifikasi tegas. Menurutnya, kontak yang terjadi selama ini melalui utusan AS, Steve Witkoff, bukanlah sebuah diplomasi resmi atau negosiasi formal.
“Kontak ini bukan negosiasi, melainkan pertukaran pesan dalam kerangka tertentu, baik secara langsung maupun melalui perantara di kawasan. Hingga saat ini, Iran belum memberikan tanggapan resmi maupun mengajukan proposal syarat apa pun kepada Amerika Serikat,” tegas Araghchi.
Seluruh arus komunikasi tersebut, lanjutnya, berada di bawah pengawasan ketat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Araghchi juga mengirimkan pesan tajam kepada Presiden AS Donald Trump agar berkomunikasi dengan cara yang lebih hormat, seraya menegaskan bahwa rakyat Iran tidak akan tunduk pada tekanan atau ancaman dalam situasi apa pun.
Di tengah kekhawatiran global mengenai stabilitas energi, Araghchi memberikan kepastian mengenai status Selat Hormuz. Ia menyatakan bahwa jalur pelayaran vital tersebut tetap terbuka bagi navigasi internasional. Namun, Iran memberlakukan kebijakan diskriminatif yang ketat.
Pemerintah Iran memastikan jalur tetap aman bagi negara-negara sahabat, namun tetap memberlakukan pembatasan bagi kapal-kapal dari negara yang dianggap menunjukkan sikap permusuhan terhadap Teheran. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi pertahanan kedaulatan maritim mereka.
Sikap teguh Teheran ini memberikan sinyal kuat kepada dunia internasional bahwa peluang untuk mencapai perdamaian jangka pendek melalui gencatan senjata kian menipis. Iran kini memegang posisi tawar yang tinggi dengan menuntut penyelesaian konflik secara total dan ganti rugi yang konkret sebelum kembali ke meja perundingan. (*)
Editor : Indra Zakaria