WASHINGTON – Gelombang pembersihan petinggi militer Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Menteri Pertahanan Pete Hegseth mencapai puncaknya pada Kamis (2/4). Secara mengejutkan, Hegseth memaksa Kepala Staf Angkatan Darat (Army Chief of Staff) Jenderal Randy George untuk segera pensiun, memotong masa jabatannya lebih dari satu tahun lebih awal dari yang dijadwalkan.
Langkah drastis ini diambil di tengah situasi geopolitik yang kian membara, saat operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran memasuki fase intensif. Jenderal George, yang merupakan perwira tertinggi di Angkatan Darat sekaligus anggota Kepala Staf Gabungan, resmi meninggalkan posisinya efektif segera setelah pernyataan Pentagon dirilis.
Pembersihan di Tengah Genderang Perang
Pencopotan Jenderal George terjadi di momen yang sangat krusial. Militer AS baru saja meluncurkan serangan besar-besaran terhadap infrastruktur Iran, termasuk pengeboman jembatan strategis yang menghubungkan Teheran dan Karaj hingga runtuh sebagian. Serangan ini menyusul pidato keras Presiden Donald Trump pada 1 April, yang mengancam akan membom Iran "kembali ke Zaman Batu" jika Teheran tidak menyetujui persyaratan Washington.
Presiden Trump menyatakan bahwa tujuan strategis militer AS di Iran hampir selesai, namun ia memperingatkan adanya serangan "sangat keras" dalam dua hingga tiga minggu ke depan sebelum potensi penghentian operasi. Di tengah rencana invasi darat yang berisiko tinggi untuk mengamankan uranium Iran, pergantian kepemimpinan ini memicu spekulasi besar mengenai arah strategi tempur AS.
Alasan di Balik Pemecatan
Meski juru bicara Pentagon, Sean Parnell, menyampaikan terima kasih atas pengabdian Jenderal George selama puluhan tahun, latar belakang sang jenderal diduga menjadi faktor penentu. Jenderal George sebelumnya menjabat sebagai asisten militer senior untuk mantan Menhan Lloyd Austin di era pemerintahan Biden, sebuah rekam jejak yang diyakini menjadi alasan Hegseth melakukan perubahan kepemimpinan.
"Kami berterima kasih atas jasanya, tetapi sudah waktunya untuk perubahan kepemimpinan di Angkatan Darat," ujar seorang pejabat senior Departemen Pertahanan.
Jenderal George adalah nama terbaru dalam daftar panjang perwira tinggi yang "dibersihkan" oleh Hegseth, menyusul Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal C.Q. Brown dan Kepala Operasi Angkatan Laut Laksamana Lisa Franchetti. Posisi George sementara akan diisi oleh Jenderal Christopher LaNeve, mantan komandan Divisi Lintas Udara ke-82 yang juga merupakan asisten militer senior Hegseth.
Ketidakpastian militer dan politik ini langsung memicu reaksi liar di pasar global. Harga minyak mentah WTI melonjak tajam melampaui angka $110 per barel pada hari Kamis. Para investor khawatir bahwa pergantian kepemimpinan militer yang mendadak di tengah perang aktif ini menandakan persiapan AS untuk eskalasi yang jauh lebih besar di Timur Tengah, yang berpotensi mengganggu pasokan energi dunia secara masif. (*)
Editor : Indra Zakaria