Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Misi Perdamaian Berdarah di Lebanon: Prajurit Perancis Gugur Diserang, Macron Tuding Hizbullah Jadi Dalang

Redaksi Prokal • Senin, 20 April 2026 - 10:00 WIB
Pasukan penjaga perdamaian UNIFIL dan tentara Lebanon berjaga di sebuah pos pemeriksaan di Naqoura, dekat perbatasan Lebanon-Israel, di Lebanon selatan. ( Aziz Taher/Reuters)
Pasukan penjaga perdamaian UNIFIL dan tentara Lebanon berjaga di sebuah pos pemeriksaan di Naqoura, dekat perbatasan Lebanon-Israel, di Lebanon selatan. ( Aziz Taher/Reuters)

BEIRUT – Situasi di wilayah selatan Lebanon kembali mencekam setelah sebuah serangan mematikan menyasar pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) pada Sabtu pagi. Insiden ini menewaskan satu orang prajurit asal Perancis dan melukai tiga lainnya, dua di antaranya dalam kondisi kritis. Tragedi ini menjadi tamparan keras bagi upaya deeskalasi di tengah gencatan senjata 10 hari yang baru saja disepakati antara Israel dan kelompok Hizbullah.

Peristiwa berdarah tersebut terjadi saat personel UNIFIL sedang melakukan patroli rutin di dekat desa Ghandouriyeh. Kelompok bersenjata dilaporkan melepaskan tembakan menggunakan senjata ringan ke arah iring-iringan pasukan internasional tersebut. Presiden Perancis, Emmanuel Macron, bereaksi keras atas kabar ini dengan langsung menunjuk hidung Hizbullah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab. Melalui pernyataan resminya, Macron menegaskan bahwa segala indikasi di lapangan mengarah pada keterlibatan kelompok milisi pro-Iran tersebut.

Prajurit yang gugur diidentifikasi sebagai Sersan Staf Florian Montorio, anggota Resimen Zeni Parasut ke-17 yang berbasis di Montauban. Macron mendesak otoritas Lebanon untuk tidak tinggal diam dan segera memburu para pelaku guna memastikan akuntabilitas hukum. Namun, tuduhan kilat dari pemimpin Perancis ini dinilai terburu-buru oleh banyak pihak, mengingat investigasi resmi baru saja dimulai oleh pengadilan militer Lebanon di bawah perintah Presiden Joseph Aoun dan Perdana Menteri Nawaf Salam.

Hizbullah sendiri tidak tinggal diam menanggapi tudingan serius tersebut. Melalui pernyataan resminya, mereka dengan tegas membantah keterlibatan dalam serangan ke pos pemeriksaan UNIFIL. Hizbullah menyerukan agar semua pihak menahan diri dan tidak mengeluarkan kesimpulan prematur sebelum hasil penyelidikan militer Lebanon diumumkan secara transparan. Mereka bahkan menyoroti adanya standar ganda internasional, dengan menyebut bahwa kecaman serupa jarang muncul dengan cepat ketika pasukan Israel yang menyerang personel PBB di wilayah perbatasan.

Gugurnya Sersan Montorio di tengah masa gencatan senjata yang diinisiasi oleh diplomasi Donald Trump menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas keamanan di Lebanon saat ini. Insiden ini dikhawatirkan akan memicu ketegangan diplomatik yang lebih luas, terutama antara Paris dan Teheran, serta berpotensi mengancam kelanjutan misi perdamaian PBB di wilayah yang telah hancur akibat konflik panjang tersebut. Dunia kini menanti fakta sebenarnya dari hasil investigasi militer untuk mengungkap siapa aktor sesungguhnya di balik serangan yang merusak harapan perdamaian di Bumi Lebanon.(*)

Editor : Indra Zakaria
#unifil