Peringatan Bahaya Bagi Washington: Stok Rudal AS Menipis, Tak Cukup untuk Melawan Iran dalam Perang Panjang

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 10:45 WIB
Peluncuran rudal THAAD. (The U.S. ArmyRalph Scott/Missile Defense Agency/U.S. Department of Defense)
Peluncuran rudal THAAD. (The U.S. ArmyRalph Scott/Missile Defense Agency/U.S. Department of Defense)

PROKAL.CO- Persediaan amunisi strategis Amerika Serikat (AS) dilaporkan berada dalam kondisi yang amat mengkhawatirkan. Stok rudal yang kian menipis ini diprediksi tidak akan sanggup menopang operasi militer jangka panjang apabila ketegangan dengan Iran meletus menjadi perang terbuka skala penuh.

Kondisi kritis ini mencuat di tengah langkah Presiden Donald Trump yang tengah mempertimbangkan opsi militer lanjutan serta pengerahan armada pesawat tempur tambahan ke kawasan Timur Tengah. Seorang pejabat senior AS membeberkan kekhawatiran internal tersebut dan menilai Gedung Putih belum menyadari risiko fatal dari kelangkaan amunisi ini.

"Kami tidak memiliki persediaan yang cukup untuk mempertahankan operasi secara aman, dan saya rasa Gedung Putih tidak menyadari hal itu," ungkap pejabat senior tersebut kepada The Washington Post.

Anjloknya cadangan amunisi dipicu oleh penggunaan masif rudal presisi sejak fase awal konflik yang dimulai pada akhir Februari lalu. Berdasarkan laporan analisis Center for Strategic and International Studies (CSIS), militer AS telah menguras sebagian besar persediaan rudal pencegat THAAD dan Patriot, serta rudal jelajah Tomahawk.

Masalah kian rumit lantaran kapasitas produksi industri pertahanan AS tak sanggup mengejar laju konsumsi perang. CSIS memperkirakan butuh waktu minimal tiga tahun untuk memulihkan stok sistem persenjataan utama. Bahkan, untuk rudal jelajah Tomahawk, pemulihan persediaan diprediksi baru bisa tuntas pada 2030 mendatang.

Saat ini, pabrikan pertahanan AS tercatat hanya mampu memproduksi sekitar 15 rudal Tomahawk dan 20 rudal Patriot setiap bulannya. Lebih parahnya lagi, tidak ada proyeksi pengiriman sistem rudal THAAD baru sepanjang tahun 2026.

Keterbatasan amunisi ini menjadi batu sandungan besar bagi pimpinan militer AS. Jika eskalasi militer di Timur Tengah terus membara, krisis persediaan rudal ini dipastikan bakal melumpuhkan daya tempur Washington dalam mempertahankan operasi jangka panjang sekaligus menjaga potensi ancaman di wilayah geopolitik lainnya. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
iran amerika serikat