PROKAL.CO- Kabar duka nan mengejutkan datang dari medan perang Eropa Timur. Seorang Warga Negara Indonesia (WNI) bernama Muhammad Taufiq (48) dilaporkan tewas di garis depan pertempuran saat bertugas sebagai tentara bayaran untuk Angkatan Bersenjata Federasi Rusia. Tragisnya, nyawa Taufiq melayang justru pada pertempuran pertamanya melawan pasukan Ukraina.
Kepastian mengenai tewasnya Taufiq dikonfirmasi langsung oleh Badan Intelijen Militer Ukraina (Main Directorate of Intelligence / GUR) melalui situs resminya pada Senin (26/10/2026). Informasi tersebut diperkuat oleh dokumen kontrak kerja yang diunggah Markas Koordinasi Ukraina untuk Penanganan Tawanan Perang via situs stoprussianrecruiters.org.
Dari Sorong, Jakarta, hingga Perang Eropa
Lahir di Kota Sorong, Papua Barat Daya, pada 22 Mei 1978, perjalanan hidup Taufiq sebelum terdampar di medan laga sebenarnya cukup berwarna. Sebelum mengikat kontrak militer, ia sempat menetap di Surabaya, Jawa Timur, dan menjajal berbagai profesi.
Taufiq tercatat pernah mengais rezeki sebagai sopir taksi di Jakarta, bahkan sempat menduduki posisi manajer di sebuah perusahaan pertanian. Tak hanya itu, ia juga memiliki pengalaman bekerja di Amerika Serikat yang membuatnya mahir berbahasa Inggris.
Namun, roda nasib berputar ke arah yang tak terduga saat ia tergiur iming-iming kompensasi finansial yang menggiurkan. Berawal dari keberaniannya mengirimkan daftar riwayat hidup (CV) ke pihak Rusia, Taufiq akhirnya resmi menandatangani kontrak dinas militer berdurasi satu tahun pada 19 April 2026 di Kota Korolyov, Oblast Moskow. Dalam kontrak tersebut, ia diplot mengemban posisi yang sangat berisiko: penembak senapan mesin (machine gunner).
Kilat di Pusat Latihan, Tragis di Garis Depan
Setelah menandatangani kesepakatan, proses penugasan Taufiq berjalan serba kilat. Ia langsung dikirim ke pusat pelatihan militer di dekat wilayah Voronezh. Namun, masa pembekalan yang dijalaninya terbilang sangat minim—hanya berlangsung sekitar satu setengah minggu.
Memasuki awal Mei 2026, tanpa persiapan yang benar-benar matang, Taufiq langsung diterjunkan ke wilayah Ukraina yang berada di bawah pendudukan sementara Rusia.
Hari penentuan itu pun tiba ketika pasukannya bergerak menuju kawasan Novoselivka dan Drobysheve. Saat melintasi permukiman Zelena Dolyna di wilayah Donetsk, kontak senjata sengit pecah. Di situlah petualangan perdananya sekaligus menjadi yang terakhir. Pihak intelijen Ukraina mengonfirmasi bahwa Taufiq tewas hampir seketika di lokasi kejadian terkena hantaman tembakan.
Kepergian Taufiq menjadi cermin kelam dari maraknya praktik perekrutan warga asing dalam konflik bersenjata Rusia-Ukraina. Badan Intelijen Pertahanan Ukraina secara berkala terus menyoroti fenomena ini, sembari menyebut bahwa para personel asing kerap dimanfaatkan sebagai umpan di garis terdepan pertempuran dengan pelatihan yang sangat ala kadarnya.
Guna mencegah bertambahnya korban jiwa dari kalangan warga asing, pihak intelijen Ukraina kembali melayangkan imbauan terbuka. Bagi para tentara asing yang terlanjur bergabung di barisan militer Rusia dan ingin menyelamatkan diri, mereka diimbau untuk segera menyerahkan diri melalui saluran bot Telegram dari program kemanusiaan bertajuk "Saya Ingin Hidup". (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co