Dalam rangka pelestarian ikan arwana di habitat alamnya, Taman Nasional Betung Kerihun Danau Sentarum (TNBK DS) telah membangun Sanctuary ikan Arwana Super Red berbasis masyarakat. Lokasi kegiatan tersebut ada di Danau Merebung Taman Nasional Danau Sentarum, Kabupaten Kapuas Hulu.
Untuk mendukung upaya pelestarian ikan arwana atau dikenal dengan nama Siluk ini di habitat aslinya, PT. Mitra Sarana Aquatama bersama Balai KSDA Kalimantan Barat melepasliarkan 30 ekor indukan Arwana Super Red di Danau Sentarum pada 23 Oktober 2021 lalu.
Program Pelepasliaran ikan arwana ke habitat aslinya di lanskap Danau Sentarum dengan melibatkan para pihak sudah beberapa kali dilakukan. Untuk kali ini kembali dilakukan pelepasliaran sekitar 30 ekor indukan Arwana Super Red di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum yang melibatkan Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum, BKSDA Kalbar bersama PT. Mitra Sarana Aquatama. Kepala Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum, Wahju Rudianto mengungkapkan, sumbangan 30 ekor indukan Arwana Super Red dari PT. Mitra Sarana Aquatama merupakan upaya dalam mendukung operasionalisasi sanctuary tersebut.
“Yang selanjutnya akan dilepasliarakan pada habitat alaminya dengan harapan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan anakannya,” kata Wahju. Karenanya, Wahju menyampaikan ucapan terimakasih kepada pihak Balai KSDA Kalimantan Barat dan PT. Mitra Sarana Aquatama yang telah berkontribusi membantu TNBKDS dalam operasionalisasi sanctuary Ikan Arwana Super Red itu.
“Saya juga mengajak kepada masyarakat untuk mengatur pola pemanfaatan ikan Arwana dari alam agar kelestariannya dapat terus terjaga,” ajak Wahju. Wahju berharap, dengan dukungan seluruh elemen, kelestarian Ikan Arwana sebagai salah satu satwa endemik kebanggaan Kalimantan Barat akan tetap terus terjaga kelestariannya, serta mampu mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam pemanfaatannya secara lestari.
Seperti kita ketahui, Danau Sentarum merupakan salah satu habitat asli ikan Arwana di Indonesia khususnya di Kalimantan Barat. Sementara itu, Kepala BKSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta mengatakan, saat ini populasi ikan arwana di alam secara pasti memang belum terdata, namun demikian keberadaan dan peredaran ikan arwana dari penangkaran sudah sangat banyak.
“Bahkan bisa dikatakan bahwa kekhawatiran akan ancaman terhadap kelestarian ikan arwana ini hampir tidak ada. Yang perlu dijaga dan terus didorong adalah upaya pengembalian ke alam melalui kegiatan pelepasliaran yang sudah beberapa kali dilakukan dan akan terus dilakukan ke depannya,” kata Sadtata. (dRe)
Editor : izak-Indra Zakaria