SEKELOMPOK siswi SMA asyik berkayuh kano di pinggir Sungai Kapuas. Seolah tak peduli dengan sengat matahari di langit Khatulistiwa yang sudah sangat menyengat pagi itu.
Sementara guru dan teman-teman mereka duduk menunggu di dermaga kecil, tempat penyewaan kano tersebut. Tepat di bawah jalan beton yang baru setahun dibangun Pemerintah Kota Pontianak. Sepelemparan batu dari mereka, rumah tua berbahan kayu belian (ulin) menjulang tinggi. Rumah ini bergaya panggung khas arsitektur Melayu dengan jendela dan pintu yang besar. Bangunan yang menghadap sungai ini adalah ikon kebanggaan warga Kampung Wisata Caping, Kelurahan Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara, Kota Pontianak.
Kayu beliannya besar-besar. Rumah di atas tanah 1.428 meter persegi ini memiliki tiang penopang dari dasar tanah hingga lantai hingga sekira 2,5 meter. Di kolong rumah yang lantainya sudah dicor itu, tampak sejumlah remaja dari sanggar setempat berlatih menari. Sejak dibangun ulang oleh Pemkot Pontianak dan dijadikan cagar budaya, rumah ini juga menjadi pusat aktivitas seni, budaya, olahraga, atau kreativitas apapun di sana. Ada pula perpustakaan milik kampung di dalamnya.
Ketua RW setempat, Endang Purnama menuturkan, rumah ini dulunya milik Hajah Salmah, tokoh di sini. Dibangun tahun 1918. Namun karena tidak ada pewaris yang meninggalinya, bangunannya pun hampir roboh dimakan usia. Tahun 2019, ahli waris menghibahkan rumah ini kepada Pemkot. Dua tahun berselang Wali Kota Pontianak Edi Kamtono membangun ulang rumah ini sesuai bentuk aslinya.
"Sekarang sudah jadi cagar budaya. Tetapi warga boleh memanfaatkannya untuk kepentingan umum," ujar Endang. Kampung ini adalah saksi bisu eksistensi Kesultanan Pontianak dan perdagangan di Sungai Kapuas pada masa lalu."Dulunya sebagian besar warga di sini adalah pengrajin caping. Produknya dikirim kemana-mana. Sampai sekarang kita masih produksi, walaupun tidak sebesar dulu," sebut Endang.
Kawasan Kumuh Jadi Kampung Wisata
Kampung Wisata Caping sendiri sejatinya adalah penamaan baru. Sejatinya kawasan ini terdiri dari Kampung Mendawai dan Kampung Bangka yang digabungkan. Dulunya kampung ini ditetapkan oleh Pemerintah Kota sebagai salah satu kawasan kumuh perkotaan. Kawasan ini memiliki kondisi persampahan yang memprihatinkan. Karakteristik dari sampah yang ada di wilayah ini, selain hasil buangan sampah domestik juga sampah kiriman yaitu sampah yang terbawa hanyut oleh aliran sungai Kapuas.
"Posisi atau letak timbulan sampah yang berada di bawah kolong unit-unit rumah menjadikan sampah-sampah tersebut sulit untuk ditangani," ujar Endang. Pun sebagian besar warga di sini masuk kategori masyarakat berpenghasilan rendah. "Sebagian besar warga di sini adalah MBR, dimana mata pencariannya adalah kuli bangunan," sambung dia.
"Saya ingat betul, kami mulai 17 Juli 2018 untuk bikin program kampung kreatif di sana. Alhamdulillah sambutannya baik, walaupun saat ini warga yang bergabung masih terbatas," sebut Beny yang pendiri Akademi Ide ini. Ia dibantu warga memulai dari yang kecil dulu, seperti membersihkan kuburan, memungut sampah, penghijauan, dan menjadwalkan kegiatan gotong royong.
"Kerja bakti di kampung ini sebelumnya sudah dilakukan tetapi tidak rutin. Namun belakangan kita dorong supaya rutin seminggu sekali. Ternyata warga semangat. Dari beberapa warga yang ikut, jadi tambah ramai," ujarnya. Melihat keaktivan warga, Beny pun tambah semangat. Dari kampanye lingkungan, ia mulai mengajak warga untuk kreatif. Dia melihat ada potensi besar di kampung ini.
Letaknya strategis di tengah kota. Posisinya di pinggir Sungai Kapuas dan menghadap Jembatan Kapuas juga menawarkan pemandangan yang menawan. Ditambah lagi sejarah kampung ini yang dikenal sebagai pusatnya kreativitas. "Dari dulu Mendawai dan Bangka ini pusatnya kerajinan anyaman. Terutama caping," sebutnya. Ia dan tim sampai menyewa rumah kecil agar fokus dalam pembinaan di sana.
"Tahun 2020, kami sewa rumah kecil dari papan supaya bisa fokus di sana. Kami lalu rutin memberikan pelatihan kreativitas untuk warga di sini. Termasuk untuk pelatihan pemasaran hasil kreasinya," ungkapnya. Pandemi Covid-19 pada tahun itu juga malah mempercepat progres Kampung Caping. Sebagian besar warga yang bekerja sebagai tukang bangunan mendadak kehilangan pekerjaan. Beny mendapat tambahan banyak tenaga baru dan terampil. Apa saja mereka kerjakan, seperti mengecat dinding rumah dan jalan jadi warna-warni, membuat mural, menanam pohon, membuat bank sampah perpustakaan, serta lain-lain," sebut dia. "Kerja bakti yang darinya seminggu sekali, kini jadi hampir setiap hari," imbuh Beny.
Puncaknya, tahun 2021, Pemkot merevitalisasi rumah tua terbesar di sana. Bangunan megah itu pun mendadak ramai disambangi warga seantero Pontianak. Dari sana lah ide Kampung Wisata Caping bermula. Sejak saat itu ide kreatif warga bermunculan. Kampung Caping kemudian memiliki berbagai atraksi wisata; seperti kuliner terapung, penyewaan kano, meriam karbit, tari-tarian, dan lain sebagainya.
Wisatawan juga bisa membuat caping sendiri bersama pengrajin di sini. Ada Pula homestay, serta pusat oleh-oleh camilan lokal dan barang kerajinan buatan warga. Namun atraksi meriam karbit yang digelar sepanjang bulan Ramadan menjadi magnet utama. "Warga juga sering membuat event sendiri, seperti fashion show, lomba lukis, mural, hingga sampan," sebut Beny.
Berbasis Digital
Struktur organisasi di Kampung Caping sudah seperti pemerintahan. Di sini terdapat 16 kelompok sektor yang terbentuk, seperti lingkungan hidup, seni-budaya, Kominfo, UMKM, olahraga, pariwisata dan lainnya. "Masing-masing berkreasi untuk memajukan bidangnya masing-masing. Kita juga rutin rapat besar di rumah cagar budaya. Supaya antara 16 kelompok itu agar saling bersinergi programnya," ungkap Ketua Kelompok Wisata Kampung Caping, Barry Shilmon (48).
Barry menyebut ide pengembangan Kampung Wisata sangat banyak. Namun bagaimana memasarkannya juga penting. Media sosial dan pesan langsung di layanan WhatsApp pun menjadi andalan untuk mempromosikan produk-produk di sana. "Kami rutin posting di akun Instagram @Kampungcapingpontianak. Setiap ada produk atau event kami warga juga share ke berbagai grup WA dan ke teman-temannya," ucap Barry.
Kekuatan media sosial membuat nama Kampung Caping dikenal hingga ke mancanegara. Barry menyebut banyak orang asing yang berkunjung ke sini. "Belum lama ini ada 40an tamu dari Malaysia yang datang berkunjung. Mereka ingin merasakan kuliner saprahan khas Pontianak di cagar budaya," ujarnya. Saprahan adalah makan besar dengan menggunakan tangan. Para peserta duduk melingkar di lantai. Sementara di tengah lingkaran segala lauk pauk terhidang.
Barry mengatakan, ia merasa beruntung lantaran warga di sini sangat mau belajar dan berkembang. "Kami mendapat banyak dorongan dan pelatihan untuk pengembangan usaha warga di sini. Dan warga antusias mengikuti. Termasuk emak-emak di sini," sebutnya. Hal tersebut membuat pemerintah dan sejumlah korporasi pun bersemangat membantu. Bantuan misalnya datang dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) berupa komputer, layanan usaha, dan pelatihan bisnis digital.
Tak heran Kampung Caping maju pesat. Hanya dalam tempo singkat Kampung Caping mendapat berbagai penghargaan lokal hingga nasional. Misalnya juara 1 lomba Perpustakaan Nasional dari Perpusnas tahun 2021, juara 1 lomba cipta lagu, smart branding dari Kemenkominfo, dan juara 1 komunitas pecinta sungai. Tiga orang pemuda dari kampung caping juga pernah terpilih menyandang gelar Pemuda Pelopor dari Pemkot. Terakhir Kampung Caping menyandang juara 1 Lomba Kelurahan se-Kalimantan oleh Kemendagri. "Sebenarnya saya yakin Kampung Caping bisa jadi juara 1 kelurahan nasional. Tetapi karena pandemi juara tingkat nasional yang mengadu antar-regional ditiadakan," ucap Barry.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyebut Kampung Caping menjadi role model, tidak hanya di Kota Pontianak tetapi juga bagi daerah-daerah lainnya. "Keberadaan Kampung Caping bisa berdampak untuk pertumbuhan ekonomi," ujarnya beberapa waktu lalu. Ia menilai kreativitas harus terus dilakukan. Setelah membangun jalan tepi sungai, selanjutnya, pihaknya akan melakukan pembenahan teras depan Rumah Budaya dengan menata lingkungan sekitarnya, termasuk membangun dermaga untuk kapal wisata bersandar yang akan menjadi transportasi menyusuri Sungai Kapuas.
Pengrajin Masih Bertahan
Mardiana sibuk menganyam daun mengkuang menjadi caping di teras rumahnya. Di Kampung Caping ada lebih dari 60 pengrajin aktif. Semuanya adalah ibu rumah tangga. "Kalau saya seminggu bisa bikin 6 kodi caping. Satu kodi itu isinya 25 caping. Bahkan ada teman karena fokus bisa bikin 50 kodi sebulan," sebutnya kepada Pontianak Post. Di pengepul, satu kodi caping dihargai Rp200 ribu.
Kendati zaman sudah berubah, regenerasi pengrajin ternyata bukan masalah utama bisnis ini. Mardiana menyebut kalangan remaja di sini pun sudah diajari menganyam. Market juga bukan problem. "Seberapa pun yang ada, pengepul pasti ambil. Karena permintaannya memang tinggi dari luar Pontianak," sebutnya.Masalah yang membuat produktivitas pengrajin terhambat adalah daun mengkuang yang makin jarang ditemui. Tanaman mirip pandan ini adalah bahan baku produk kerajinan, tak hanya caping, melainkan juga pembuatan tikar lampit untuk menjemur hasil pertanian dan keranjang.
Dulu di sekitar kampung tersebut tumbuhan ini tumbuh liar. Namun seiring perkembangan kota, area tumbuhnya berubah menjadi perumahan. Kini para pengrajin harus mengambil mengkuang dari Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya yang jaraknya jauh dan memakan biaya. Selain itu jumlahnya tidak sebanyak dulu. Hal tersebut menghambat produktivitas warga.
Namun sejak adanya Kampung Wisata, proses membuat caping juga menjadi atraksi wisata di sini. Turis juga diajari membuat caping dan boleh membawa pulang hasil karyanya.Selain itu, warga juga membuat produk-produk kerajinan kekinian lainnya yang dijual di pusat oleh-oleh kampung. "Walaupun belum ramai (yang beli), tetapi ada lah," pungkasnya. (Aristono)
Editor : izak-Indra Zakaria