Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Ada 104 Sekolah di Kapuas Hulu Terdampak Banjir

Indra Zakaria • 2024-01-26 12:16:31
ilustrasi banjir di Kalbar
ilustrasi banjir di Kalbar

HINGGA kini beberapa kecamatan di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu masih terendam banjir. Akibat banjir tersebut, tercatat 104 sekolah terdampak, yang terdiri dari TK atau PAUD berjumlah  24 sekolah, SD sebanyak 66 sekolah, dan SMP, 14 sekolah.

Petrus Kusnadi, kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupatan Kapuas Hulu menyampaikan bahwa situasi banjir tersebut sangat berpengaruh terhadap belajar mengajar, terutama di sekolah-sekolah yang ada di daerah pesisir sungai Kapuas.

“Untuk kecamatan yang berada di Hilir Sungai Kapuas, terutama Silat Hilir, Semitau, Suhaid, Selimbau, dan Jongkong ini semua sudah terdampak banjir, ada beberapa sekolah kita yang memang sudah terendam banjir.

Kemudian situasi banjir daerah yang saya sebutkan ini sangat berbeda dengan wilayah di kecamatan lain,”  katanya. Kusnadi mengatakan, kondisi Danau Sentarum saat ini sudah meluap, sehingga air di beberapa kecamatan sangat lambat surutnya. 

Bahkan, hingga kini diakui dia, air terus naik, meskipun di perhuluan sungai tidak hujan. Karena, diakui dia, debit air yang ada di Danau Sentarum ini sudah sangat banyak.

“Ini yang sangat mempengaruhi situasi masyarakat di beberapa kecamatan, salah satu yang sangat terdampak yaitu proses belajar mengajar,” ujarnya. Lanjut Kusnadi, berdasarkan data yang sudah dihimpun, mulai dari tangal 19 Januari hingga saat ini ada 104 sekolah terdampak banjir.

“Kita sudah mengimbau, bahwa sekolah-sekolah yang dalam waktu yang lama sekolah nya terendam banjir, bisa melaksanakan proses belajar mengajar disesuaikan dengan lokasi setempat, bisa sistemnya belajar di rumah, bisa belajar secara online, karena kita tidak bisa paksakan mareka harus belajar di sekolah, karena beberapa sekolah sedang terendam banjir,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan bahwa beberapa wilayah di Kabupaten Kapuas Hulu telah terendam banjir, 29 November lalu. Hal ini turut berdampak pada aktifitas belajar mengajar satuan pendidikan. Setidaknya ada 17 sekolah terpaksa diliburkan karena banjir.

Petrus Kusnadi, kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdkbud) Kabupaten Kapuas Hulu menyampaikan, bahwa data sekolah libur akibat terdampak banjir per tanggal 29 November 2023 sebanyak 17 sekolah.

"SD ada 14 sekolah, TKN ada 1 dan Sekolah Menengah Pertama ada 2 sekolah yang libur karena banjir," katanya, 30 November lalu.

Kusnadi merincikan sekolah yang libur di Kecamatan Bika sebanyak 9 sekolah yakni SDN 03 Melapi Manday, SDN 04 Jelemuk, SDN 06 Jongkong Manday, SDN 07 Ujung Pinang, SDN 08 Bika, SDN 09 Patah Sandung, SDN 10 Penyeluang, SMPN 1 Bika, dan TKN Bika.

Kemudian di Kecamatan Putussibau Selatan ada 2 selolah yakni SDN 29 Tanjung Jati dan SDN 3 Teluk Barak, Kecamatan Bunut Hilir ada 3 sekolah yakni SDN 11 Tanjung Entibab, SDN 14 Tanjung Kapuas dan SDN 07 Kuala Buin; lalu di Kecamatan Boyan Tanjung ada 3 Sekolah libur diantaranya adalah SDN 19 Benit, SDN 15 Landau Mentail dan SMPN 4 Boyan Tanjung."Semoga banjir cepat surut agar proses belajar mengajar tidak lagi terganggu," harapnya.

Sementara Yanto Susanto, kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kapuas Hulu menyampaikan hingga saat ini terdapat 10 desa yang masih terendam banjir.

"(Sebanyak) 10 desa itu berada di dua kecamatan yakni Kecamatan Pengkadan dan Bika," katanya. Yanto mengatakan, untuk rumah yang terendam sendiri berjumlah 1.105 rumah, 1.678 Kepala Keluarga yang terdampak banjir dengan jumlah jiwa 5.030 orang serta 78 fasilitas umum terdampak.

"Sekarang banjir sudah mulai turun, kita juga terus lakukan monitoring ke lapangan," pungkasnya. Awal bulan lalu diberitakan, hampir sebagian wilayah Kota Putussibau terendam banjir.

Tak hanya menggenangi pemukiman warga, perkantoran dan sekolah, banjir juga merendam Pasar Pagi Putussibau, Senin (15/1).

Di Pasar Pagi genangan mencapai ketinggian hampir lutut orang dewasa. Akibatnya, para pedagang tidak dapat menggunakan lapak mereka untuk berjualan, sehingga harus bergeser lagi ke pinggir jalan utama.

Akibatnya ruas Jalan Diponegoro tersebut tampak padat, karena sebagian dari badan jalan dipenuhi penjual dan lalu lalang para pembeli sayuran.

Suatan salah satu pedagang mengatakan, para pedagang sayur dan ikan terpaksa berjualan di pinggir jalan raya atau depan pasar Jalan Diponegoro. Untuk menghindari sayur-sayuran membusuk, maka harus dijual hari itu juga.Sedangkan pedagang pakaian dan barang kelontong lainya memilih bertahan di lapak mereka. 

“Orang-orang tidak mau masuk karena banjir. Jadi jualannya terpaksa di luar. Soalnya kita harus mengejar pembeli,” katanya. Pedagang lainnya, Susi, mengaku terpaksa memindahkan barang dagangannya ke pinggir jalan karena banjir mulai menggenangi lapaknya.

Selain itu, akibat banjir, para pembeli, diakui, enggan masuk ke dalam pasar. “Kalau tak dijual cepat, nanti daganganya kami busuk,” tuturnya. Susi mengatakan, setiap adanya musim banjir seperti ini, ia bersama pedagang lainnya tetap akan berjualan di pinggir jalan hingga airnya surut.

Karena lokasi pasar yang tak jauh dari Sungai Kapuas, diakui dia, memang rawan banjir.

Ratnawati belum bisa memastikan kapan pindah ke lapaknya. “Kalau besok kondisinya seperti ini, kami tetap bertahan jualan di sini,” ujarnya. 

Kendati berjualan di pinggir jalan raya, Susi berharap, pemerintah tidak melakukan penertiban terlebih dahulu.

Mengingat saat ini banjir masih melanda, kondisi pasar pun, menurutnya, ramai pengunjung.

“Kami harap pemerintah dapat memaklumi kondisinya saat ini. Kami juga sadar dengan pindahnya kami ke pinggir jalan buat jalan macet dan semerawut,” ujarnya.Sementara Azmi, kepala Seksi Operasional Pol PP Kapuas Hulu mengatakan, dirinya memaklumi terhadap pedagang berjualan di pinggir jalan mengingat saat ini banjir masih melanda.

"Kita harap dari pedagang setelah banjir usai, tetap kembali ke lapak mereka masing-masing. Dan selama berjualan di pinggir jalan ini tetap menjaga kebersihan dan keamanan, " ujarnya. (fik)

Editor : Indra Zakaria