Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Tanpa Arak-arakan Naga dan Barongsai, Cap Go Meh di Pontianak Akan Dirayakan Khidmat

Syahriani Siregar • 2024-02-09 11:50:39
Ilustrasi Naga
Ilustrasi Naga

 

Perayaan Tahun Baru Imlek 2575 Kongzili sudah dipastikan tidak ada arak-arakan naga dan barongsai pada Festival Cap Go Meh 2024 di Pontianak. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, perayaan tahun ini akan sepi dari pertujukan naga dan barongsai. Penjabat (Pj) Wali Kota Pontianak, Ani Sofian mengatakan, pihaknya membatasi berbagai kegiatan perayaan yang mengundang keramaian karena berdekatan dengan Pemilu 2024.

Tahun baru Imlek dan Cap Go Meh menjadi momen perayaan yang berdekatan dengan Pemilu. Perayaan Imlek dan Cap Go Meh tahun ini akan dirayakan dengan Khidmat. 

“Tidak ada arak-arakan, mereka (masyarakat Tonghoa, red) sangat menghargai pelaksanaan Pemilu. Tidak ada pesta barongsai dan naga. Jadi mereka tetap melakukan perayaan tapi tidak membuat kegiatan yang mengundang masyarakat untuk berkumpul,” ujar Ani Sofian, pada 23 Januari lalu. Ia mengatakan hal tersebut sudah berkomunikasi dengan Masyarakat Adat Budaya Tionghoa (MABT) dan juga aparat kepolisian.

Terpisah, Hendri Pangestu Lim, Ketua Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Pontianak mengatakan alasan ditiadakannya naga dan barongsai karena perayaan tersebut serentak dengan pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.

"Kita tiadakan untuk tahun ini saja, karena berkaitan dengan Pemilu, kita tahu Pemilu akan digelar pada 14 Februari 2024 nanti, lalu tidak lama Cap Go Meh pada tanggal 24 Februari, selisih 10 hari," ujarnya.

Setelah pencoblosan, ia mengatakan akan memasuki masa penghitungan suara, dan pada masa itu berbagai pihak mulai dari anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu), Polisi, TNI serta berbagai pihak lainnya.

Lebih lanjut, Hendri mengungkap Pemerintah Kota Pontianak maupun kepolisian tidak pernah melarang arak-arakan naga dan barongsai, namun karena kesadaran pihaknya dimana para petugas keamanan menjalani tugas yang berat pada masa pemilihan umum, maka diputuskanlah arak-arakan naga dan barongsai ditiadakan.

Ditiadakannya arak-arakan naga dan barongsai pada Festival Cap Go Meh tahun ini juga ditanggapi oleh Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) Kalbar yang menghasilkan bibit-bibit pemain barongsai.

Sugioto Rico, Ketua FOBI Kalbar mengatakan bahwa pesta demokrasi ini adanya hanya lima tahun sekali, jadi pihaknya harus menyukseskan Pemilu ini dengan damai, aman dan sukses.

“Ini harus kita prioritaskan demi kehidupan berbangsa dan bernegara untuk kemajuan Indonesia ke depan,” ujar Rico. Khusus Imlek dan Cap Go Meh tahun ini, pihaknya tidak mengadakan kegiatan khusus.

“Kami hanya akan melakukan atraksi ritual-ritual sembahyang di tempat-tempat ibadah (kelenteng) dalam menyambut tahun baru Imlek,” ujar Sugioto. Selain itu, Rico juga menjelaskan bahwa pada Imlek dan Cap Go Meh nanti FOBI Kalbar hanya akan bersilaturahmi ke rumah-rumah Pengprov FOBI Kalbar dan warga Tionghoa yang mengharapkan kehadiran Barongsai.

“Hari Raya Imlek dan Cap Go Meh tentu agak berbeda, karena hari raya tentu ada unsur-unsur ritual khusus yang dilakukan, yang mana dalam ritual tersebut mengundang masyarakat ramai yang diadakan setahun sekali saja. Ini lah yang biasa ditunggu masyarakat, baik itu daerah, nasional maupun internasional,” lanjutnya.

Meski arak-arakan naga dan barongsai pada Festival Cap Go Meh menjadi event yang sangat dinanti oleh banyak anggota namun FOBI Kalbar sangat menghormati anjuran tersebut.

“FOBI juga telah memberikan peringatan keras terhadap semua sasana Barongsai maupun insan Barongsai FOBI di dalam melakukan kegiatan atraksi tidak ada atribut-atribut partai dan  caleg, artinya semua murni ritual dan atraksi saja,” tutupnya. Festival Cap Go Meh biasanya dipusatkan di Jalan Diponegoro, dengan adanya festival yang mengundang keramaian tersebut tentu sangat berpengaruh terhadap warga yang memiliki usaha di area sekitar.

Salah satunya Bell Cafe yang terletak di persimpangan Jalan Diponegoro dan Jalan Tanjung Pura. Efendi (28), pengelola warkop yang menyediakan kopi dan camilan pisang srikaya ini mengatakan Festival Cap Go Meh merupakan moment berkah buatnya. Warkop yang buka dari pagi hingga malam ini bisa untung tiga kali lipat jika ada kegiatan yang dipusatkan di daerah tersebut.

Jika setiap hari libur (weekend) ia bisa menghabiskan 500 cangkir kopi, maka pada event tertentu termasuk Cap Go Meh ia bisa menjual hingga 1.500 cangkir kopi hingga tengah malam.

"Mungkin tahun ini nggak seramai tahun sebelumnya karena tidak ada keramaian arak-arakan naga dan barogsai. Mau bagaimana lagi kalau sudah itu aturannya. Saya dukung apapun yang terbaik. Tidak masalah jika ditiadakan,” ujarnya.

Komariah (57), pedagang sate yang yang bersebelahan dengan Bell Cafe juga bisa meraup keuntungan berlipat ganda jika ada Festival Cap Go Meh. Pemilik Warung Sate Ayam Sunda Rasa ini bisa meraup untung dua kali lipat dari hari biasa. “Saya biasa buka dari pagi hingga siang saja, banyak juga pengunjung yang datang tiap tahunnya saat mereka melihat atraksi barongsai,” ungkap Komariah.

Namun, Komariah tetap tersenyum karena berkah Imlek sudah dirasakannya sejak beberapa hari lalu. Pesanan sate ayamnya laris manis menjelang Imlek. Sekitar enam ribu tusuk sate telah dipesan menjelang makan besar di malam perayaan Imlek nanti. Ia pun masih membuka pesanan hingga satu hari sebelum Imlek. (sya)

 
Editor : Indra Zakaria
#imlek #cap go meh #pontianak