Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Menyesap Cita Rasa Hulu: Kerupuk Basah, Warisan Kuliner Ikan Sungai Kapuas yang Tak Lekang Zaman

Redaksi Prokal • 2026-02-09 13:00:00
Ilustrasi kerupuk basah, makanan khas Kapuas Hulu. (GEMINI AI)
Ilustrasi kerupuk basah, makanan khas Kapuas Hulu. (GEMINI AI)

 

PUTUSSIBAU – Di sepanjang aliran Sungai Kapuas yang membelah pedalaman Kalimantan Barat, tersembunyi sebuah kekayaan kuliner yang menjadi simbol identitas masyarakat Kapuas Hulu. Kerupuk basah, atau yang secara lokal akrab disapa temet, bukan sekadar kudapan biasa, melainkan warisan rasa yang terus dijaga kelestariannya sebagai bagian tak terpisahkan dari denyut nadi kehidupan warga di Kota Putussibau.

Berbeda dengan kerupuk pada umumnya yang identik dengan tekstur garing dan renyah, kerupuk basah justru menawarkan sensasi tekstur yang legit, lembut, dan kenyal. Secara visual, penganan ini kerap mengingatkan wisatawan pada pempek khas Palembang, namun temet memiliki ciri khas bentuk lonjong memanjang yang bisa mencapai 25 sentimeter. Bentuk sederhana ini telah menjadi identitas kuat yang membedakannya dari jenis kuliner berbasis tepung ikan lainnya di Nusantara.

Kunci kelezatan kerupuk basah terletak pada penggunaan bahan baku ikan air tawar segar hasil tangkapan dari Sungai Kapuas. Ikan toman dan ikan belida menjadi dua varian yang paling dicari oleh penikmat kuliner. Kedua jenis ikan ini dipilih karena karakteristik dagingnya yang padat dan cita rasanya yang gurih alami, sehingga memberikan tekstur kenyal yang pas ketika berpadu dengan olahan tepung dan bumbu rahasia setempat.

Kearifan lokal masyarakat Kapuas Hulu tercermin jelas dalam sajian ini, di mana hasil alam sungai diolah menjadi produk kuliner yang memiliki nilai ekonomi dan budaya tinggi. Bagi siapa pun yang berkunjung ke wilayah hulu Kalimantan Barat, mencicipi kerupuk basah adalah sebuah kewajiban untuk memahami kedalaman makna dibalik kuliner tradisional yang terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai kebanggaan masyarakat Putussibau.(*)

Editor : Indra Zakaria