BANJARMASIN – Atmosfer politik menjelang pemilihan Wali Kota Banjarmasin terasa masih adem ayem. Tak banyak isu yang mencuat seputar siapa bakal calon yang akan berlaga dalam kontestasi pilwali.
Selain nama Ibnu Sina, Karmila, dan Ananda, publik tak banyak diberi pilihan untuk menentukan calon yang dinilai lebih layak. Lantas, siapakah sekiranya yang memang pantas memimpin Banjarmasin?
Membangun Kota Banjarmasin yang usianya boleh dikatakan sudah uzur, diperlukan sosok pemimpin yang memang betul-betul memahami problematik kota ini. Terlebih, Banjarmasin sendiri akan menjadi salah satu daerah penyangga ibu kota negara yang notabene harus betul-betul siap dari segala aspek.
Tentu, untuk menyiapkan kota ini menjadi lebih maju dan bermanfaat sebagai penyangga ibu kota, memerlukan seorang pemimpin yang tak hanya pandai berpolitik. Tetapi harus juga memiliki visi yang memadukan konsep pembangunan yang berbasis lingkungan dengan tetap mendorong pertumbungan ekonomi yang mengandalkan jasa dan perdagangan.
Dua sektor ini sendiri merupakan sektor andalan Banjarmasin. Maklum, di kota ini tak ada sumber daya alam seperti batu bara yang dimilik daerah lain. Pakar tata kota, Nanda Febryan Pratamajaya berpendapat, untuk menata Banjarmasin sebagai kota tua diperlukan calon pemimpin yang memiliki kompetensi keilmuan soal ini. Seperti ilmu pemerintahan dan perencanaan wilayah.
Dengan modal ini, dia akan menguasai betul apa yang akan dilakukan untuk kota ini. Belum lagi sebutnya, Banjarmasin akan menjadi penyangga ibu kota negara, sehingga harus dipikirkan secara serius. “Jangan sampai dia (pemimpin) nantinya ngeblank dengan persoalan kota. Atau tak paham sama sekali,” ujar jebolan Universitas Brawijaya (UB) Malang itu.
Selain itu, yang paling penting sebutnya, calon pemimpin Banjarmasin memiliki jaringan dan koneksi dengan pemerintah pusat. Dengan memiliki koneksi ini, maka untuk membangun kota lebih mudah. Terutama soal suntikan anggaran dari APBN.
“Visoner saja belum cukup jika tak ditopang dengan dana. Bagaimana program akan jalan jika tak ada modal. Ini juga yang harus dimiliki pemimpin kota,” sebut Ketua Ikatan Nasional Tenaga Ahli Konsultan Kalsel tersebut.
Calon wali kota nanti menurutnya, harus ingat dengan visi Kota Banjarmasin sebagai kota seribu sungai yang nyaman, aman dan menarik. Dengan visi tersebut, calon wali kota bisa memajukan kegiatan parisiwata, sosial, perdagangan, dan jasa. Di visi ini sebutnya, masih banyak persoalan yang harus dibereskan.
Berbicara nyaman, tentu soal keamanan dan kebersihan. Sementara soal kebersihan yang ditangani pemko langsung, sampah masih menjadi problem. Tak hanya di daratan, juga sungai-sungainya.
“Kebersihan ini yang utama. Orang tak mau datang ke sini jika tak merasa nyaman. Bagaimana mau tumbuh pariwisata, perdagangan, dan jasa, jika orang tak mau ke sini. Ini yang perlu dipikirkan oleh calon pemimpin nanti,” paparnya.
Di sisi ekonomi, akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis ULM, Arif Budiman lebih menekankan, agar pemimpin Banjarmasin nanti harus memahami kualitas output SDM Banjarmasin. Terlebih nantinya sebagai penopang ibu kota negara.
“Jangan sampai SDM Banjarmasin kalah bersaing dengan pendatang dari luar. Bisa tidak terserap di pasar kerja. Ini yang harus menjadi catatan penting pemimpin baru,” ujarnya.
---
Diingatkannya, Banjarmasin sebagai pintu masuk perdagangan memerlukan pemimpin yang bisa berinovasi di sektor lain. “Kandidat harus punya analisis ke sana. Sektor mana yang akan menjadi andalan Banjarmasin,” sebut Arif.
Yang paling penting, pemimpin nanti harus bisa menghidupkan sektor ekonomi berkelanjutan. Seperti menyiapkan sarana tempat pelaksanaan meeting yang tujuannya orang lebih sering dan lama di Banjarmasin.
“Di Banjarmasin, sektor wisata alam masih minim. Namun, wisata lain bisa dikembangkan lebih dominan,” terangnya.
Dia berharap, calon pemimpin nanti bisa dilihat oleh masyarakat siapa yang bervisi bagus untuk Banjarmasin sebagai penyangga ibu kota negara. “Jangan sampai pemimpin nanti tak punya gambaran peluang yang bisa diambil dari penyangga ibu kota negara,” tandasnya.
Lebih tegas disuarakan pengamat sosial dan politik ULM, Gazali Rahman. Menurutnya, calon pemimpin Banjarmasin nanti harus berkaca dulu dengan dirinya sendiri, apakah memang benar-benar mampu membuat kota ini semakin maju.
Figur ke depan yang diperlukan Banjarmasin sebutnya, tak hanya bisa membangun kota ini saja. Tetapi mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki Banjarmasin. “Kalau yang mau jadi wali kota, sangat banyak. Tapi apakah mampu. Ini yang harus diperhatikan masyarakat,” ucapnya.
Dia berharap para calon nanti sudah benar-benar disaring, agar pemilih diberikan orang yang memang memiliki kapabilitas. Jangan sampai, pemilih nanti disodorkan tanpa disaring betul-betul dan disuruh memilih.
“Partai politik dan para tokoh juga wajib bercermin dengan figur saat ini agar bisa menyaringnya. Jangan sampai nantinya persoalan kota yang harusnya terurai, malah semakin menumpuk,” pesannya.
Salah satu realita ke depan, Banjarmasin yang akan menjadi penyangga ibu kota negara, akan menjelma sebagai kota besar yang nyaman dan memiliki persoalan sosial yang minim. “Kalau figur nanti tak menyiapkan ke sana, maka percuma saja. Itu belum melihat kemampuan dia,” kata Gazali.
Dia menganalogikan, Banjarmasin ini seperti sebuah bahan makanan yang bisa dimasak dengan enak ketika bertetangga langsung dengan ibu kota negara. Namun, jika kokinya tak bisa, makanan tersebut akan percuma. “Jangan sampai pemimpin nanti malu-maluin saja,” pungkasnya.
---
Melihat nama-nama yang saat ini tengah mencuat, sepertinya tak banyak bakal calon yang memiliki kompetensi tersebut. Nama Fajar pun mencuat sebagai calon dari birokrat yang dinilai lebih mumpuni untuk membawa Banjarmasin lebih baik.
Maklum, Fajar boleh dikatakan mengotaki kota ini sejak lama. Selain pernah menjabat Kepala Bappeda Kota Banjarmasin, dia juga pernah menjabat sebagai Kepala Dinas PUPR Banjarmasin sebelum hijrah ke Pemprov Kalsel.
Kandidat lain, petahana Ibnu Sina, meski tak berlatar seperti Fajar, lima tahun kepemimpinannya terlihat mampu memanajerial pembangunan kota. Terobosan-terobasan pembangunan tak kalah dibuktikan Ibnu.
Salah satu yang paling krusial adalah, dia menekan pengurangan sampah plastik dengan mengeluarkan kebijakan tanpa kantong plastik di ritel bahkan di pasar tradisonal. Bagaimana dengan Ananda yang saat ini masif berpromosi? Mantan Ketua DPRD Banjarmasin itu juga memiliki modal wawasan yang tak kalah dengan kandidat lain.
Nama lain, Karmila yang juga digadang maju. Boleh dikatakan belum memiliki pengalaman yang mumpuni soal kota. Meski demikian, berkaca saat Ayahnya, Muhidin, memimpin Banjarmasin yang tak memiliki pengalaman, bisa jadi ia mengikuti jejak sang Ayah.
Toh Kota Banjarmasin perkembangannya pesat. Salah satunya di sektor infrastruktur. Melihat nama-nama yang mencuat saat ini, tinggal pemilih yang menilai siapa yang layak memimpin kota.
---
Fajar sendiri sudah siap lahir batin jika dirinya dilamar partai politik untuk maju di Pilwali Banjarmasin. Bahkan, dia sudah siap melepas jabatan saat ini. “Secara mental sudah siap. Biarkan proses politik berjalan, saya pun saat ini tengah konsen dan fokus menjalankan amanah yang saat ini diemban sebagai Kepala Bappeda Kalsel,” ujar Fajar.
Sementara, calon petahana, Ibnu Sina terus membangun komunikasi politik seperti dengan Gerindra, Demokrat dan PKB termasuk dengan Ketua DPW PAN Kalsel, H Muhidin. “Politik itu dinamis, sangat dinamis sekali. Sampai saat ini proses pencalonan masih berjalan, termasuk komunikasi dengan parpol,” ujarnya.
Figur lain, Ananda, dia saat ini juga masih menunggu keputusan Partai Golkar. Apakah dirinya akan diusung atau tidak, Ananda hanya bisa menunggu. Mantan Putri Indonesia ini bahkan tak beramibisi menjadi wali kota, dia hanya ingin maju menjadi wakilnya saja. Beberapa partai sudah dilamarnya.
Namun, keputusan untuk dipinang belum dikantonginya. Bahkan partainya sendiri memilik figur lain yang juga ingin menjadi wakil, yakni Yuni Abdi Nur Sulaiman, anak Alm H Sulaiman HB. “Saya manut terhadap keputusan partai. Tunggu saja, saat ini masih berproses,” ujar Nanda. (mof/ema)
Editor : berry-Beri Mardiansyah