Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Gowes Mewabah, Bengkel Sepeda Banjir Berkah

miminradar-Radar Banjarmasin • 2020-07-10 12:02:50
KECIPRATAN TREN: Supar, mekanik di bengkel Sepeda Demet 064 di Jalan Kebun Karet mengerjakan perbaikan salah satu unit sepeda milik konsumennya. Selama tren sepeda ramai, bengkel sepeda di Banjarbaru juga kebanjiran orderan. | FOTO: MUHAMMAD RIFANI/RADAR
KECIPRATAN TREN: Supar, mekanik di bengkel Sepeda Demet 064 di Jalan Kebun Karet mengerjakan perbaikan salah satu unit sepeda milik konsumennya. Selama tren sepeda ramai, bengkel sepeda di Banjarbaru juga kebanjiran orderan. | FOTO: MUHAMMAD RIFANI/RADAR

Di tengah pagebluk Covid-19, fenomena bersepeda di Banjarbaru ikut mewabah. Hampir setiap sore, khususnya akhir pekan, lapangan Murjani dipadati pesepeda. Fenomena ini rupanya membuat bengkel sepeda banjir permintaan. 

-- Foto: Muhammad Rifani, Banjarbaru --

Selama pagebluk. Supar, mekanik bengkel Sepeda Demet 064 di Jalan Kebun Karet Banjarbaru ini dominan melayani pesepeda langganan. Mereka kebanyakan pencinta sepeda model MTB (Mountain Trail Bike) atau Sepeda Gunung.

Namun, selama dua pekan terakhir, pria berusia 54 tahun mulai banjir permintaan. Tak hanya langganannya di jejaring komunitas penggiat MTB, kini ia mulai ramai diserbu pesepeda jenis Folding Bike (Sepeda Lipat).

Ya, fenomena tren sepeda ini kata Supar begitu berdampak. Dalam sehari, ia mengalami lonjakan hingga 100 persen. "Kalau normal biasanya 10 unit sehari, sekarang bisa lebih dari 20 unit."

Supar melakoni bisnis bengkel sepeda sejak 30 tahun silam. Keahliannya memperbaiki hingga merestorasi sepeda diwarisinya dari sang ayah. Ia mulai ngulik sepeda dari usia 8 tahun.

Soal fenomena, Supar mengaku bersyukur. Sebab, ketika pagebluk datang hingga ada kebijakan PSBB. Peminatnya mengalami penurunan. Kalaupun ada, menurutnya itu hanya karena langganan.

"Alhamdulillah lebih ramai. Tapi saya juga membatasi, pokoknya satu hari rampung. Jadi estimasi hanya 20-25 unit sehari saja, saya tidak sanggup kalau kebanyakan karena sendiri saja mengerjakannya," ceritanya.

Dewasa ini, selain MTB, pengguna sepeda lipat katanya mulai banyak masuk. Kebanyakan kata Supar mereka minta diperbaiki atau disempurnakan dari perpindahan gearnya. Ia sendiri jarang menemui kerusakan berat.

"Kebanyakan seputar gear. Biar lebih halus, atau juga masalah pengeremannya. Tapi kalau kawan-kawan pengguna MTB yang sudah lama ngantar ke sini beda lagi servisnya, malah banyak yang restorasi," ujarnya.

Untuk besaran tarif, Supar mematok dari yang terendah; 10 ribu. Itu sebutnya kalau perbaikan ringan. Jika lumayan berat, ia mematok termahal hingga 100 ribu rupiah.

Lalu apakah harus menggunakan pola reservasi dulu jika ada pesepeda ingin menyervis sepedanya? Ayah dua anak ini mengatakan sebenarnya hal tersebut tentatif.

"Kalau ada yang datang dan saya lihat kerusakannya masih ringan bisa langsung dikerjakan dan ditunggu. Tapi kalau berat, saya biasanya mengerjakan 2 hingga 3 jam," tuntasnya.

Beralih ke bengkel sepeda di kawasan Trikora. Di kawasan ini juga mengalami lonjakan permintaan. Salah satunya adalah Ibat. Mekanik sepeda ini mulai banjir orderan sekitar dua pekan terakhir.

"Mulai ramai akhir-akhir ini. Kalau sebelumnya sewaktu virus Corona sepi, karena kan orang di rumah saja. Sekarang sampai melayani belasan sepeda, kalau dulu paling lima unit," kata Ibat.

Sama halnya dengan Supar, Ibat mengaku juga sering mendapat orderan dari pesepeda baru. Jenisnya pun sebutnya kebanyakan jenis sepeda lipat. "Perbaikannya masalah rem sih kebanyakan."

Agak berbeda dengan Supar, untuk mengantisipasi lonjakan permintaan. Ibat kadang harus meminta bantuan rekannya untuk membantu perbaikan. Namun katanya khusus yang masalah ringan-ringan saja.

"Tapi belum terlalu melonjak yang gimana-gimana, cuman sekali saja kemarin minta bantuan kawan. Tapi saya lihat sepertinya (tren) sepeda ini bakal tetap ramai," syukur pria berusia 48 tahun ini. (bin/ema)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#sport sepeda #Feature Inspirasi