BATULICIN - Di awal musim kemarau, hujan justru turun deras dan membuat air Sungai Satui meluap. Dampaknya ratusan rumah di sejumlah desa di Tanah Bumbu dan Tanah Laut terendam banjir sejak kemarin pagi.
Di Tanbu, kecamatan yang terendam adalah di Satui. Kepala Pelaksana BPBD Tanbu Eryanto Rais mengatakan sejak Rabu (2/8), sore sekitar pukul 17.00 Wita, pihaknya sudah melakukan pengecekan warga terdampak banjir. Diketahui ratusan rumah dan ribuan jiwa terkena dampak.
“Total yang terdampak 917 KK dengan 3266 jiwa. Hingga sore ini belum ada warga yang mengungsi. Sementara lahan pertanian di Desa Sungai Danau yang terdampak banjir seluas 155 hektar,” jelas Eryanto.
Eryanto menambahkan, pihaknya menyediakan tempat pengungsian bagi warga Desa Sinar Bulan di SMPN 4 Satui. Sementara Desa Sejahtera Mulia mendirikan dapur umum untuk keperluan bantuan pangan kepada masyarakat yang terdampak.
“Untuk lokasi banjir di Desa Sungai Danau sementara masyarakat belum ada yang mengungsi dan bertahan di rumah masing-masing,” papar Eryanto.
Hingga kemarin sore ketinggian debit air meninggi masih 2-3 meter dan diprediksi akan terus meningkat mengingat cuaca masih mendung di wilayah Kecamatan Satui.
“Personel Polri dan TNI yang berada di lapangan juga mengimbau kepada masyarakat yang terdampak untuk tetap waspada kalau sewaktu-waktu air kembali meninggi, dan berhati-hati menjaga harta benda yang ditinggalkan,” kata Eryanto.
Banjir juga mengakibatkan jalan propinsi di Kecamatan Angsana ikut terendam air. Arus lalu lintas sedikit macet. Untungnya, anggota TNI dan Polri siaga di lapangan untuk membantu mengurai arus lalu lintas.
Sementara itu, daerah tetangganya di Kintap Tanah Laut juga ikut diterjang banjir, Kamis (3/9). Ada 752 rumah dengan 848 kepala keluarga yang terdampak di lima desa dari 14 desa di Kecamatan Kintap.
Saat dikonfirmasi Sekcam Kintap Wisnu Kuntarto membenarkan adanya pemukiman warga di beberapa desa Kecamatan Kintap kembali diterjang banjir.
"Curah hujan tinggi, rumah di kawasan daerah aliran sungai menjadi langganan banjir," ucapnya
Pihaknya masih melakukan pendataan dan memantau langsung kondisi air. Banjir tidak saja dialami di kawasan hilir saja, namun daerah hulu juga diterjang banjir seperti Desa Salaman dan Desa Riam Adungan.
________
Hujan karena Gangguan Atmosfer
Di tengah musim kemarau, hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi kembali mengguyur sejumlah wilayah di Kalsel. Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas II Syamsudin Noor, Uli Mahanani menjelaskan hujan terjadi karena adanya gangguan atmosfer.
"Benar memang Kalsel sudah musim kemarau, tapi bukan berarti tidak ada hujan. Dalam dua hari terakhir hujan di wilayah Kalsel terjadi dikarenakan adanya gangguan atmosfer di sekitar Indonesia," jelasnya kepada Radar Banjarmasin, kemarin.
Dia mengungkapkan, gangguan atmosfer muncul salah satunya dipengaruhi oleh fenomena aliran udara basah atau Madden Julian Oscillation (MJO) yang memasuki wilayah Indonesia bagian Barat. "Adanya MJO berkontribusi terhadap proses pembentukan awan hujan," ungkapnya.
Di samping itu, dia menyebut, gangguan atmosfer juga dipicu adanya sirkulasi Eddy atau sirkulasi tertutup di wilayah Kalimantan Barat. Fenomena ini menyebabkan terbentuknya daerah konvergensi (pertemuan massa udara) di wilayah Kalsel, sehingga pertumbuhan awan konvektif penyebab awan hujan meningkat. "Terutama di Kalsel bagian Timur dan Selatan," sebutnya.
Stasiun Meteorologi Kelas II Syamsudin Noor memperkirakan, hujan masih berpotensi mengguyur beberapa wilayah di Banua hingga 3 hari ke depan. "Terutama di wilayah Tabalong, Balangan, Hulu Sungai Tengah, Tanah Bumbu, Kotabaru, Tanah Laut dan sekitarnya," beber Uli Mahanani.
Secara terpisah, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan pada BPBD Kalsel, Sahruddin menyampaikan, dengan turunnya hujan membuat titik api di Kalsel menurun. "Tapi kita harus tetap waspada, karena tidak semua daerah diguyur hujan," ucapnya.
Rabu (2/9) tadi misalnya, ketika sejumlah wilayah di Banjarbaru dan sekitarnya diguyur hujan, ternyata di daerah Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah masih terpantau panas. Sehingga, beberapa titik api muncul di sana.
"Heli Water Bombing memadamkan api sampai sore di daerah Hulu Sungai. Seperti di Tapin Selatan, Daha Barat, Daha Utara dan Kadangan," ujar Sahruddin.
Maka dari itu, dia menuturkan, meski intensitas hujan cukup tinggi, pihaknya masih tetap waspada dan selalu menyiagakan heli water bombing. "Siaga tetap dilakukan sampai status siaga berakhir pada 30 November 2020," tuturnya.
Dikatakan Sahruddin, saat ini sudah ada lima heli water bombing dan dua heli patroli yang beroperasi di Kalsel. "Kita masih menunggu kedatangan tiga heli water bombing lagi," pungkasnya. (kry/ard/ris/ran/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin