Dalam pameran bertajuk Membaca Misbach, dipajang 23 lukisan di Sanggar Seni Sholihin di Taman Budaya Kalsel. Karya seni rupa yang ditampilkan memuat kenangan, pemikiran, dan perjalanan seorang Misbach Tamrin.
-- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin --
BAGI pengunjung, wajib mengenakan masker. Pameran akan dibuka sampai akhir bulan, 28 November nanti.
Dari 23 lukisan, empat di antaranya karya Misbach. Dipajang khusus di dinding berwarna merah. Berjudul 'Save Meratus 1', 'Save Meratus 2', 'Kota Terapung' dan 'Normal Baru'. Keempat lukisan itu bergaya realis.
Sementara 19 lukisan karya perupa Kalsel lainnya dipamerkan di sisi dinding berkelir putih. Sembilan lukisan memuat sosok Misbach. Dengan pose dan aliran lukisan bervariatif. Paling mencolok adalah karya M Zaini dan Muslim Anang Abdullah.
Dalam karya Zaini, Misbach dilukis bersama kelima kawannya. Mereka sedang menaiki mobil jip. Pada leher Misbach menggantung kalung bunga. Lukisan itu diberi judul 'Bersama Sang Maestro'.
Sedangkan dalam karya Muslim, Misbach dilukis berdua dengan sahabat karibnya, Djoko Pekik. Perupa yang lahir di Jawa Tengah.
Keduanya saling merangkul dan tersenyum. Berdiri di atas aliran kawah. Dalam tebaran kalimat yang pernah diungkapkan Misbach. Di samping kiri dan kanan, empat merpati terbang membawa kuas lukis.
Muslim mengaku mendapat inspirasi dari sebuah foto yang ia lihat di media sosial.
"Awalnya saya ingin melukis beliau dengan gaya surealisme. Tapi belakangan, Pak Misbach menyebutnya sebagai karya bergaya romantisisme," tuturnya kepada penulis, kemarin (24/11) siang di lokasi pameran.
Kurator pameran, Hajriansyah dalam catatan di katalog pameran menjelaskan, Misbach adalah teladan. Pelecut semangat kawula perupa Banua.
Sebab, dalam diri Misbach, sampai hari ini pengabdiannya terhadap seni lukis terus menyala. Harus dihargai dan ditiru oleh yang lebih muda.
"Dari karya Save Meratus, kita dapat menyelami kenangan dan pandangan Misbach tentang daerahnya. Padanya, ada kecemasan sekaligus kepedulian," tulisnya.
"Ia mengikuti wacana-wacana lingkungan daerahnya. Tentu ia mengalami pula perubahan lingkungan di sekitarnya," tambahnya.
Paling up to date, tentu lukisan berjudul 'Normal Baru'. Menggambarkan sesosok lelaki mengenakan masker. Di telapak tangannya ada lambang garuda. Di sebelah kiri ada simbol virus corona. Sementara di sebelah kanan, ada pabrik dengan asap mengepul.
Lantas, bagaimana perupa lain memandang Misbach? Menurut salah seorang peserta pameran, M Syahriel M Noor, Misbach tak pernah pelit ilmu. Nyaman diminta masukan.
Bahkan, Misbach sudah seperti bapak bagi perupa muda. "Beliau yang menyemangati perupa atau seniman untuk terus berkarya. Termasuk, ketika saya mulai menuangkan karya sketsa digital. Ia bilang jangan berhenti, teruskan saja," kisahnya.
Menolak Jalan Buntu
Berbicara tentang gelaran pameran bertajuk 'Membaca Misbach', Kepala UPTD Taman Budaya Kalsel, Suharyanti menyampaikan apresiasinya.
Di matanya, Misbach Tamrin adalah menjadi sosok penggerak seni rupa di Kalsel.
Terlebih pada masa pandemi, segalanya serba dibatasi. Seniman juga turut merasakan dampaknya. Namun, dalam diri seorang Misbach, dia seakan tak menemui kebuntuan.
"Artinya, bakal ada banyak karya baru yang dihasilkannya," bebernya, kemarin (24/11).
Kalimat yang diutarakan Misbach pada saat pembukaan pameran, 21 November lalu, juga masih terngiang-ngiang dalam benak Suharyanti.
"Kata beliau, seperti apapun keadaannya, teruslah berkarya! Saya pikir ini oase. Saya merasa lega mendengarnya," tuturnya.
Dia menjamin, fasilitas seni dan budaya milik Pemprov Kalsel di Jalan Hasan Basry itu akan terus mendukung pameran-pameran seni rupa. Terutama karya perupa lokal. (war/fud/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin