BANJARMASIN - Tewasnya dua bocah kakak beradik di Jalan Sapta Marga, Banjarbaru: M Syahril F (13) dan M Revaldi A (9), akibat sambaran petir.
Serta, rusaknya sejumlah rumah di beberapa daerah karena angin kencang, Senin (28/1) tadi. Menjadi pertanda bahwa masyarakat harus waspada dengan kondisi cuaca saat ini.
Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Syamsudin Noor, cuaca ekstrem setidaknya akan terjadi hingga bulan depan. Lantaran, dinamika atmosfer di wilayah Kalimantan Selatan.
"Salah satu dinamika atmosfer yang terjadi ialah adanya belokan angin yang mendukung pertumbuhan awan-awan hujan dan kumulonimbus di Kalsel. Selain itu, kondisi kelembapan udara di atmosfer juga masih cukup basah," kata Riza Arian Noor selaku Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas II Syamsudin Noor, kemarin.
Dijelaskannya, terbentuknya awan hujan dan kumulonimbus itulah yang mengakibatkan cuaca di Banua menjadi tak bersahabat.
"Yang paling berbahaya kumulonimbus, karena sumber utama petir dari sana. Kemungkinan kondisi seperti ini bakal terjadi hingga Februari," jelasnya.
Untuk itu, dia mengimbau supaya masyarakat waspada terhadap dampak dari cuaca buruk saat ini. Seperti, petir, angin kencang dan hujan lebat.
"Kalau untuk petir usahakan jangan berteduh di bawah pohon, karena sifat petir melepaskan muatan listriknya ke tempat yang tinggi," imbaunya.
Selain itu, saat hujan deras disertai petir. Masyarakat diminta tidak bermain ponsel. Sebab, gelombang dari elektromagnetik bisa menimbulkan induksi dari sambaran petir.
"Induksi sambaran petir ini sangat berbahaya. Kita bisa terkena walaupun sedang di dalam rumah, ketika petir menyambar rumah," ujar pria yang akrab disapa Riza ini.
Dia juga mengimbau agar masyarakat menjauh dari daerah terbuka atau lapang. Ketika kumulonimbus tepat berada di atas wilayah tersebut.
"Awan seperti ini biasanya berwarna hitam. Jadi, kalau ada awan hitam menjauh dari tempat terbuka, jangan main HP dan berteduh di bawah pohon," ungkapnya.
Sementara itu, terkait kondisi Banua akibat cuaca ekstrem akhir-akhir ini, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel Wahyuddin menyebut bahwa sampai sekarang beberapa daerah yang dianggap rawan masih dalam kondisi aman.
"Untuk sementara ini hanya Balangan yang airnya mulai naik. Kalau intensitas hujan masih tinggi, maka dikhawatirkan akan banjir," ungkapnya.
Meski begitu, dia menyampaikan bahwa pihaknya akan terus bersiaga. Karena, Kalsel sudah menetapkan status siaga bencana sejak 1 Januari hingga 30 April 2019.
"Masyarakat juga harus waspada. Sebab, potensi hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang mengintai sejumlah wilayah," ucapnya.
Untuk mengantisipasi sewaktu-waktu terjadi bencana, pria yang akrab disapa Ujud ini menuturkan bahwa BPBD Kalsel terus melakukan pemantauan dan monitoring situasi serta kondisi wilayah di semua kabupaten/kota.
"Anggota juga rutin melakukan kegiatan perekapan data dan pelaporan bencana. Serta, pengecekan peralatan radio komunikasi dan pengoperasian call center BPBD Kalsel supaya mudah dihubungi masyarakat," tuturnya.
Secara terpisah, Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Banjarbaru, Goeroeh Tjiptanto menjelaskan, tingginya curah hujan dikarenakan bulan ini diprakirakan sedang berada di puncak musim hujan.
"Secara keseluruhan puncak hujan terjadi pada Desember 2018 sampai Januari 2019," jelasnya. (ris/ay/ran)
Editor : aqsha-Aqsha Radar Banjarmasin