Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Tak Ada Kampus Yang Steril Dari Narkotika

aqsha-Aqsha Radar Banjarmasin • Kamis, 14 Februari 2019 - 18:57 WIB

BANJARMASIN - Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI, Komjen Pol Heru Winarko mengisi kuliah umum di Universitas Lambung Mangkurat (ULM), kemarin (13/2) pagi.

Dia mengingatkan, mahasiswa dan kampus kini menjadi pasar yang menggiurkan bagi para bandar.

"Makanya saya jadi rajin mendatangi kampus-kampus. Muncul pergeseran tren. Pengedar mulai beralih. Dari semula menjual ke kaum pekerja, sekarang menawarkan pada mahasiswa," ujarnya.

Bagi Heru, klaim kampus bebas narkoba terdengar menggelikan. "Tak ada kampus yang bisa luput," tegasnya.

Terbukti dari tes urin yang digelar pada penerimaan mahasiswa baru. Selalu saja ada hasil positif.

Namun, Heru mengakui tak ada data yang bisa dipublikasikan kepada pembaca. Mengingat hasil tes urin mahasiswa hanya untuk diketahui internal kampus. Guna menyusun langkah penanganan lanjutan.

Dari pengamatan BNN, lazimnya narkoba masuk melalui lingkungan kos-kosan. Heru berpikir, kampus mestinya memiliki asrama. Penginapan tersendiri yang mudah diawasi.

BNN juga terus menawarkan modul-modul materi anti narkoba ke kampus-kampus. Siapa tahu bisa diadopsi dalam mata kuliah yang dipegang para dosen.

Heru kemudian memberikan tantangan. Menerjemahkan tri dharma perguruan tinggi disertai ruh pemberantasan peredaran narkoba. Dia menyebutkan, BNN telah mendeteksi 36 titik yang terpapar narkoba di Kalsel.

"Puluhan titik ini wujudnya seperti gang dan kampung. Sebagian sudah terpapar berat. Nah, mengapa pengabdian mahasiswa di masyarakat tidak diarahkan kesana? Ini tantangan dari saya. Mahasiswa berani enggak memasukinya," jelasnya.

Mengutip data 2018, Kalsel menduduki peringkat lima nasional untuk peredaran narkoba. Indeks pengguna narkoba nasional menyentuh angka 1,77 persen. Sedangkan Kalsel sudah melampauinya dengan angka 1,97 persen.

Meski tinggi, Heru masih meyakini peredaran narkoba di sini masih bisa dikendalikan. Dalam artian bisa diawasi, diungkap, dan ditangkap.

"Kebanyakan pasokan Kalsel masuk dari Nunukan dan Balikpapan. Lewat laut dan udara. Jadi, bagaimana caranya memotong pasokan dari Kaltim dan Kaltara ini," pungkasnya.

Sementara itu, Rektor ULM, Prof Sutarto Hadi menyimpulkan, peredaran narkoba di Kalsel sudah amat mengkhawatirkan.

"Ini bisnis yang menggiurkan dan berbahaya," kecamnya.

Lalu, bagaimana ULM menghadapinya? Pertama, tes urin pada penerimaan mahasiswa baru. Jika positif, pasti ditolak.

"Bukan berarti kampus kami diskriminatif. Tapi saya harus memagari mahasiswa yang masih bersih agar tak tertular," ujarnya.

Jika penggunaan atau kecanduan terjadi setelah terlanjur menjadi mahasiswa, ceritanya bakal berbeda. Secara berkala, bakal ada tes urin bagi mahasiswa yang dicurigai. "Kalau positif, maka harus direhab," imbuhnya.

Sutarto mengamini pernyataan Heru. Apalagi, Sutarto juga menjabat sebagai Wakil Ketua Aliansi Relawan Perguruan Tinggi Anti Penyalahgunaan Narkoba (Artipena).

"Kalau disebut 36 kampung terpapar, bayangkan, artinya di sana ada satu keluarga semuanya memakai," tukasnya.

Secara pribadi, Sutarto menyebut kunjungan Heru sebagai sejarah. Kuliah umum ULM belum pernah diisi seorang Kepala BNN RI. Apalagi digelar di gedung baru. Lecturer and Theater Building ULM yang baru saja rampung dibangun. (fud/ay/ran)

Editor : aqsha-Aqsha Radar Banjarmasin
#Banua Pendidikan