Namanya Anita Zulrakhmida Fajriani. Panggilan akrabnya Anita. Dia peserta program Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) 2018/2019 dari Kalimantan Selatan. Dua bulan di Australia, banyak kisah dibawanya pulang ke banua.
JAMALUDDIN, Banjarmasin
Oh iya, untuk yang belum tau apa sih PPAN itu? PPAN merupakan progam tahunan hasil kerja sama antara Pemerintah Indonesia dengan negara-negara sahabat sejak tahun 1973. Ini sebagai bentuk peduli pemerintah terhadap generasi muda Indonesia untuk memperluas pengetahuan dan wawasan.
Program ini berada di bawah naungan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dengan mengirim duta muda terbaik Indonesia di berbagai program pertukaran.
Pada tingkat Provinsi. Pengelolaan administrasi program pertukaran tersebut secara resmi ditangani oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) masing-masing provinsi. Bekerjasama dengan Purna Caraka Muda Indonesia sebagai organisasi perhimpunan alumni PPAN.
Biasanya proses seleksi PPAN yang dilakukan PCMI diberbagai Provinsi dimulai sekitar bulan Maret dan April setiap tahunnya. Beberapa syarat pun harus dimiliki oleh peserta seleksi. Paling penting fasih berbahasa Inggris, memiliki pengetahuan tentang dunia internasional, nasional dan daerah, memiliki kegiatan pengembangan masyarakat, serta bisa menampilkan kebudayaan khas daerahnya.
Anita adalah satu di antara peserta yang lolos seleksi PPAN yang dilaksanakan oleh Purna Caraka Muda Indonesia (PCMI) Provinsi Kalimantan Selatan untuk Australia Indonesia Youth Exchange Program 2018/2019. Selama dua bulan, pada Oktober-November 2018 silam, ia pun merasakan bekerja dan hidup berbaur dengan warga Australia, di Kota Bendigo dan Melbourne.
“Pertama di Kota Bendigo, bergabung di The City of Greater Bendigo (Kantor Pemerintah Kota Bendigo) bagian Youth Team. Saya ditugaskan membantu projek di multicultural team untuk membuat Kota Bendigo lebih inklusif bagi pengungsi,” jawab wanita asal Tanjung itu.
Bekerja di Kantor Pemerintahan Bendigo, Anita melihat bagaimana Pemkot setempat melibatkan anak muda dalam setiap kegiatan. “Bahkan saat saya di sana, mereka sedang mengerjakan project Youth Council, semacam dewan pemuda yang mewakili suara anak muda, dalam keputusan yang akan dikeluarkan pemerintah,” ungkapnya.
Selain belajar tentang Australia dari tempatnya bekerja, Anita yang aktif mengajar Bahasa Inggris di English Instructor PT Trakindo Southern Kalimantan ini juga punya banyak kenangan dengan Katrina, keluarga angkatnya di Bendigo.
“I don’t how to start this story. Betapa bersyukurnya saya memiliki Katrina. Banyak hal yang saya pelajari dari dia. Dia mengizinkan saya untuk ikut pergi ke Gereja. Dia selalu memasakkan sesuatu yang belum pernah saya makan (makanan halal),” cerita wanita kelahiran 22 Oktober 1996 itu.
Selama di Australia Anita juga menjadi Asisten guru Bahasa Indonesia di Avila College. Dirinya tak menyangka bahwa anak-anak Australia sangat bersemangat belajar Bahasa Indonesia.
“Saya tertegun saat melihat para siswa sangat semangat belajar Bahasa Indonesia. Bahkan pelajaran Bahasa Indonesia termasuk pelajaran yang populer di sekolah ini,” katanya.
Selama di luar negeri biaya hidup Anita ditanggung oleh pemerintah Indonesia dan dia juga mendapat biaya dari pemerintah Australia. Selama di LN Anita juga beberapa kali berkunjung ke berbagai kota. Satu diantaranya adalah Kota Melbourne. Anita tinggal kurang lebih dua minggu setengah di sana sebagai bagian dari program pertukaran.
“Di Melbourne saya tinggal bersama keluarga Mcnaught. Keluarga yang menunjukkan cinta dalam segala hal. Mereka memeluk, mengucapkan terima kasih. Mohon dan maaf dalam kehidupan sehari-hari. Mereka suka olahraga, membaca dan pecinta hewan. Saya belajar tentang nilai, waktu dan mengapa kita harus membuat perencanaan. Saya ingin tinggal lagi bersama mereka,”kenangnya.
Apa yang paling berkesan bagi Anita ketika berada di Australia? "Dua bulan pertengahan Oktober sampai pertengahan Desember paling berkesan ialah tentang bagaimana orang Australia membahas dan mengaplikasikan nilai dalam setiap kegiatan. Contoh nya ketika mereka membuat kegiatan. Nilai apa sih yang ingin dicapai dalam kegiatan dan acara tersebut. Bisa nilai sosial, pelestarian budaya dan banyak lagi. Jadi yang paling utama bagi mereka tentang nilai bukan keuntungan atau materi," ceritanya.
Bukan hanya itu, sambung Anita. Ternyata orang Australia juga selalu memiliki target di setiap kegiatan.
"Setelah itu baru rekrutmen orang yang akan ikut, jadi setiap aktivitas orang Australia selalu mengutamakan nilai-nilai. Kami dibiasakan setiap aktivitas selalu memiliki target. Usai kegiatan kita evaluasi, tercapai tidak targetnya. Dan orang Australia menjunjung tinggi nilai kemandirian. Disiana orangnya lebih mandiri," sambungnya.
Anita juga punya tempat favorit ketika berada di Australia. Dia mengaku tempat ini sangat nyaman dan aman.
"Namanya Rosalin Park di Bendigo. Tempat nya seperti taman dengan rumput hijau, dan orang banyak tidur dan baca buku disana. letaknya di tengah kota Bendigo. Tempat itu sering untuk ngumpul bareng teman-taman, sangking aman dan nyamannya tempat itu kita tidur disana dan barang-barang kita tetap aman," tutur wanita yang baru menyelesaikan study Pendidikan Bahasa Inggris di FKIP ULM Banjarmasin dan di wisuda 23 April 2019 lalu. (mal/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin