Macet, macet, macet! Ah, keluhan khas perkotaan. Jika Anda ingin menjauhi kemacetan, cobalah singgah ke Kuin Kecil.
---
KUIN Kecil berada di Kecamatan Banjarmasin Selatan. Tepatnya di Kelurahan Mantuil. Dari Balai Kota, jaraknya sekitar 11 kilometer. Bisa ditempuh kurang lebih setengah jam. Jangan gunakan mobil, cukup pakai motor. Kenapa begitu? Anda akan tahu sendiri.
Saran lainnya, gunakan kartu seluler dari provider dengan sinyal terkuat. Setidaknya masih sanggup menangkap jaringan 3G. Karena di Kuin Kecil, koneksi internet dijamin hilang.
Tapi bukan itu inti persoalannya. Di daerah terujung Kuin Kecil, persis di RT 14, tak cuma jaringan seluler yang hilang. Tapi juga sinyal pembangunan. Kawasan ini nyaris tak memiliki jalan.
Kalau pun disebut jalan, rupanya cuma jalan tanah yang cuma muat dilewati dua sepeda motor. Itupun mesti berhati-hati, karena lintasannya licin dan tak mulus. Warga di sana menyebutnya tembokan; istilah yang kerap digunakan orang Banjar (tanah yang ditumpuk untuk dijadikan jalan).
"Saya lupa persisnya kapan jalan sini dibuka. Kalau tak salah lebih 30 tahun silam. Itupun karena ada program TNI masuk desa," kata Abdussamad. Berusia 60 tahun, dia seumur hidup tinggal di sini.
Jika dihitung, panjang jalan ini sekitar 1,7 kilometer. Posisinya paling ujung Banjarmasin. Nyaris mendekati tepian Sungai Barito. Berbatasan dengan wilayah Kabupaten Banjar. Ada 150 kepala keluarga yang tinggal di sana.
Selama puluhan tahun, warga mencoba mandiri. Patungan memperbaiki jalan. Memasuki musim kemarau, warga lega. Setidaknya jalan tak bakal tergenang.
"Saat musim hujan tadi, kami coba memasang papan. Sebagai titian karena jalan pasti tergenang kalau air sungai lagi pasang," kata Burhan, warga setempat.
Selama ini warga dituntut berpikir sendiri agar jalan bisa dilintasi. Karena mereka tak punya akses lain. Itulah satu-satunya jalur keluar masuk kampung. "Harus sering gotong-royong," sebutnya.
Itu baru soal jalan. Belum urusan jembatan. Di sana ada 15 titik sungai kecil, seperti parit. Agar jalan tersambung, dibuat jembatan mini. Berupa susunan papan ulin yang lebarnya tak lebih dari satu meter.
Ketua RT 14 Kuin Kecil, Saderi mengaku sudah berkali-kali meminta pembangunan jalan kepada Pemko Banjarmasin. Namun, hasilnya nihil. "Saya bahkan pernah mengantar langsung proposal kepada wali kota, Pak Ibnu," akunya.
Belakangan, Saderi mendengar, ujung Kuin Kecil dikategorikan sebagai zona hijau. Artinya ruang terbuka hijau, bukan permukiman. Itulah penghambat utama pembangunan di sini. "Bahkan warga saya tak bisa membuat sertifikat tanah," keluhnya.
Pernahkah wali kota dan wakilnya jalan-jalan kemari? Jawabannya ya. Tapi cuma sampai RT tetangga. Di wilayah RT 15 yang jalannya sudah diaspal.
Saat ini, Kuin Kecil mendapat secercah harapan. Bakal ada aktivitas TMMD (TNI Manunggal Masuk Desa). Dimulai pertengahan bulan depan, 10 Juli.
Program TMMD ini membawa misi perbaikan infrastruktur. Termasuk jalan yang rencananya ditinggikan hingga 50 sentimeter. "Tapi cuma diuruki tanah. Bukan batu split. 30 sentimeter diuruki tanah merah, 20 sentimeter sisanya sirtu," jelasnya.
Meski begitu Saderi bersyukur. Setidaknya masih ada yang mau memperhatikan kampung mereka. Membuat warga lebih bersemangat.
RTRW Harus Ditinjau Ulang
KETUA Komisi III DPRD Banjarmasin, Matnor Ali tertarik membahas nasib warga Kuin Kecil. Menurutnya, tak salah jika warga menuntut pembangunan. Setidaknya untuk jalan yang layak.
Ditegaskannya, pembangunan mesti merata, sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tak peduli apakah wilayah perkotaan atau pinggiran.
"Masyarakat di pinggiran juga warga Banjarmasin. Mereka juga punya hak yang sama untuk mencicipi pembangunan," sebut politisi Partai Golkar itu.
Jika lambannya pembangunan ini karena persoalan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah), Matnor punya pandangan lain. Menurutnya tak masalah jika hanya untuk pembangunan jalan.
"Kan ini fasilitas umum. Banyak kok kawasan RTH yang punya jalan bagus. Ini juga jadi nilai plus untuk ruang hijau," katanya.
Toh warga tak menuntut untuk kepentingan individu, tapi demi orang banyak. Sudah menjadi tanggungjawab pemko untuk memikirkannya.
Komisi III berjanji akan mengajak pemko untuk meninjau RTRW yang ada. Terlepas dari itu, Matnor mengapresiasi kegiatan TMMD TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD) di Kuin Kecil.
Menjadi kabar baik bagi warga di sana. Dia berharap pemko yang akan melanjutkan pembangunannya. “Kami juga berencana mau ke sana. Sekalian untuk menyerap aspirasi warga,” pungkasnya. (nur/fud/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin