Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Darmawan Jaya Kehilangan Pasangan, Peta Politik Banjarbaru Bakal Berubah

miminradar-Radar Banjarmasin • Selasa, 11 Agustus 2020 - 20:17 WIB
KEHILANGAN PASANGAN: Darmawan Jaya Setiawan dalam pemakaman Nadjmi Adhani. | FOTO: MUHAMMAD RIFANI/RADAR BANJARMASIN
KEHILANGAN PASANGAN: Darmawan Jaya Setiawan dalam pemakaman Nadjmi Adhani. | FOTO: MUHAMMAD RIFANI/RADAR BANJARMASIN

Di tengah kabut duka yang menyelimuti Kota Banjarbaru, konstelasi politik Pemilihan Wali Kota Banjarbaru tak bisa dikesampingkan. Kepergian Nadjmi Adhani berpotensi membuat peta politik berubah.

Sebelumnya hanya pasangan Nadjmi dan wakilnya Darmawan Jaya Setiawan yang masih bertahan melalui partai politik. Sedangkan, penantang mereka pasangan Edy Saifuddin-Astina Zuraida telah gagal melewati tahapan verifikasi faktual jalur independen yang dilakukan KPU Banjarbaru.

Sebagai petahana, kekuatan pasangan Nadjmi-Jaya sangat kuat karena sudah mengantongi koalisi besar. Yakni NasDem (4 kursi), PKS (2 kursi), Golkar (5 kursi) dan Demokrat (1 kursi). Dengan total amunisi 12 kursi. Sementara syarat dukungan pada Pilkada Banjarbaru hanya 6 kursi.

Dengan kekuatan itu dan belum adanya poros baru, Nadjmi-Jaya bahkan disebut-sebut akan melawan kotak kosong. Namun, setelah meninggalnya Nadjmi maka semua akan berubah.

Parpol pendukung Nadjmi-Jaya tentu harus mencari orang lain untuk menggantikan Nadjmi, sebagai calon Wali Kota Banjarbaru. Atau, memilih untuk menaikkan status Jaya sebagai calon wali kota dan mencari wakil pengganti.

Ketua DPD PKS Banjarbaru M Irsan Finazli mengatakan, dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan koordinasi dan konsolidasi di internal PKS terkait arah dukungan mereka di Pilwali Banjarbaru. "Insya Allah kami lakukan selepas hari berkabung ini," katanya.

Dia mengungkapkan, PKS juga bakal berkoordinasi dengan partai koalisi lainnya untuk menentukan masa depan pasangan yang mereka usung. "DPW dan DPP tentu kami ajak membicarakan hal ini," ungkapnya.

Sementara itu, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Banjarbaru, Wartono mengaku belum bisa bicara banyak terkait arah dukungan mereka ke depan, usai meninggalnya Nadjmi Adhani.

Meski sebelumnya, dirinya secara lisan menyampaikan PDIP mendukung Nadjmi-Jaya. "Rasa kurang etis kalau kami bicara, karena masih kondisi berkabung," ujar Wartono.

Menurutnya, semenjak ditinggalkan Nadjmi situasi politik di Banjarbaru akan semakin dinamis. Termasuk peluang Jaya maju sebagai calon wali kota. "Iya, kami meyakini (Jaya) masih maju. Tapi, mungkin untuk wali kota," bebernya.

Dinamisnya politik kata Jaya, karena semakin dekatnya masa pendaftaran bakal pasangan calon dari parpol. "Kami juga akan segera berkoordinasi dengan pengurus wilayah," paparnya.

Pengamat politik UIN Antasari, Ani Cahyadi mengatakan ketika petahana kembali maju di Pilkada, dia memiliki modal awal dan bisa dikatakan sudah menang 1-0 dengan sang rival. Nah dengan kondisi sekarang terjadi tendangan penalti yang bisa merubah kedudukan. “Posisi petahana bukan 1-0 lagi,” imbuhnya. 

Melihat kondisi sekarang, figur baru bahkan kecenderungan orang baru akan muncul di Pilwali Banjarbaru. Ketua DPD Partai Golkar Banjarbaru, AR AR Iwansyah misalnya sebutnya berpeluang didorong maju. “Iwansyah bisa jadi salah satu alternatif, tapi bisa jadi figur baru yang fresh sama sekali dari Golkar. Kalau Aditya saya kira sudah offside. Akan susah baliknya,” tukasnya.

Dia mengingatkan, pemilih Banjarbaru yang sangat rasional dan signifikannya suara pendatang akan membuka peluang bagi calon alternatif yang berasal dari bukan asli Banjar. Suara pendatang di Banjarbaru sebutnya cukup signifikan, yakni hampir 30 persen. “Banjarbaru daerah pemetaannya mudah, pendatang dari pulau Jawa yang lama di Banjarbaru juga bisa berpeluang,” sebutnya.

Melihat peta politik saat ini, dia memprediksi bisa jadi Darmawan Jaya bakal ditinggal jika parpol hanya menilai elektabilitas kuat cuma dari Nadjmi. Diingatkannya pula, Gerindra sebagai pemenang Pemilu 2019 di Banjarbaru berpeluang mengusung calon sendiri."Bisa jadi juga Ketua Gerindra Banjarbaru yang juga mantan Sekdako Banjarbaru, Syahriani bersemangat juga untuk maju. Apalagi jaringan birokrasi beliau masih kuat di Pemko Banjarbaru,” tandasnya. 

Secara terpisah, Ketua KPU Banjarbaru, Hegar W Hidayat menyampaikan, pendaftaran bapaslon dari parpol dijadwalkan kurang dari satu bulan lagi. Yakni tanggal 4 sampai 6 September 2020. "Sekarang masih tahap Coklit untuk pemutakhiran data pemilih. Kegiatannya sampai 13 Agustus ini," bebernya. (ris/mof/ran/ema)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#Banua Politik