KOTABARU - Suhu politik di Bumi Saijaan tak ubahnya badai. Datang tanpa diduga. Sejak beberapa hari belakangan, baliho Zairullah yang baru dicetak ramai dipasang. Siapa nyana, politikus itu diisukan batal berlaga di Kotabaru. Selentingan informasi di kalangan politikus bahkan menebar aroma, Zairullah akan berlaga di Pilkada Tanah Bumbu.
Kabar batalnya maju Zairullah Azhar disampaikan Ketua DPC Gerindra Kotabaru Nur Aini Syahran (Om Noy). "Biasa itu dalam politik," ujarnya, Selasa (1/9) sore kemarin kepada Radar Banjarmasin.
Karena batal itu, Gerindra yang menjadi bagian koalisi bersama PDIP dan Gerindra, akhirnya memilih menunggu arah dukungan baru dari PDIP Kotabaru, sebagai pemenang Pemilu 2019. "SK kami belum keluar. Nanti menunggu siapa yang diusung (lagi) oleh PDIP,” katanya.
Meski isu itu santer beredar, Ketua DPC PKB Kotabaru, Rahmadi tidak berani memberikan pernyataan terbuka. Apakah bos tersebut batal atau tidak. Zairullah sendiri adalah Ketua DPW PKB Kalsel. "Kita tunggu saja nanti tanggal 4 sampai 6 September," ucapnya.
Ia sedikit bercerita. Belum lama tadi bertolak ke Jakarta. Diperintah Zairullah mengambil SK rekomendasi partai, yang isinya mengusung Zairullah Azhar - Zulkipli AR sebagai pasangan di Kotabaru. Tapi sampai di DPP pusat, SK itu ternyata tidak ada.
Rahmadi pun pulang dengan tangan kosong. Di Kotabaru, ia kembali dikontak Zairullah. "Saya diminta cek rumah Alamsyah. Untuk tempat Zairullah di Kotabaru," ucapnya.
Sementara itu, Ketua DPC PDIP Kotabaru, Zulkipli AR yang dihubungi tadi malam memberikan keterangan mengejutkan. “Saya mundur,” tegasnya.
Ia membenarkan semua isu dan kabar yang beredar. Bahwa Zairullah batal berlaga ke Kotabaru di-injury time. Padahal komunikasi yang ia bangun bersama tim ke warga sudah cukup baik. Mereka adalah tandem untuk melawan petahana di Kotabaru.
Tidak ada pilihan, Zulkipli mengaku tidak cukup waktu. Baik mencari pasangan, atau mengatur strategi ulang. "Saya sudah telepon Ketua PDIP Kalsel, Mardani Haji Maming. Saya mundur. Semua saya serahkan kepada ketua,” tambahnya.
Dia juga meminta maaf kepada warga atas perubahan mendadak itu. "Yang jelas, kami dari awal sudah komitmen (berpasangan)," cetusnya.
Kabar batalnya Zairullah sudah menyebar kemana-mana. Bakal calon bupati dari jalur perseorangan, Burhanudin, menilai ada untung dan ruginya jika yang tersisa nanti hanya dirinya dan petahana Sayed Jafar. "Yang penting kesiapan kita dan masyarakat menyongsong sebuah perubahan," ujarnya.
Terkait kabar Zairullah akan memilih berlaga di Tanah Bumbu ditanggapi hati-hati oleh jajaran PKB. Mereka tak berani berspekulasi dan latah menentukan arah dukungan. Apakah mengusung kader sendiri atau ikut dengan koalisi parpol lain.
Sejatinya, mengantongi lima kursi di DPRD, parpol ini tinggal melengkapi dua kursi saja lagi. PKB dapat mengusung pasangan calon. Karena minimal syarat yang harus dipenuhi di daerah ini 7 kursi.
Salah satu pengurus PKB Tanbu, H Hadrawi mengakui hingga kini pihaknya belum menerima rekomendasi dari DPP. “Kami masih menunggu surat keputusan dari DPP PKB, dan sampai hari ini (kemarin) belum final,” ungkapnya kepada Radar Banjarmasin, kemarin.
Jika tidak kader sendiri, tentu berkoalisi dengan parpol lain. Hadrawi kembali tak bisa memastikan. “Politik itu dinamis dan elastis. Artinya bisa berubah-ubah. Bisa saja hari ini si A, besok atau lusa lain lagi,” cetusnya.
Karena itu, Hadrawi belum mau berkomentar terlalu banyak sebelum menerima keputusan dan instruksi dari DPP PKB. “Kami tidak berani berspekulasi. Tunggu sampai tanggal 6 September 2020 saja. Pastinya PKB Tanbu sudah mendaftar,” tegasnya. (zal/kry/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin