Mengenakan kemeja rapi dan kacamata hitam, dia dibopong enam pembantu berpakaian compang-camping. Kedatangannya membelah barisan demonstran. Sebuah satire.
---
BANJARMASIN - Keenam pembantu itu bertukar tembakau, dari mulut ke mulut. Mengobrol riang, tertawa-tawa. Sesekali mereka mengumpat.
Menyebut pemerintah tak becus. Setelah puas mengeluh, mereka kembali tergelak. Kesenangan mereka berakhir ketika pejabat parlente itu datang.
Mengumbar janji, akan bekerja siang malam demi rakyat, mereka terpana dan terperdaya. Janji tinggal janji. Bukannya sejahtera, mereka terus disakiti.
Hingga tiba suatu masa. Ketika kesabaran mereka habis. Mendadak beringas. Pemimpin pembual itu pun diturunkan paksa.
Aksi teatrikal ini disuguhkan mahasiswa di Jalan Lambung Mangkurat, depan gedung DPRD Kalsel, kemarin (15/10) siang. Dalam unjuk rasa mengutuk pengesahan Undang-Undang Omnibus Law oleh DPR RI.
Demonstrasi kali ini berbeda dari aksi pertama sepekan lewat (8/10). Massa tak lagi tertarik berdialog dengan parlemen. Bertukar argumen atau menyerahkan tuntutan. Cukup sudah.
Mahasiswa dari berbagai kampus itu menuntut Presiden Joko Widodo datang ke Banjarmasin. Dan mengeluarkan Perppu untuk menganulir UU kontroversial tersebut.
"Karena kami sudah tidak percaya lagi dengan DPRD dan DPR. Kami hanya ingin presiden mengeluarkan Perppu. Sekarang juga!" tegas Koordinator Wilayah BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Kalsel, Ahdiat Zairullah.
Tanpa audiensi, jadi apa? Mahasiswa menggelar mimbar bebas. Bergantian berorasi. Perwakilan semua perguruan tinggai di Banua kebagian jatah berbicara.
Massa juga mengancam takkan membubarkan diri sebelum tuntutan dipenuhi. Mereka ingin bertahan di sana.
"Kami ingin agar presiden menemui kami di sini. Kemudian menerbitkan Perppu. Bila tuntutan tak dipenuhi, kami tidak akan bubar," tekan Ahdiat.
Pantauan Radar Banjarmasin sampai jam 6 sore, demonstran masih bertahan di Jalan Lambung Mangkurat. Mereka tak bisa mendekati kantor wakil rakyat tersebut karena ketatnya pengamanan aparat.
Bujukan Warek Mental
Saat magrib, Wakil Rektor Universitas Lambung Mangkurat, Muhammad Fauzi dan Wakil Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Nida Mufida coba membujuk mahasiswanya agar pulang.
Ajakan itu seperti angin lalu. Karena mahasiswa tetap memilih bertahan di Jalan Lambung Mangkurat, tak jauh dari gedung DPRD Kalsel.
Masalahnya, sudah menjadi pengetahuan umum, izin demonstrasi hanya berlaku sampai jam 6 sore. Tidak boleh lebih.
Selain mengajak pulang, kedua pejabat kampus itu berpesan agar anak-anak didiknya tetap santun dalam berunjuk rasa. "Ingat, selalu ada konsekuensi," seru Fauzi kepada mahasiswa.
Sementara Nida, coba menyemangati mahasiswanya. "Semoga perjuangan kalian bermanfaat," serunya.
Dia berharap, mahasiswa mau pulang. Menurutnya, perjuangan selanjutnya adalah mengajukan UU Omnibus Law ke Mahkamah Konstitusi. Demonstrasi sudah cukup.
Sampai berita ini ditulis pukul 19.10 Wita, mahasiswa masih bertahan di lokasi. (war/gmp/fud/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin