Sejak Gubernur Kalsel pada Minggu, 22 Maret 2020 mengeluarkan pernyataan resmi adanya warga terkonfirmasi positif virus Covid-19, kegiatan pembelajaran di sekolah (tatap muka) mulai dihentikan. Hal ini dilakukan untuk menekan angka penularan virus. Kegiatan pembelajaran tatap muka beralih menjadi pembelajaran dalam jaringan (daring).
========================
Oleh: Farina Amelia, M.Pd
Guru Geografi SMA Negeri 10 Banjarmasin
========================
Pembelajaran tidak lagi berlangsung di ruang-ruang kelas, melainkan ruang maya di rumah masing-masing. Beruntung, teknologi yang ada saat ini sangat membantu dalam melakukan pembelajaran daring. Ada banyak aplikasi, media online, dan media sosial yang dapat digunakan sebagai sumber dan media pembelajaran.
Pada awalnya, hal ini menuntut banyak perubahan. Guru mau tidak mau belajar akrab dengan berbagai aplikasi yang ada di gawai pintar atau perangkat komputer. Banyak juga guru yang akhirnya membuat video pembelajaran untuk dibagikan kepada peserta didik atau rekan seprofesi demi memudahkan jalannya pembelajaran. Peserta didik pun harus semakin terampil dan bijak menggunakan gawai pintarnya supaya dapat mengikuti pembelajaran daring dengan baik.
Hasil survei yang dilakukan penulis kepada 45 peserta didik kelas 12 di SMA Negeri 10 Banjarmasin, menggunakan google formulir pada tanggal 25 Oktober 2020, menunjukkan sebanyak 87 % peserta didik sudah terbiasa melakukan pembelajaran secara daring. Alasannya, hal ini telah menjadi rutinitas selama 7 bulan ini. Mau tidak mau, mereka harus menjalaninya meski metode ini dianggap tidak seefektif pembelajaran tatap muka.
Survei ini juga memberikan informasi bahwa sebanyak 47 % peserta didik mengungkapkan bahwa pembelajaran daring tidak menghambat mereka untuk berprestasi secara akademik dalam pembelajaran geografi. Bagi mereka, tidak ada alasan untuk tidak belajar dan berprestasi meski dalam kondisi pandemi selama ada cara yang bisa dilakukan untuk belajar. Namun, tetap saja pembelajaran tatap muka membuat mereka lebih mudah memahami materi dan penjelasan yang disampaikan oleh guru.
Banyak kendala yang terjadi selama pembelajaran daring. Masih banyak guru dan peserta didik yang gagap teknologi, jaringan internet yang tidak merata sehingga peserta didik kesulitan mengakses pembelajaran. Perekonomian keluarga yang membuat peserta didik tidak memiliki fasilitas belajar yang memadai, dan banyak kendala lainnya. Hal ini membuat banyak pihak menginginkan pembelajaran tatap muka segera kembali dilakukan.
Orang tua menginginkan tatap muka kembali dilakukan, karena kewalahan mendampingi anak-anaknya mengikuti pembelajaran daring. Bagi para guru, pembelajaran tatap muka jauh lebih efektif dan memiliki alokasi waktu lebih banyak untuk menyampaikan materi pembelajaran.
Guru pun mudah mengawasi peserta didiknya selama pembelajaran berlangsung. Bagi siswa, pembelajaran tatap muka membuat mereka lebih fokus dan mudah memahami materi yang disampaikan. Pembelajaran tatap muka pun membuat mereka dapat berkomunikasi dengan lancar dengan teman yang merupakan rekan belajarnya. Bagi guru dan siswa, pembelajaran tatap muka menghasilkan kontak dan keterikatan emosional jauh lebih baik dibandingkan pembelajaran daring.
Kita tentu berharap kegiatan pembelajaran tatap muka dapat kembali dilakukan. Hal ini bukan tidak mungkin terjadi. Banyak negara telah melakukannya, termasuk di Kota Wuhan, China, yang merupakan episentrum dan tempat virus Covid-19 pertama kali muncul sebelum akhirnya menyebar ke hampir seluruh negara di dunia. Meski di beberapa kasus kembali dilakukannya pembelajaran tatap muka menimbulkan cluster baru penularan Covid-19, namun ada juga yang berhasil.
Pembelajaran tatap muka dapat kembali dilakukan jika vaksin ditemukan dan virus Covid-19 berhasil dilumpuhkan. Namun, saat ini hal tersebut belum dapat diwujudkan. Jadi, hal ini bergantung pada kegigihan masyarakat dalam memerangi virus Covid-19. Semakin gigih masyarakat menjalankan protokol kesehatan dan mengurangi angka terkonfirmasi positif virus Covid-19, semakin cepat kehidupan dapat kembali berjalan seperti sedia kala.
Apakah pembelajaran tatap muka di masa depan akan sama seperti sebelum pandemi terjadi? Pemerintah menetapkan syarat yang harus dipenuhi sekolah jika pembelajaran tatap muka ingin kembali dilakukan. Mulai status lokasi sekolah dan pengaturan kelas, perilaku wajib yang harus dilakukan warga sekolah, larangan, serta kesiapan sekolah.
Lokasi sekolah harus berada di zona hijau dan ruang kelas ditata supaya jaga jarak tetap dapat terkendali. Peserta didik yang hadir pun hanya sebanyak 50% dari kapasitas. Jadi, pembelajaran tatap muka tidak dilakukan setiap hari melainkan dengan sistem giliran rombongan belajar.
Warga sekolah wajib memakai masker sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Masker yang dipakai harus diganti setiap empat jam. Warga sekolah juga wajib mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer serta menjaga jarak dan tidak melakukan kontak fisik.
Sejumlah larangan pun diberlakukan. Warga sekolah yang memiliki penyakit penyerta, memiliki gejala Covid-19, dan serumah dengan pasien Covid-19 tidak boleh datang ke sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler, pembukaan kantin, dan istirahat di luar ruang kelas pun dilarang.
Sekolah yang akan melakukan pembelajaran tatap muka juga harus memenuhi persyaratan kesiapan sekolah sesuai standar gugus tugas dan Kementerian Kesehatan. Sekolah harus memiliki thermogun (pengukur suhu tubuh tembak), kesiapan menerapkan area wajib masker kain atau masker tembus pandang (bagi peserta didik disabilitas tuna rungu), memiliki sarana sanitasi dan kebersihan, serta mampu mengakses fasilitas kesehatan (puskesmas, klinik, atau rumah sakit). Hal ini harus dilakukan hingga situasi dinyatakan aman dan pandemi berakhir.
Pemanfaatan teknologi selama pembelajaran daring merupakan hal yang positif. Sayang jika hal ini ditinggalkan. Maka, blended learning dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran di masa depan.
Blended learning merupakan strategi pembelajaran yang menggabungkan, mengkombinasikan, dan memadukan sistem pendidikan konvensional dengan sistem pendidikan digital. Guru dapat terus membuat media pembelajaran, bahan ajar, penugasan, dan penilaian secara digital seperti yang dilakukan selama pembelajaran daring. Guru dan peserta didik tetap dapat saling memberikan umpan balik baik secara realtime sehingga pembelajaran dapat berlangsung di luar jam pelajaran. Peserta didik juga dapat mengakses materi secara leluasa dan belajar secara mandiri karena bahan ajar tersimpan secara online. (*)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin