Novia Meiliani membatin. Bertahun-tahun rumahnya selalu terendam seusai hujan mengguyur. Masalah klasik ala permukiman padat di Banjarmasin.
---
BANJARMASIN - Masyarakat Banjarmasin sudah akrab dengan genangan yang muncul setelah hujan deras. Baik di jalan raya hingga permukiman. Dan Novia salah satu korbannya.
Perempuan 20 tahun itu tinggal bersama ibu dan tiga kerabat di Gang Bandaneira Jalan Perintis Kemerdekaan, Banjarmasin Tengah. Gang ini langganan terendam pada musim hujan.
Ditemui kemarin (13/11) siang, Novia lega karena genangan setinggi mata kaki di lantai kayu rumahnya sudah surut.
Bukan berarti kekhawatiran sirna begitu saja. "Bila hujan, air pasti menggenang. Ingin naik ke lantai dua, khawatir roboh. Maklum, rumah ini sudah sangat tua," kisahnya.
Genangan itu memasuki lantai ruang tengah, lantai kamar, dan paling parah di dapur. Bila sudah tergenang, ia jarang bisa beristirahat. Karena sibuk menaikkan barang-barang seperti kasur.
"Apalagi kalau menjelang tahun baru. Biasanya kan hujan tuh. Berhari-hari genangannya baru menghilang," tambahnya.
Kondisi ini sudah terjadi selama bertahun-tahun. Novia menduga, genangan dipicu sungai kecil yang tertutup bangunan penduduk. Kali itu berada persis di belakang rumahnya.
Senada dengan cerita tetangganya, Murtini. Sungai kecil itu kerap meluap. Kondisinya juga memprihatinkan. Airnya berwarna pekat, banyak sampah, dan mampat.
Apalagi sekolah juga turut menjadi korban. Di kawasan itu berdiri Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ihya Ulumiddin.
Salah seorang guru, Yuliani mengungkapkan, genangan air mengganggu kegiatan belajar siswa (tentu sebelum pandemi).
"Kalau hujan, saya biasanya berpesan kepada murid, agar turun sekolah tidak usah memakai sepatu dan kaus kaki. Cukup sandal saja," ungkapnya kepada Radar Banjarmasin.
Namun, menuru guru kelas dua ini, sekolah tak hanya terendam saat hujan turun, tapi juga saat arus sungai pasang. "Syukur kalau airnya bersih. Yang menggenangi itu air kotor. Seperti comberan," keluhnya.
Yuliani berharap Pemko Banjarmasin lebih perhatian. Misalkan membuat drainase yang lebih besar untuk menahan limpasan air.
"Kemudian, sungainya juga dibersihkan secara rutin. Kalau bisa hidupkan lagi sungainya agar kembali mengalir ke sungai yang lebih besar," harapnya.
Gang Bandaneira tentu hanya satu contoh dari masalah lawas yang lebih besar.
Hari Ini Dieksekusi
DINAS Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin menjamin takkan tinggal diam terkait keluhan warga Gang Bandaneira di Kelurahan Pasar Lama itu.
Pasukan turbo (tim khusus pembersih sungai dan drainase) pun sudah meninjau kawasan itu, kemarin (13/11).
Kepala UPT Pemeliharaan Sungai dan Drainase PUPR, Agus Trisno menilai, genangan sering terjadi karena selokan di kawasan itu tersumbat.
Diperparah oleh sungai kecil yang tertutup bangunan. Membuat air hujan tak punya tempat pembuangan.
"Sungai yang menuju ke Jalan Sulawesi itu banyak bangunan di atas siringnya, akhirnya banyak sampah dan endapan lumpur yang menghambat aliran air di situ," tambahnya.
Seusai peninjauan, Agus berjanji, pasukan turbo akan langsung bekerja membersihkan hari ini (14/11). "Sudah kami koordinasikan dengan ketua RT setempat, siap dieksekusi," tuntasnya. (war/fud/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin