Kampung Selanjung Sungai Biuku sedang naik daun. Kawasan asri yang menyimpan reptil langka bernama biuku.
-- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin --
RESMI dibuka sejak akhir Juli 2019 sebagai salah satu kampung wisata di Banjarmasin. Berjarak sekira sembilan kilometer dari Balai Kota. Berada di Kelurahan Sungai Andai Kecamatan Banjarmasin Utara.
Digadang-gadang menjadi salah satu destinasi wisata alam unggulan, berada di tepi sungai dengan pepohonan rindang menjadi modalnya.
Kampung ini sibuk berbenah. Bahkan, Oktober lalu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarmasin mengumpulkan 30 warga kampung. Selama sepekan, mereka dilatih tentang kepariwisataan.
Memasuki kampung ini, pengunjung disuguhi segala hasil olahan tangan warga. Dari tempat rehat berbentuk gazebo, spot foto, hingga miniatur Menara Pandang dari kayu. Di sepanjang tepi jalan, berjejer obor-obor kecil.
Soal reptil yang menjadi nama kampung, dibangunkan dua patung biuku. Patung pertama tak jauh dari pintu gerbang. Patung kedua di depan kolam.
Apakah ada biuku di kolam itu? Radar Banjarmasin menilik kolam yang diceritakan berisi biuku itu, (17/12) siang. Sayang, tak tampak seekor pun.
Yang muncul justru kura-kura air payau. Satu seukuran bola sepak, satunya lagi tak lebih besar dari telapak tangan orang dewasa.
Penuturan warga, Bahran, sebenarnya ada sepasang biuku di kolam itu. Tapi hanya muncul dari tempat persembunyiannya ketika sedang lapar. "Apabila masih kenyang, biuku memilih membenamkan diri ke dalam tanah," jelasnya.
Masih penasaran, penulis coba menunggu. Siapa tahu, biuku itu mau berbaik hati. Tapi 15 menit berlalu, riak pun tak ada. "Anda kurang beruntung," tambah Bahran seraya tertawa.
Biuku memang masih satu keluarga dengan kura-kura air payau. Bedanya, biuku memiliki tempurung berbentuk panjang dengan kaki berselaput.
Biuku sendiri memiliki nama beken, yakni 'Tuntong Sungai'. Populasinya menyusut, menempatkan biuku ke dalam daftar merah. Artinya, reptil dengan status kritis alias langka.
Menurut Bahran, dua biuku yang diletakkan di kolam itu merupakan sumbangan warga setempat. Agar tak kabur, dibuatkan sebuah kolam sederhana. Sepetak tanah berair yang sekelilingnya dikandang bambu.
"Kalau tidak dibikin kandang seperti itu (bambu menancap dalam ke tanah), nanti biuku bisa kabur," tambahnya.
Apakah pernah kabur? Lelaki 60 tahun itu mengangguk. Beruntungnya, yang kabur hanya kura-kura. Bukan biuku. Syukurnya lagi, kura-kura itu berhasil ditemukan. Tak jauh dari salah satu rumah warga.
Sesuai dengan cerita warga lainnya, Arbiyah, 43 tahun. Kura-kura kerap kabur dari kolam ketika air sungai sedang pasang. "Malam tadi airnya pasang. Sampai menggenangi teras rumah ini," tunjuknya.
Kampung wisata ini dikelola masyarakat secara swadaya. Diceritakan Arbiyah, warga bergantian memberi makan hewan-hewan di kolam. Menunya juga variatif. Dari buah seperti pisang, atau sayur seperti kangkung.
Pemasukan datang dari wahana rekreasi. Pengunjung bisa menyusuri sungai dengan naik sampan. Tarifnya, Rp3 ribu untuk dewasa dan Rp2 ribu untuk anak kecil.
Namun, gara-gara pandemi, kampung ini memang agak sepi. "Tapi masih ada pengunjung, biasanya pada akhir pekan," tukasnya.
Biuku atau kura-kura, sepi atau ramai, bagi Arbiyah, status kampung wisata itu telah memberikan dampak positif kepada masyarakat.
"Warga menjadi sadar, betapa pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Agar tamu yang datang bisa menikmati suasana alam yang masih asri," tutupnya. (fud/ema)
Editor : izak-Indra Zakaria