Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Sawah, Kebun hingga Ternak Terdampak Banjir, Petani Berharap Bantuan Benih dan Pupuk

miminradar-Radar Banjarmasin • Senin, 1 Februari 2021 - 16:15 WIB
SALURKAN BANTUAN: Ketua TP PKK Kabupaten Tanah Laut Hj Nurul Hikmah Sukamta (kiri) kembali memberikan bantuan untuk korban banjir dan pasca banjir pada Sabtu (30/1/2021), kali ini ia menyerahkan bantuan di Kelurahan Angsau dan Desa Pemuda Kelurahan Pabaha
SALURKAN BANTUAN: Ketua TP PKK Kabupaten Tanah Laut Hj Nurul Hikmah Sukamta (kiri) kembali memberikan bantuan untuk korban banjir dan pasca banjir pada Sabtu (30/1/2021), kali ini ia menyerahkan bantuan di Kelurahan Angsau dan Desa Pemuda Kelurahan Pabaha

PELAIHARI - Menjadi salah satu wilayah paling terdampak, 90% warga Kecamatan Bumi Makmur yang berprofesi sebagai petani sawah seluruhnya terimbas bencana banjir yang terjadi di Kabupaten Tanah Laut. Hal ini disampaikan langsung oleh Camat Bumi Makmur Sahidanor saat ditemui Diskominfo Tala pada Kamis (28/1) di ruang kerjanya.

Diibaratkan oleh Sahidanor, semisal petani memiliki banih (padi, Red) dengan harga normal Rp 400 ribu, maka ketika basah terkena banjir harga menjadi Rp 50 ribu, sehingga petani akan rugi Rp 350 ribu rupiah. Pada akhirnya warga yang memiliki benih akan memanfaatkan benihnya yang rusak menjadi pakan ternak.

Inilah yang terjadi pada Sarkawi, salah satu warga Desa Handil Babirik yang terlihat sedang menjemur benihnya yang basah di titian jalan aspal depan rumahnya. Ia menyebutkan sebelumnya memiliki 250 blek benih, namun terendam banjir 125 blek sehingga tersisa 100-an blek yang tidak terkena banjir. Ia pun berencana membeli ternak itik agar benih yang rusak dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak.

"Semoga ada bantuan entah itu pupuk atau bibit, atau tambahan modal untuk kami," ujarnya.

Sementara itu, di Kecamatan Pelaihari, menurut Kepala UPT BPP Pelaihari Saidillah, ada 1.140 hektare padi yang sudah tanam dan sebagian di persemaian, rusak direndam banjir berhari-hari.

“Bahkan ada 50 hektare sawah fungsional yang terkena timbunan longsor, sehingga tidak bisa difungsikan lagi,” terangnya.

Sehingga ujarnya, akibat banjir ini sebenarnya kerugian petani tidak hanya berupa benih, dimana per hektare sawah diperlukan 25 kg benih dengan harga rata-rata Rp9000 per kilogram benih unggul.

“Tapi ada juga kerugian pengolahan tanah, tenaga dan waktu. Tetapi yang bisa kami usulkan untuk mendapatkan bantuan melalui dinas kabupaten, bantuan benih ini,” ujarnya.

Selain persawahan, banjir dan longsor yang terjadi di wilayah Kecamatan Pelaihari, juga mengakibatkan tanaman buah-buahan rusak. Di Desa Panggung tercatat 500 pohon durian terkena longsor, sedangkan di Desa Tungkaran dan Ujung Batu ada 79 pohon durian.

Sedangkan di Desa Guntung Besar, kerugian akibat longsor juga berupa tumbangnya 450 pohon karet dan 250 pohon aren yang produktif. “Kami juga mencatat 24 ekor sapi mati dan hanyut,” tandasnya.

Sementara itu, sebagaimana diberitakan Radar Banjarmasin (25/1/2020), Distanhorbun Tala sudah mengumpulkan data kerugian dari 9 kecamatan dan 86 desa yang terendam areal sawahnya. Total luas yang terendam mencapai 13.544,5 hektare sawah dan dinyatakan puso seluas 11.600 hektare.

Untuk mengganti rusaknya semaian dan tanaman yang terkena musibah banjir tersebut. Distanhorbun Tala bersurat kepada Pemprov Kalsel untuk meminta bantuan 290 ton benih. (Diskominfo Tala/bin)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#Pemkab Tanah Laut