Dokter Soetomo menginisiasi gerakan kebangsaan Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, yang kelak diresmikan sebagai Kebangkitan Nasional. 100 tahun lebih berlalu, tantangan saat ini bukan lagi penjajahan tetapi menghadapi pelbagai permasalahan pemerataan pembangunan, termasuk diantaranya virus corona sebagai musuh bersama.
----
Wali Kota Banjarbaru, Aditya Mufti Ariffin mengatakan makna kebangkitan nasional itu adalah ketika semua warganya bisa mengakses layanan dengan semurah-murahnya dan seluas-luasnya.
"Bangkit itu bagi kita dimana masyarakat bisa mengakses pendidikan, bisa mengakses kesehatan, dan juga semua layanan yang ada di pemerintah sebagai layanan dasar," katanya.
Guna berupaya mewujudukan hal tersebut, Aditya mengatakan akan memproyeksikan sejumlah program. Semisal mulai dari beasiswa pendidikan hingga membangun infrastruktur yang representatif untuk menunjang pelayanan masyarakat.
"Beasisiwa agar anak-anak kita bisa sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Lalu dari sisi infrastruktur kita juga akan godok, salah satunya buat penyandang disabilitas, semisal JPO dan pedesterian khusus," ujarnya.
Dikaitkan dengan bangkit dari pandemi, maka sejumlah program tersebut katanya juga berkaitan satu sama lain. Yang mana pandangnya muaranya adalah bisa menopang atau membantu perekonomian warga yang sedang terdampak Covid-19.
"Di bidang mitigasi banjir kita juga sudah merencanakan akan membangun embung mitigasi, yang mana tak hanya sekadar embung namun di sekitarnya juga direncanakan dibangun fasilitas untuk pariwisata hingga budidaya ikan serta tanaman tertentu," jelasnya.
Bagi Aditya, semangat bangkit dan kebersamaan bergotong royong adalah yang harus dimaknai oleh seluruh elemen masyarakat."Kebersamaan itu yang harus dibangkitkan, tak hanya satu dua unsur, tapi seluruh elemen. Contoh kecil, adanya kepedulian dan gotong rotong dalam membantu sesama, semisal ada warga yang menjalani isolasi mandiri maka warga sekitar hendaknya saling membantu dan memberikan semangat," pandangnya.
Syahdan, seperti apa langkah Aditya guna memupuk dan memperkokoh kebersamaan dalam gotong royong ini? Diceritakannya, berdasarkan apa yang sudah dikerjakan, gelaran Festival Salikur 2021 Banjarbaru klaimnya sebagai simbol.
"Di acara yang sarat akan kultur dan budaya ini kita melihat semangat gotong royong warga, baik dari sikap atau sifat. Nah hal-hal seperti ini yang harus kita bangkitkan dan bangun," nilainya.
Terakhir, berupaya bangkit dalam segala hal untuk Kalsel kata Aditya juga tak bisa lepas dari sinergitas antara pemerintah provinsi dan pemerintah kota, dalam hal ini Banjarbaru.
"Kita ingin membangun bersama-sama, Banjarbaru tentu tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan dan bantuan dari provinsi atau pusat. Jadj sangat perlu kolaborasi oleh tiap-tiap pemangku kepentingan, terlebih kita ingin Banjarbaru terbangun dengan baik sebagai salah satu pintu gerbang Kalsel dan juga salah satu pintu gerbang IKN," pungkas Aditya.
Ketua DPRD Kota Banjarmasin Harry Wijaya menilai, di tengah kondisi pandemi Covid-19, Harkitnas bisa menjadi momen untuk memupuk spirit untuk sama-sama membangun banua. Tak muluk-muluk, ia hanya semua bisa bersama-sama berjuang memerangi Covid-19 di Kota Banjarmasin.
"Caranya sangat sederhana, kita bisa sama-sama mematuhi protokol kesehatan (prokes) ketat yang sudah dianjurkan. Ambil contoh, selalu mengenakan masker, rajin mencuci tangan, hingga menjauhi kerumunan," bebernya.
Dengan begitu, menurutnya penekanan terhadap penyebaran Covid-19 pun bisa ditangani dengan mudah.
Di sisi lain. Sebagai pengawas kebijakan, ia menghendaki pemerintah lebih agresif dalam hal menangani pandemi. Menurutnya, sekarang ini yang diperlukan tidak hanya berkutat pada sosilisasi dan edukasi terkait pencegahan pandemi.
Telebih, menurutnya saat ini, Kota Banjarmasin juga menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro."Perlu ada terobosan baru. Kita tidak bisa hanya selalu aktif mensosialisasikan atau hanya sekadar edukasi. Tapi, juga perlu tindakan nyata lainnya," ucapnya.
Harry lantas mencontohkan dengan contoh yang lagi-lagi menurutnya sangat sederhana dan mudah dilakukan tapi lumayan efektif. Yakni memassifkan operasi yustisi.
"Saya melihat, banyak dari kita (masyarakat) yang mungkin bosan dengan keadaan (pandemi) hingga abai dengan prokes. Di jalan-jalan, hingga di ruang publik, ada saja masyarakat yang masih abai," ulasnya.
Di sisi lain, ia juga mengingatkan kembali saat awal-awal pemerintah berupaya menekan penyebaran Covid-19 melalui Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Di situ, menurutnya penyebaran kasus Covid-19 bisa ditekan. Meskipun, tidak sepenuhnya bisa ditekan.
"Di situ, kita sempat mampu menekan. Penyebaran kasus berkurang. Tapi kemudian, kita ketahui bersama. Kasus tiba-tiba melonjak naik. Dan ini, tentu perlu kita evaluasi," ulasnya.
Namun, Harry juga menekankan, sebelum melakukan hal itu (operasi yustisi) atau upaya lain sebagainya. Hendaknya, baik pemerintah maupun instansi terkait lainnya, bisa memberikan contoh yang baik pula bagi masyarakat.
"Sebagai pemerintah, kita juga perlu menunjukkan bahwa kita benar-benar serius dalam menangani pandemi. Jangan justru kita terkesan menggampangkan hingga kemudian membuat kita lalai," tegasnya.
Wakil Ketua DPRD Provinsi Kalsel, M Syaripuddin mengatakan momen Harkitnas bisa dimanfaatkan generasi muda untuk semakin melakukan terobosan yang bisa bermanfaat bagi orang banyak. Banyak bidang usaha di daerah yang dapat dikembangkan, misalnya pertanian dan perkebunan. Bagaimana usaha pertanian atau perkebunan milik masyarakat dapat memberikan hasil maksimal."Sosok-sosok muda yang bisa memberikan inovasi untuk kepentingan masyarakat seperti ini yang diperlukan," katanya, kemarin (19/5).
Menurutnya, generasi muda Banua banyak yang memilik potensi dan pemikiran yang bagus, hanya saja, mereka kurang mendapat ruang. Secara pribadi, kata pria yang biasa disapa Dhin ini, setiap kegiatan kedewanan ia sering berdiskusi dengan banyak generasi muda di daerah membahas berbagai hal, termasuk soal peluang usaha.
Ia yakin, para pekerja yang terkena PHK punya keinginan untuk membuka usaha, tapi masih banyak yang takut. Takut rugi, takut gagal dan sebagainya. Ini yang sering terjadi. Padahal pemikiran seperti itu harus dihilangkan. Sebab dapat menghambat untuk maju.
"Kalau tidak dijalankan selamanya akan gagal. Artinya harus mengambil pilihan. Orang gagal satu atau dua kali itu menjadi pelajaran untuk menuju kesuksesan," ucapnya.
Di lain sisi, untuk membantu mereka berusaha, Pemprov Kalsel sudah punya bermacam program, salah satunya adalah untuk pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Program ini tinggal dijalankan ditambah dengan stimulus untuk melancarkan usaha mereka.
"Kemudahan mendapatkan suntikan modal adalah salah satunya, sehingga mereka bisa bergerak," ujarnya.
Pandemi tidak bisa kita hindari, karena terjadi diseluruh dunia, termasuk Kalsel. Yang harus dilakukan adalah mencari jalan terbaik agar roda perekonomian di Banua tetap berjalan dan berkembang. Ia yakin, pemerintah daerah, dan pengusaha punya solusinya. Cukup disinkronkan, sehingga keduanya bisa berjalan selaras. Dibutuhkan pemikiran yang jauh melangkah ke depan, pemikiran membangun yang bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.
"Dalam momentum harkitnas, Banua di Kalsel harus bangkit, kita harus bergotong royong, sehingga Kalsel bisa lepas dari segala bencana, banjir maupun pandemi," cetus Dhin. (rvn/war/gmp/by/ran)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin