Ancaman virus corona varian delta memerlukan mitigasi, bukan sekadar klaim aman.
---
BANJARMASIN - Sempat melandai, kasus aktif corona di Banjarmasin kembali bertambah. Data per tanggal 3 Juli, terpantau 109 kasus aktif. Sepekan sebelumnya, bertahan di angka 83 kasus aktif.
Data itu muncul dalam rapat evaluasi Dinas Kesehatan bersama para kepala puskesmas dan tim surveilans.
"Ya, ada kenaikan. Tapi tidak ada temuan varian baru, baik delta maupun delta plus," kata Kepala Dinkes Banjarmasin, Machli Riyadi, kemarin (4/7).
Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Banjarmasin itu menjamin, pemko memperhatikan perkembangan ini dengan serius. Apalagi di tengah upaya menggeber vaksinasi.
Sejak 1 Juli lalu, warga berusia di atas 12 tahun bisa mendapatkan vaksin. Bahkan, warga luar kota yang bekerja di Banjarmasin juga bisa memperoleh vaksin.
"Vaksinasi untuk pelayan publik dan lansia sudah dievaluasi. Sekarang, sasarannya diperluas menjadi masyarakat umum," jelasnya.
Warga cukup mendatangi puskesmas terdekat dengan e-KTP. "Terkecuali untuk yang sifatnya komunal, misalkan lapas atau panti, maka kami yang mendatanginya," tambahnya.
Apakah stok vaksin yang ada cukup? Machli menyebutkan, di gudang farmasi Dinkes tersisa 656 vial. Tak bisa disebut banyak.
"Kalau habis, minta lagi. Apalagi presiden sudah memerintahkan vaksinasi satu juta warga sehari. Program itu harus didukung. Bahkan Banjarmasin harus selangkah dari kabupaten lain," lanjutnya.
Tentu saja, ibu kota Kalsel ini masih jauh sekali dari herd immunity yang menuntut minimal vaksinasi 70 persen populasi.
Sementara itu, anggota tim pakar pandemi dari Universitas Lambung Mangkurat, Hidayatullah Muttaqin mengatakan, perlu mitigasi untuk menghadapi mutasi-mutasi virus yang semakin mengganas.
Strategi yang bisa dicoba, pertama, memperlambat laju mobilitas penduduk. Baik di dalam kota maupun antar daerah dan antar pulau.
Bukan berarti ia menyarankan penyekatan perbatasan seperti saat awal PSBB atau arus mudik kemarin.
Sebab, posko-posko penjagaan di perbatasan terbukti hanya menimbulkan kemacetan dan kerumunan baru. Jadi, yang ditahan adalah penyebab mobilitas tersebut.
"Penggerak terbesar mobilitas penduduk adalah ekonomi. Jadi tensi kegiatan ekonominya yang diperlambat," sarannya.
Kedua, melipatgandakan tes dan pelacakan penularan. Agar yang terinfeksi lekas dikarantina.
Ketiga, menggeber vaksinasi. Betul, varian delta mampu menurunkan efektivitas vaksin. "Tapi banyak mengacu penelitian, suntikan dua dosis bisa mengurangi risiko kesakitan dan kematian jika tertular covid," tutup Muttaqin.
Terakhir, mengajak masyarakat untuk kembali mengenakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.
Masih Optimis untuk Membuka Sekolah
Menghadapi ancaman varian baru dan lonjakan kasus, Kepala Dinas Pendidikan Banjarmasin, Totok Agus Daryanto masih optimis bisa membuka sekolah-sekolah pada 14 Juli ini.
Pada tanggal itu, SDN dan SMPN di Banjarmasin akan menyambut tahun ajaran baru 2021/2022 dengan menerapkan pembelajaran tatap muka (PTM).
"Kami selalu memantau perkembangan kasus covid, seperti yang di-update Dinas Kesehatan," kata Totok.
Kesimpulannya, pandemi masih terkendali. Banjarmasin berada di zona hijau dan kuning.
Mengacu SKB empat menteri, kewenangan PTM diserahkan kepada kepala daerah. Artinya, selama wali kota mengizinkan, Disdik tak perlu mundur. "Semoga saja Banjarmasin tak kembali memasuki zona merah," harap Totok.
Masih dari SKB itu, vaksinasi untuk guru lebih diprioritaskan. "Mengacu SKB empat menteri, para guru yang didahulukan. Kalau untuk murid belum. Tapi jika peluangnya ada, bisa saja," ujarnya.
Sebagai pemantapan persiapan, dalam waktu dekat akan digelar rapat bersama Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Banjarmasin. Disusul masa sosialisasi 12-13 Juli.
"Jadi kemungkinan tahun ajaran baru akan dimulai 14 Juli," sebutnya.
Soal kesiapan sekolah, bagi Totok, simulasi-simulasi kemarin sudah memberikan bukti. Tinggal para guru yang harus lebih tegas dalam mengingatkan siswanya untuk selalu mengenakan masker dan tak berkerumun.
"Pihak sekolah kami minta menyiapkan masker cadangan, mengantisipasi siswa yang tak membawa masker. Lalu, harus ditekankan, kalau sakit jangan diperkenankan memasuki kelas," tutupnya. (war/gmp/fud/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin