Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Setiap Hari Defisit 12 Ton Oksigen, Ketiadaan Oximeter Juga Disorot

izak-Indra Zakaria • Kamis, 5 Agustus 2021 - 18:12 WIB
PANTAU: Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy saat mengunjungi produsen oksigen PT Samator di Jalan A Yani Kilometer 23, Kelurahan Landasan Ulin Utara, Kota Banjarbaru, kemarin. | FOTO: SUTRISNO/RADA
PANTAU: Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy saat mengunjungi produsen oksigen PT Samator di Jalan A Yani Kilometer 23, Kelurahan Landasan Ulin Utara, Kota Banjarbaru, kemarin. | FOTO: SUTRISNO/RADA

BANJARBARU - Melonjaknya kasus Covid-19, membuat permintaan oksigen di Banua melambung tinggi. Kondisi ini mengakibatkan Kalsel setiap harinya kekurangan 12 ton oksigen.

Hal itu diungkapkan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy saat mengunjungi produsen oksigen PT Samator di Jalan A Yani Kilometer 23, Kelurahan Landasan Ulin Utara, Kota Banjarbaru.

"Kami datang mengecek langsung ketersediaan oksigen, kalau hitung-hitungan memang masih kurang sekitar 12 ton per hari," kata Muhadjir kepada sejumlah awak media.

Dia mengungkapkan, tingginya permintaan oksigen tergantung dengan kenaikan kasus Covid-19. Oleh karena itu diharapkan lonjakan kasus tidak terjadi di Kalsel. "Sehingga ketersediaan oksigen sekarang bisa tercukupi," ungkapnya.

Agar tidak terjadi kekosongan, dia mengaku sudah berdiskusi dengan Pj Gubernur Kalsel dan produsen terkait upaya penambahan stok oksigen.

"Ini ada datang bantuan dari Singapura, sebanyak 20 ton pakai ISO Tank. Nanti ISO Tank bisa digunakan lagi untuk mengambil oksigen dari tempat lain," paparnya.

Selain itu, dia menuturkan, Pemprov Kalsel juga sudah mengirim kapal angkut ISO Tank ke Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) untuk mengambil oksigen di sana. "Tapi ini perlu waktu beberapa hari," tuturnya.

Muhadjir mengapresiasi jajaran Pemprov Kalsel dan stakeholder terkait yang sudah pro aktif berusaha memenuhi kebutuhan oksigen di Banua, sambil mengantisipasi kemungkinan buruk terjadinya lonjakan Covid-19. "Kita tetap berdoa dan berusaha supaya lonjakan yang dikhawatirkan tidak terjadi," ajaknya.

Dia juga meminta, Kalsel mendistribusikan oksigen dan obat antivirus hingga ke level bawah. Yakni ke puskesmas-puskesmas. Guna mencegah dan mengurangi terjadinya fatalitas yang tinggi.

"Karena sekarang ini ada kecenderungan, kematian terjadi justru fasenya sebelum masuk RS atau baru masuk UGD," bebernya.

Menurutnya, masyarakat masih perlu diedukasi bahwa covid memang tidak boleh ditunda-tunda. "Kalau isoman semakin berat, jangan dipertahankan. Segera lapor, lalu dibawa ke rumah sakit," ujarnya.

Sementara itu, GM PT Samator Gas Industri, Eddy Hermawan tak menampik jika kebutuhan oksigen saat ini defisit 12 ton sehari. "Kami berharap Covid-19 terkendali, sehingga defisitnya tidak semakin naik," harapnya.

Dia menyatakan, sejumlah langkah telah mereka lakukan untuk menambah ketersediaan oksigen. "Salah satunya mengambil produk oksigen ke Makassar," ucapnya.

Bukan hanya itu, disampaikannya, pihaknya juga sudah mengirim ISO Tank ke Bitung, Sulawesi Utara untuk mengambil oksigen. "Kami juga terus mencari PT Samator di daerah lain yang stok oksigennya mencukupi untuk mengatasi defisit di Kalsel dan Kalteng," pungkasnya.

Mengunjungi Kampung Tangguh Banua di Kertak Baru Ulu, Banjarmasin Tengah Menteri Muhadjir juga menyoroti ketiadaan oximeter (alat pengukur kadar oksigen) untuk warga yang sedang menjalani isoman.

“Sudah dikasih oximeter atau belum?” tanya Muhadjir kepada Kepala Dinas Kesehatan Banjarmasin, Machli Riyadi. Yang menjawab malah lurah setempat, Rusipahani. Ada oximeter, tapi hanya untuk fasyankes terdekat, yakni Puskesmas Cempaka. “Sudah, pak. Di puskesmas,” ujarnya.

Mendengarnya, Muhadjir jelas tidak puas. Ia meminta kadinkes untuk membantu satu oximeter per rumah. “Jangan cuma mengandalkan milik puskesmas,” tegasnya.

Alat ini penting untuk memastikan, kapan warga memerlukan bantuan tabung oksigen. Situasinya bisa berbahaya, karena kekurangan oksigen kerap tak disadari si penderita.

Ketika ditanya, Machli menekankan, petugas puskesmas selalu memantau kondisi warga isoman. “Ya, nanti diusahakan lagi untuk menambah alatnya,” janjinya.

Penelusuran Radar Banjarmasin, memang tak ada bantuan untuk warga yang sedang isoman.

Contoh warga Jalan Prona I, berinisial BI. “Harganya Rp150 ribu. Mau tak mau beli sendiri. Sebab saya ada gejala demam dan sesak napas,” kisahnya via sambungan telepon.

Apalagi, oximeter mulai sulit didapat. Sekalipun sudah mencarinya ke toko khusus alat kesehatan. “Setelah saya beli, tak lama harganya naik. Teman saya juga kesulitan mencarinya,” tambahnya.

Syukurnya, beberapa hari yang lalu, tes usap terakhir menyatakan BI dan keluarganya sudah negatif COVID-19.

Senada dengan SM, warga Jalan tembus Perumnas. Ditanya apakah pernah orang puskesmas memantau keadaannya, ia menjawab ada. “Tapi hanya dipantau via WhatsApp,” ujarnya.

Jangan Repotkan Penerima Bantuan

SEMENTARA ITU, Menko PMK Muhadjir Effendy juga menyempatkan diri memantau penyaluran bansos di Banjarmasin, kemarin (4/8).

Bansos berupa 10 kilogram beras dan uang tunai Rp600 ribu jatah bagi warga yang terdampak PPKM level 4. Disalurkan melalui kantor cabang utama PT Pos Indonesia di Jalan Lambung Mangkurat.

Setelah melihat-lihat, ia meminta PT Pos lebih aktif dalam menyalurkan bansos. Karena untuk mendatangi kantor pos, warga harus mengeluarkan ongkos transportasi. Ditekankannya, penyaluran bansos bisa dikerjasamakan dengan ketua RT, RW dan kelurahan.

Menanggapi itu, Kepala Kantor Pos Cabang Banjarmasin, Lilik Wahyu Saptono mengatakan, pengantaran bansos langsung ke rumah hanya dikhususkan untuk warga yang sakit atau lansia.

Sejauh ini, Lilik menjawab penyaluran sudah 70 persen di Banjarmasin. Jumlah penerima ada 13.657 keluarga, khusus untuk bantuan beras saja. Sedangkan yang menerima beras dan uang tunai sekaligus berjumlah 10.173 keluarga. “Total di Banjarmasin ada 23.830 penerima manfaat,” sebutnya. (ris/war/ran/ema)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Banua Covid-19 Corona #kesehatan #Banua Kesehatan