Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Masjid Timbul: Tak Tersentuh Api Meski Kebakaran Hutan

izak-Indra Zakaria • Rabu, 6 April 2022 - 18:54 WIB
AKSES MENUJU MASJID: Buruh sawit melewati sungai yang berada tepat di depan halaman Masjid Timbul.
AKSES MENUJU MASJID: Buruh sawit melewati sungai yang berada tepat di depan halaman Masjid Timbul.

Belasan tahun lalu, ketika pemuai sarang lebah menemukan Masjid Timbul, warga Batola dibuat geger. Apa yang menjadi pemicunya?

 

Marbot Masjid Timbul Muhran mengatakan rombongan pemuai sarang lebah yang sedang menjelajah kawasan hutan di Batola, secara tak sengaja menemukan masjid di tengah hutan.  Konon, api yang selalu membakar kawasan hutan di daerah itu, tak sedikit pun menyentuh bagian bangunan masjid.

Cerita itu juga dituturkan oleh seorang pekerja kelapa sawit. Salahudin. Dituturkannya bulan Juli hingga September merupakan waktu kemarau panjang. Dalam kurun waktu itu, lahan-lahan memang mudah sekali mengalami kebakaran.

“Anehnya, masjid itu tak pernah tersentuh api. Padahal, kawasan di sekelilingnya itu biasanya habis terbakar,” ucapnya, ketika ditemui penulis pada Sabtu (2/4) siang. “Mungkin itu cara Tuhan menunjukan kuasanya. Dan agar kita bisa singgah dan melaksanakan ibadah salat di situ,” tambahnya.

Kembali ke cerita tentang para pemuai sarang lebah. Saat beristirahat, salah seorang pemuai sarang lebah menunaikan salat di masjid yang memiliki nama resmi Masjid Sinar Sabilal Muhtadin itu.

“Seusai salat si pemuai sarang lebah berdoa. Jika menemukan sarang lebah yang bisa dituai, ia akan kembali ke masjid ini lalu mengadakan tasyakuran,” tuturnya. Hasilnya, di luar dugaan. Baru keluar masjid dan tak begitu jauh melanjutkan perjalanan, pemuai sarang lebah menemukan sejumlah sarang lebah yang siap dituai. “Cerita itu tersebar. Lantas banyak yang datang ke sini. Bernazar,” ucapnya.

“Percaya atau tidak, tak masalah. Tapi ketika saya menanyakan maksud tiap peziarah yang datang, mereka menuturkan ke saya bahwa doa mereka diijabah,” jelasnya. Itu dibuktikan Muhran dengan beberapa kali Masjid Timbul mendapatkan bantuan renovasi bangunan, hingga bantuan perlengkapan peribadatan.”Karpet, sajadah, mukena, sarung, tasbih hingga Alquran. Macam-macam. Kain kuning juga banyak,” ucapnya.

Melirik dalam masjid, memang cukup banyak bantuan yang diberikan peziarah. Sajadah dan mukena bertumpuk-tumpuk di dalam ruangan masjid itu. “Semuanya, peziarah yang memberikan. Contoh, yang merenovasi plafon hingga atap masjid. Itu juga pezaiarah. Dulunya, plafon dan atap itu bolong-bolong,” tambahnya.

Saat menceritakan peristiwa itu, malam kian larut. Eks Kampung Sinar Cahaya benar-benar sunyi. Apa lagi malam hari. Tak ada salat tarawih berjamaah di Masjid Timbul, pada Sabtu (2/4) malam itu.

Selepas isya, penulis dan rekan wartawan Radar Banjarmasin yang ngepos di Kabupaten Barito Kuala (Batola), Ahmad Mubarak, juga Muhran, beranjak dari masjid. Muhran mengajak kami ke mes pekerja sawit. Sayang, kami tak bisa lagi mengendarai motor. Akses menuju masjid yang lumayan patah membuat motor ngadat. Terlintas keinginan, motor tanpa batok kepala itu kami dorong saja sampai ke mes pekerja sawit. Namun, cerita tentang banyaknya ular berbisa di kawasan perkebunan sawit membuat kami bergidik. Nyali pun ciut.

“Parkirkan saja motor kalian di samping masjid ini. Tidak akan hilang,” ucap Muhran, seraya mengajak kami naik ke perahu motornya. Tidak hanya memberikan tumpangan. Murhan juga menawarkan kami menginap di mes pekerja sawit. Sungguh, tak ada alasan menolak tawaran itu.

Mesin perahu memecah keheningan malam itu. Membelah sungai, kami menuju mes pekerja sawit. Kondisi sungai yang kami lalui benar-benar gelap. Dua buah senter yang kami bawa, seperti tak memberikan kontribusi apa-apa.

Tak kurang dari 20 menit, kami tiba di pinggir jalan besar milik perusahaan kelapa sawit itu. Seusai menambatkan perahu, kami pun berjalan kaki menuju mes. Saat itulah kami tahu, bahwa sudah 15 hari Muhran tidak tinggal di bangunan yang berada di samping Masjid Timbul. Bangunan berupa kamar khusus marbot itu.

Ia hanya berada di situ sejak pagi hingga petang. Paling lambat, selepas isya. Setelah itu, ia pun kembali ke mesnya.
“Saya ini sudah tua, kalau ternyata keadaan darurat, kemana saya minta tolong,” ucapnya.

Mes yang ditinggali Muhran tak ubahnya seperti rumah sewa dengan banyak pintu. Totalnya, ada lima kamar. Lelaki 60 tahun itu kebagian jatah kamar paling pojok.

Di mes, Muhran kembali mengutarakan harapannya. Semoga jalan menuju Masjid Timbul dibenahi. Dijelaskannya, selain jemaah salat, banyak peziarah yang datang ke masjid. Bagi peziarah yang sudah hapal dengan kondisi medan menuju masjid, pilihannya ada dua. Datang di saat musim kemarau. Atau datang dengan mencarter perahu mesin. Melewati jalur sungai.

Pilihan terakhir inilah yang sebelumnya tak penulis ambil, dan sungguh penulis sesali. “Di musim kemarau, meski jalannya masih rusak, tapi sekurang-kurangnya peziarah tidak perlu berkubang dengan lumpur,” tutur Muhran.

Jalur sungai saat ini menurutnya lebih banyak digunakan. Karena lebih mudah. Dari Marabahan, peziarah hanya cukup menuju ke Desa Antar Jaya.Dari situ, peziarah cukup mencarter perahu mesin ke warga di desa tersebut. Anda pun, akan diantar menuju Masjid Timbul. Pulang-pergi tentu saja. “Lihat saja nanti. Saat idulfitri, akan banyak peziarah yang datang ke sini,” tutupnya.

Lantas, apakah hanya cerita itu yang didapat? Tentu saja tidak. Di dalam Masjid Timbul, ada lima tiang berbahan kayu ulin. Kelima tiang itu diselimuti kain kuning. Juga mimbar tua. Seperti apa ceritanya? Itu akan dibahas di edisi selanjutnya.

TENTANG MASJID TIMBUL

– Berada di Desa Antar Jaya, Kecamatan Marabahan

– Dibangun di tahun 80-an oleh para perantau yang membuka lahan transmigran

– Dahulu bernama Masjid Sinar Sabilal Muhtadin

– Setelah tak lagi menghasilkan, penduduk meninggalkan kampung dan tersisa masjid Sinar Sabilal Muhtadin

– Masjid ditemukan kembali oleh serombongan pemuai madu. Saat ditemukan masjid seperti tak terganggu oleh lingkungan sekitar. Karena itulah dinamai Masjid Timbul.

(war/by/ran)

 

 

 

 
Editor : izak-Indra Zakaria