Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Ini Dia Baju Pengantin Tertua Milik Suku Banjar

izak-Indra Zakaria • 2022-07-16 12:46:19
FILOSOFI: Budayawan Kawang Yoedha menjelaskan filosofi di balik pakaian adat Bagajah Gamuling Baular Lulut. FOTO: TIA LALITA/RADAR BANJARMASIN
FILOSOFI: Budayawan Kawang Yoedha menjelaskan filosofi di balik pakaian adat Bagajah Gamuling Baular Lulut. FOTO: TIA LALITA/RADAR BANJARMASIN

INILAH busana adat pengantin pertama dan tertua milik Suku Banjar. Namanya Bagajah Gamuling Baular Lulut. Diciptakan pada abad ke-15, selain memiliki nilai estetis, busana adat ini juga menyimpan filosofi dan ciri budaya. Nama Bagajah Gamuling Baular Lulut mengacu pada mahkota pengantin yang terbuat dari lingkaran logam bundar.

Dibentuk menjadi dua ekor ular lidi yang disatukan. Sebelah kepala ular terdapat naga dan sebelah ekornya terdapat garuda. Pada kanan dan kiri mahkota, diletakkan kembang goyang dalam jumlah ganjil. Pengantin perempuan maupun pria sama-sama menggunakan mahkota tersebut sebagai hiasan kepala.

Bagajah Gamuling Baular Lulut ini masih kental dengan nuansa Hindu. Terlihat pada bentuk busana yang terbuka di bagian dada. “Ini juga tampak pada busana pengantin daerah lain pada zaman itu. Baik di Jawa dan Bali,” tutur budayawan Dwi Kawang Yoedha yang tinggal di Kota Banjarmasin.

Kawang membeberkan komponen demi komponen dari pakaian ini. Dari ujung kepala hingga kaki memiliki pakemnya sendiri. 

Atasan pengantin laki-laki menggunakan baju poko. Berupa kemeja lengan pendek tanpa kerah. “Awalnya hanya telanjang dada, namun disesuaikan lagi sehingga memakai baju poko,” jelasnya.

Kemudian memakai celana pidadang, terangkat 10 cm di atas mata kaki. Tapih atau sabuk motif khas halilipan merayap ke bawah menjadi ciri khasnya.

Komponen lain untuk menambah keindahan busana, di antaranya tali wenang, kalung samban, kilat bahu garuda mungkur paksi melayang, ikat pinggang emas, keris pusaka sempana, cincin akik, gelang tangan dan gelang kaki.

Sementara pengantin perempuan mengenakan atasan udat atau kemben, selendang dan kida-kida sebagai kain penutup dada. Bawahannya mengenakan sarung panjang, juga bermotif halilipan merayap ke bawah.

“Dilengkapi lagi dengan kayu apu, kain sabuk pendek yang bentuknya menyerupai tumbuhan apu,” beber Kawang. Sementara untuk aksesori, pengantin wanita mengenakan kembang goyang rumpun berjumlah ganjil. Kemudian anting berjuntai, kalung cikak, kalung kebun raja, ikat pinggang kepala gula kelapa, gelang dan cincin permata, gelang tangan dan gelang kaki. 

“Agar lebih glamor, busana pengantin ini juga dihiasi payet,” tambah Kawang. Salah satu yang paling mencolok adalah anyaman daun kelapa berbentuk halilipan. Disematkan di ujung belakang mahkota dan menjuntai panjang.

Biasanya, anyaman milik pengantin pria dibuat lebih lebar ketimbang wanita. Selain itu, bunga tangan berupa bogam ganjil juga membuat penampilan semakin apik.

Busana pengantin Banjar identik dengan tiga warna. Yakni kuning emas, simbol keabadian dan cahaya Ilahi. Merah manggis untuk simbol kejujuran. Dan warna hijau sebagai perlambang kehidupan.

Kawang cukup gelisah dengan maraknya modifikasi warna pada busana adat. “Ada yang biru dan ungu,” keluhnya. Dia berharap pakem busana adat Banjar mendapat perhatian dari masyarakat. Jangan sampai warisan budaya ini tergerus zaman.

Ia juga menyarankan kepada pemerintah agar giat mengedukasi tentang pakem ini. Semisal lewat perlombaan tata busana daerah. “Atau memberi contoh langsung, memakaikan pakaian ini saat si anak pejabat mengadakan pernikahan. Pemerintah haruslah menjadi panutan,” tegasnya. (tia/gr/fud)

Editor : izak-Indra Zakaria