Bupati Balangan, Abdul Hadi yang membuka acara berharap, ke depan Liyu tak hanya menarik wistawan lokal. “Bahkan sampai turis mancanegara,” ujarnya. (why/gr/fud)
Desa Liyu dihuni suku Dayak Deah. Sejak sepekan lalu, desa di kaki Gunung Riyut ini sibuk menyiapkan hajatan besar. Syukuran atas panen melimpah, dalam bahasa setempat disebut Mesiwah Pare Gumboh.
Berada di perbatasan antara Kabupaten Balangan dan Tabalong, Liyu merupakan perkampungan terujung di Kecamatan Halong. Dihuni 200 keluarga. Penduduknya mayoritas berkebun karet.
Mesiwah Pare Gumboh digelar akhir pekan tadi, 22-24 Juli. Ini tahun keempat. Lebih ramai dari yang pertama. Pemuda Dayak Deah berumur 37 tahun, Megi berharap bisa membangun desanya lewat pariwisata dan budaya. Para pengunjung kini bisa melihat, bahwa di desanya juga ada air terjun, sungai jeram dan gua yang indah. “Ditambah promosi produk kerajinan Liyu,” ujarnya.
Bagi Megi ini bukan sekadar membuka pasar, tapi juga memberi pengalaman baru kepada warga Liyu. Bagaimana mengemas, mengawaki dan menjual sebuah event.
Pelancong juga terkejut melihat kerukunan umat bergama di Liyu. Di sini ada pemeluk Islam, Hindu, Budha, Katolik dan Protestan. “Sangat unik. Mencerminkan Indonesia, Bhinneka tunggal Ika sekali. Di sini saat pembukaan ada lima doa untuk lima agama. Luar biasa,” kesan Andre, wisatawan asal Kalbar.
Puluhan mahasiswa asal Papua juga ikut memeriahkan. Mereka ikut menari di panggung. “Kami sangat disambut di Balangan. Sebelumnya kami hanya mengenal Dayak sebatas nama. Bersyukur, kali ini bisa bertemu langsung,” ujar Naila Mikhael Wenda.