Sudah Belasan Tahun Beroperasi, Tambang Emas di Sungai Durian Baru Heboh Sekarang
izak-Indra Zakaria• 2022-09-30 11:24:51
TIM PENYELAMAT: Tim SAR berjalan kaki menuju lokasi tambang emas tradisional di Kecamatan Sungai Durian Kabupaten Kotabaru.
Ini tambang emas tua. Tempat orang mencari rezeki atau lari dari masalah. Longsor dan kabar duka adalah teman akrab para penambang.
JUMAIN, Kotabaru
SUMBER anonim Radar Banjarmasin ini menyimpan cerita menarik tentang tambang emas tradisional di Gunung Kura Kura di Desa Buluh Kuning Kecamatan Sungai Durian Kabupaten Kotabaru. “17 tahun yang lalu saya pernah bekerja di situ. Sangat ramai. Pokoknya ada ratusan orang di sana,” kisahnya (28/9).
Dia tidak mengetahui, tahun berapa tambang emas itu mulai dibuka. Yang pasti ini sebuah tambang tua. Kala itu, tambang ini hanya bisa dicapai dengan mobil jenis hardtop. Seingatnya, dahulu juga pernah longsor dan makan korban, tapi tak seheboh sekarang.
“Rata-rata warga pendatang. Bagi sebagian orang, itu menjadi tempat pelarian kalau sedang jadi buronan,” tambahnya.
Penelusuran berlanjut dan Radar Banjarmasin berhasil menghubungi Akhmad, warga Kotabaru. Dia baru saja berhenti menambang emas di Sungai Durian, sekitar dua bulan yang lewat. Akhmad mengaku sedih. Karena nama-nama korban tewas yang tertimbun itu merupakan teman-temannya. Dia mengenal mereka dengan baik.
“Lokasi tambang emas itu memang ramai. Sudah seperti perkampungan tersendiri,” ujarnya. Diceritakannya, penambang bekerja bergantian. Ada yang menambang dari pagi sampai petang. Dilanjutkan oleh yang menambang dari malam sampai dini hari.
“Ada terowongan ke bawah tanah, seperti sumur. Di dalam tanah ada ruang-ruang. Di atasnya orang bisa berjalan kaki, sementara kami di bawah sedang menambang,” tuturnya.
Jauh dari desa dan jalan raya, untuk mencapai tambang emas ini, harus menempuh jalan setapak. “Kalau mau ke sana, kami biasanya naik ojek. Tarif jasanya Rp200 ribu sampai Rp250 ribu per orang. Wajar kalau mahal, kondisi jalannya menanjak,” tambahnya.
Tidak semuanya datang untuk menambang. Ada juga yang membuka warung. Menjual makanan dan minuman untuk penambang. Mereka bahkan punya kulkas untuk menyimpan minuman dingin. Lemari pendingin itu dihidupkan dengan listrik dari genset.
Di sana, semua barang serba mahal. “Rokok saja sekitar Rp50 ribu sampai Rp60 ribu per bungkus,” sebutnya. (gr/fud)