Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Di Kalimantan Ternyata Cuma Punya 1 Dokter Anak Spesialis Konsultan Ginjal

izak-Indra Zakaria • 2022-10-21 12:55:23
Photo
Photo

Kementerian Kesehatan mengumumkan, gangguan gagal ginjal akut telah merenggut nyawa 99 anak di Indonesia. Di Kalimantan Selatan, kasus serupa belum ditemukan. Tapi sudah sewajarnya untuk bersiap. Masalahnya, ancaman itu tak diimbangi kemampuan fasilitas layanan kesehatan di sini.

Contoh, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) RSUD Ratu Zalecha di Martapura, Kabupaten Banjar bahkan tidak memiliki layanan cuci darah. Pun, di sini juga tidak ada dokter spesialis anak yang mampu menangani kasus gagal ginjal akut.

“Karena tidak punya fasilitas hemodialisis anak dan dokter spesialis ginjal anak, kami hanya bisa memberi penanganan awal,” kata Humas RSUD Ratu Zalecha, Oky Supriadi kemarin (20/10).

Artinya, harus dirujuk. Kemenkes telah mengeluarkan daftar 14 rumah sakit rujukan untuk menghadapi pasien anak dengan gangguan ginjal akut. 

“Tapi saat ini kami belum menemukan pasien anak yang menderita gagal ginjal misterius tersebut,” tambah Oky.

Dalam surat edaran itu, ke-14 RS itu semuanya berada di luar Kalsel. Yakni RSUP Dr Cipto Mangunkusumo, RSUD Dr Soetomo, RSUP Dr Kariadi Semarang, RSUP Dr Sardjito, RSUP Prof Ngoerah, RSUP H Adam Malik dan RSUD Saiful Anwar Malang.

Kemudian RSUP Hasan Sadikin, RSAB Harapan Kita, RSUD Dr Zainoel Abidin Banda Aceh, RSUP Dr M Djamil, RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo Makasar, RSUP Dr Mohammad Hoesin Palembang dan RSUP Prof Dr RD Kandou.

Fakta ini juga diakui Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, dr Diauddin, “Tetapi sebenarnya kami mampu kalau diminta.”

Menurutnya, untuk bisa memiliki fasilitas hemodialisis anak, rumah sakit hanya perlu meningkatkan sedikit spesifikasi alat hemodialisis dewasa. “Kalau misal kami diminta, RSUD Ulin pasti bisa,” ujarnya yakin. 

Apakah betul begitu? Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin, dr Izaak Zoelkarnaen Akbar menjawab, fasilitas dan tenaga kesehatan di tempatnya sudah disiapkan.

Disebutkannya, di rumah sakit di Jalan Ahmad Yani km 2,5 Banjarmasin ini tersedia 75 unit hemodialisa (alat cuci darah). “Jumlah mesin cuci darah di Ulin ada 69 unit. Enam mesin cadangan,” sebutnya kemarin.

Menurutnya, jumlah itu lebih dari cukup untuk menangani lonjakan pasien cuci darah. “Alat-alat ini juga bisa dipakai untuk pasien anak,” jelasnya.

Sebelum geger ini, dalam sehari rata-rata Ulin bisa menangani 80 sampai 90 pasien cuci darah. “Sesi pagi menangani 63 pasien, sisanya sore hari,” lanjutnya.

Bagaimana dengan dokternya? Izaak menyebutkan, jumlah dokter spesialis anak di Ulin ada 15 orang.
“Dengan jumlah alat dan dokter yang kami miliki, dipastikan bisa terlayani,” jaminnya.

Bahkan, Izaak mengungkap, Ulin merupakan satu-satunya rumah sakit di Kalimantan yang memiliki dokter anak spesialis konsultan ginjal. “Di Kalimantan hanya ada satu, yaitu dr Selly Muljanto,” sebutnya.

Beralih ke Rumah Sakit Daerah Idaman (RSDI) di Banjarbaru, sampai kemarin malam juga belum ditemukan kasus gagal ginjal akut pada anak.

“Sampai saat ini belum ada laporan. Mudah-mudahan tidak ada,” kata Kabid Pelayanan RSDI Banjarbaru, dr Siti Ningsih.

Soal layanan cuci darah, Idaman sudah bisa mengakomodir. “Di tempat kami ada 12 mesin cuci darah,” tambahnya.

Namun, dari segi sumber daya manusia, diakuinya, Idaman belum memiliki dokter anak spesialis konsultan ginjal. Yang ada cuma dokter anak saja. 

“Jika memang mereka tidak bisa menangani kasus ini, kami koordinasikan ke Ulin untuk merujuk pasiennya,” kata Siti.

Lalu, kapan rumah sakit di ibu kota provinsi ini meningkatkan layanannya? “Pada tahap menambah alat atau SDM, belum. Tapi kewaspadaan sudah pasti kami tingkatkan,” pungkasnya.

Bagaimana dengan di kabupaten? Di Hulu Sungai Utara, tepatnya di RSUD RSUD Pambalah Batung, juga belum ada temuan kasus ini.

“Dari data yang kami dapat, nihil,” kata direktur RS dr Moch Yandi Friyadi melalui Kabid Keperawatan dan Kebidanan RS, Sugiharni.

Sementara itu, warga Sungai Malang, Elda mengaku bingung dengan larangan obat sirop. Sebab anaknya saat ini sedang menderita demam dan batuk.

“Kalau obat tablet, anak malas meminumnya. Bilangnya pahit. Obat sirop dilarang karena berbahaya. Jadi bingung,” keluhnya.

Diwartakan sebelumnya, Kemenkes melarang apotek menjual obat sirop. Dokter juga dilarang meresepkan obat sirup.

Sebab Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) masih menguji cemaran etilen glikol dan dietilen glikol dalam obat sirup. Kedua zat itulah yang disebut-sebut memicu gagal ginjal akut pada anak.
Dilarang menjual sampai waktu yang tak ditentukan dan tanpa kejelasan merek yang dilarang, pedagang obat pun mengeluh.

Contoh Amin, pemilik toko obat di kawasan Pasar Cempaka, Banjarmasin Tengah. “Padahal orderan saya terbilang besar. Dalam seminggu bisa laku ratusan botol,” terang pemilik Apotek Firdaus itu, Rabu (19/10). (ris/mof/rvn/mar/gr/fud)

 
 
 
Editor : izak-Indra Zakaria