Puing-puing pesawat di pedalaman hutan Desa Bungkukan Kecamatan Kelumpang Barat Kabupaten Kotabaru menjadi viral di media sosial. Sebelum heboh, ternyata bangkai pesawat itu sudah pernah diberitakan media pada akhir tahun 90-an. Menurut kepala desa setempat, pesawat itu pertama kali ditemukan masyarakat pada 1949. Posisinya di atas bukit. Sayap dan mesinnya terpisah dengan jarak satu kilometer.
Dosen Sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur mengungkap, pesawat itu milik Amerika Serikat yang tergabung dalam Blok Sekutu. Pesawat itu bertempur melawan Jepang menjelang akhir Perang Dunia II. Ketua Lembaga Kajian Sejarah Sosial dan Budaya Kalimantan itu menambahkan, lokasi penemuan pesawat itu memang masuk dalam garis perang aktif.
Hampir setiap hari terdengar pemboman. “Akibatnya rakyat gelisah,” ujarnya kepada Radar Banjarmasin (16/12). Serangan besar-besaran dilancarkan Sekutu. Menyusul jatuhnya Balikpapan pada awal Februari 1945. Sasarannya adalah Lapangan Terbang Ulin, kapal-kapal sungai, galangan kapal Koonan Kaiyoon, antena radio, dan pabrik karet Hok Tong di Borneo Selatan. Menjelang Agustus 1945, serangan dari pesawat pengebom jenis B17, B25, B26, P38 dan P51 semakin menghebat.
“Angkatan udara Jepang yang kecil itu musnah. Pada serangan terakhir Sekutu, lebih dari 80 pesawat menyerang Banjarmasin. Semua tentara Jepang menyingkir ke Pegunungan Meratus,” ungkapnya. Lantas, apa hubungan cerita di atas dengan temuan puing pesawat di Kotabaru?
Mansyur membuka laporan Aircraft Accidents Archives. Di sana disebutkan, pesawat itu jenis North American B-25 Mitchell dengan kode registrasinya A47-19. Peruntukannya penerbangan militer. Pesawat ini mengalami kecelakaan pada 15 September 1945. “Jumlah kru pesawat ada delapan orang. Tujuh meninggal dan hanya seorang yang selamat,” sebutnya. Menurut The Bureau of Aircraft Accidents Archives, pesawat Michell sedang mengawal pesawat Catalina ke tenggara Kalimantan. Misi penerbangan adalah mengirim rombongan untuk berbicara dengan penduduk asli. “Catalina mendarat dan pilot Mitchell mengitari area sekitar,” ujar Mansyur. Nah, saat hendak mendarat, pesawat ini terbang terlalu rendah. Pilot juga tak menyadari adanya pepohonan di bukit. Hingga menabrak pohon kelapa dan jatuh.
Kru di pesawat Catalina kemudian diberi tahu penduduk setempat perihal kecelakaan itu. Mereka kemudian mengecek ke lokasi. Dua orang selamat, pangkat dan nama mereka adalah FSGT Booth dan FSGT Stolweather. Tapi beberapa jam kemudian, yang disebut kedua meninggal akibat luka parah yang dideritanya.
Adapun kru yang tergabung di skuadron ini adalah pilot Lawrence A Kirk, L Bishop, PA Taylor, O CRM Ricketts, FJ Stolweather, RO Byrne, LAC MS White, serta Sersan E Booth (posisinya penembak belakang). Disilang ke sumber lain, kronologi ini cocok dengan catatan Dean Gorden. Mengenai riwayat pesawat, pada 10 Mei 1944, B25 Micthell ini sudah pernah rusak. Bagian kanan terkena tembakan senjata antipesawat Jepang selama serangan di Kepulauan Aru. Lalu diperbaiki dan rampung pada 19 Februari tahun 1945.
Perihal penamaan Micthell, diambil dari nama Mayor Jenderal William “Billy” Mitchell, perintis dunia penerbangan militer AS. B25 Mitchell banyak digunakan Sekutu pada PD II. Saat perang berakhir, ia masih kerap digunakan. “Menjadi salah satu pesawat yang beroperasi selama empat dekade,” kata Mansyur. Selain insiden jatuhnya pesawat Bungkukan, terdapat dua insiden lain di wilayah Kalimantan.
Yaitu pesawat Consolidated B24 Liberator yang jatuh di lepas pantai utara Kalimantan pada 21 Mei 1945. Terbang dengan misi patroli dan pengintaian, sebelas krunya tewas. Insiden kedua, jenis pesawatnya sama, jatuh pada 25 Maret 1945. Misinya adalah menurunkan pasukan terjun payung. “Bangkai-bangkai pesawat itu tidak pernah ditemukan. Diyakini jatuh ke laut dalam Kalimantan,” tuntasnya. (**)
Editor : izak-Indra Zakaria