Kawasan wisata baru yang ada di Kampung Ketupat dikeluhkan pengunjung. Harga Tiket Masuk (HTM) dianggap masyarakat kemahalan.
Kamis (6/7) siang, kawasan yang sudah diluncurkan sejak Jumat (30/6) lalu itu, tampak ramai dengan kunjungan. Selain remaja, mayoritas pengunjung adalah ibu-ibu. Menilik dari nomor tiket masuk yang ada di tangan penulis, setidaknya sudah ada 149 pengunjung.
Bagi warga yang hendak berkunjung, seusai memarkirkan kendaraan, mesti menyambangi loket penjualan tiket dahulu. HTM bervariasi setiap hari. Untuk Senin dan Selasa, HTM dipatok Rp10 ribu per orang. Lalu pada hari Rabu hingga Jumat, HTM Rp15 ribu.
Sedangkan untuk akhir pekan pada Sabtu dan Minggu, HTM Rp20 ribu. Kecuali bagi anak usia lima tahun ke bawah yang dibawa pengunjung, tak dikenakan biaya alias gratis.
Namun, HTM itu belum termasuk biaya parkir. Untuk kendaraan roda dua, biaya parkir Rp3 ribu. Sedangkan kendaraan roda empat, dipatok Rp5 ribu. Apa yang bisa pengunjung dapatkan dari membayar HTM itu? Dari hasil penelusuran, yang didapatkan pengunjung adalah tempat bersantai. Duduk-duduk di amphitheater, yang di atasnya terdapat seni instalasi membentuk ornamen ketupat raksasa. Silakan pilih mau duduk di pendopo, atau di bangku-bangku yang disediakan di kawasan tersebut.
Apakah hanya itu? Tentu tidak. Satu tiket yang diterima bisa ditukarkan dengan satu botol air mineral kemasan. Ditukarkan ke gerai makanan atau minuman yang ada di situ.
Di tiket tertera air mineral yang ditukarkan bisa panas atau dingin. Namun fakta di lapangan, tidak demikian. Didapat penulis hanya air mineral biasa.
Selain menyediakan tempat bersantai, di dalam kawasan tersebut juga terdapat wahana bermain untuk anak. Misalnya, kuda-kudaan. Dari hasil pantauan, wahana bermain itu belum berfungsi. Belum ada mesin penggeraknya. Di depan gerbang masuk wahana bermain itu juga berdiri sebuah loket tiket. Namun, belum difungsikan.
Salah seorang pengunjung, Siti Ramlah tahu adanya destinasi wisata baru itu dari media sosial. “Melihat orang-orang ramai, penasaran. Jadi pengin mencoba,” ujar warga Kertak Hanyar itu. Hal senada juga diungkapkan Ida, warga asal Kebun Bunga, Kecamatan Banjarmasin Timur. “Biar tak ketinggalan kabar, makanya mencoba ke sini,” jelasnya.
Dua pengunjung itu menilai HTM ke kawasan tersebut masih terlalu mahal. Meskipun untuk satu tiket bisa ditukarkan dengan satu botol berisi air mineral. “Sayang HTM masih mahal. Kalau bisa sih HTM-nya Rp10 ribu saja. Itu kan standar ya. Dapat air minum,” ucap Siti Ramlah.
Hal senada juga diutarakan Ida. Ia berharap HTM akhir pekan tarifnya bisa diturunkan. “Kan bakal banyak pengunjung yang datang. Bayangkan bila misalnya membawa lima orang, kan harus membayar Rp100 ribu,” bandingnya. “Akhir pekan itu kan biasanya pengunjung juga ada yang dari luar daerah. Jadi supaya tambah ramai, dan demi Banua kita juga, bisalah diturunkan,” pesannya.
Hingga Kamis (6/7) petang, kawasan itu masih ramai dengan kunjungan. Di loket misalnya, masih tampak ada warga yang hendak membeli tiket. Penulis juga mendengar percakapan antara dua pengunjung laki-laki dengan petugas loket. Belakangan diketahui, dua pengunjung laki-laki itu tak bisa masuk ke kawasan tersebut lantaran uang yang dimiliki masih kurang.
“Kami cuma punya Rp20 ribu. Uangnya kurang Rp10 ribu,” ujar Fajar didampingi rekannya, Amat.
Keduanya warga asal Gambut, Kabupaten Banjar. Keduanya baru saja pulang dari tempat kerja di kawasan Jalan Ahmad Yani kilometer 6. Keduanya sudah sering melihat kawasan dengan ornamen yang mencolok itu dari kejauhan. “Kami penasaran tempat apa, makanya kami ke sini,” ucapnya.
Seorang pengunjung yang melihat kegelisahan kedua pengunjung itu tampak menawarkan bantuan. Namun, Fajar dan Amat dengan sopan menolak bantuan yang hendak diberikan. “Kami sudah mantah (kecewa, red). Lain waktu saja kembali ke sini, menunggu gajian,” ucap Fajar.
Masih mahalnya HTM kawasan itu juga diramaikan komentar netizen. Itu bisa dilihat dari akun Instagram @info_kejadian_banjarmasin. “Terlalu mahal, kasihan warga yang tidak punya uang. Rp5 ribu semestinya pas. Kalau Rp15 ribu, anak banyak, bakal banyak ongkos yang dikeluarkan,” tulis akun @naura_kurnalia.
Tak sedikit pula yang baru tahu, untuk memasuki kawasan tersebut ternyata mesti membeli tiket. “Wah, berbayar ya mau masuk ke sana. Jadi berpikir dulu kalau mau ke sana. Padahal, rencana pengin lihat-lihat,” tulis akun @aty_nurmiati_.
Apakah hanya protes HTM saja yang ramai diperbincangkan? Tidak juga. Ada pula yang membijaksanai patokan HTM itu. Seorang pengunjung yang ditemui di lokasi, menganggap bahwa HTM yang dipatok cukup standar. “Mungkin karena tidak sedikit biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan,” tebaknya. “Lalu, membayar petugas, baik itu petugas kebersihan, keamanan dan sebagainya,” ucap warga asal Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut itu.
Dinas pun Kaget HTM Sempat Rp25 Ribu, Belum Termasuk Parkir
HTM kawasan wisata yang berada di Kampung Ketupat, Kecamatan Banjarmasin Tengah rupanya sempat mencapai Rp25 ribu. Tentu hal itu belum termasuk retribusi parkir. Kondisi itu lantas memantik reaksi masyarakat. Hal itu diketahui pada saat awal-awal kawasan itu mulai dibuka. Kepala Bidang Pariwisata dari Dinas Kebudayaan Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Banjarmasin, Fitriah mengakui polemik itu.
“Iya, kami juga menerima informasi itu dari masyarakat. Menanyakan tarif tiket masuk ke kawasan wisata di Kampung Ketupat,” ucapnya, ketika ditemui di Balai Kota. “Dari informasi masyarakat, HTM itu Rp25 ribu. Kami pun kaget karena angka HTM yang dipatok itu lumayan tinggi,” tambahnya.
Menindaklanjuti hal itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang ada di kawasan Kampung Ketupat beserta lurah setempat.
“Kami meminta agar dikoordinasikan lagi dengan pihak pengelola, agar HTM bisa dipertimbangkan lagi,” jelasnya.
“Tujuannya tentu agar tidak memberatkan pengunjung yang datang,” tekannya.
Fitriah tak menampik bahwa pihaknya dari Disbudporapar Banjarmasin belum melakukan pendekatan kepada para pengelola.
“Sejauh ini, kami hanya berkoordinasi kepada pihak pokdarwis atau lurah,” terangnya.
Jangan Sampai Tak Bisa Dinikmati Masyarakat
Wisata yang ada di kawasan Kampung Ketupat itu dulunya hanyalah lahan tidur. Seiring berjalannya waktu, investor tertarik melakukan penataan.
Revitalisasi lahan tidur itu berlangsung sejak Agustus 2022 lalu. Lahan yang digarap seluas 7.000 meter persegi. Dari total luasnya lahan itu, pembangunan kawasan wisata hanya menyasar di lahan seluas 800 meter saja. Selebihnya, hanya dirapikan.
PT Juru Supervisi Indonesia selaku investor yang disetujui menggarapnya. Bukan digarap Pemko Banjarmasin langsung. Pada tahun 2022 itu, PT Juru menyuntikkan dananya sebesar Rp6 miliar. Metode kerja sama yang diterapkan antara investor dan pemko adalah pemanfaatan lahan. Kesepakatan mengelola berlangsung hingga 15 tahun ke depan.
Ia mengaku sebenarnya cukup mengapresiasi terobosan yang dilakukan pemko dengan menggaet investor untuk memanfaatkan lahan tidur menjadi ruang publik sebagai tempat wisata. Namun, ia menekankan agar pemko juga bisa mendengarkan aspirasi dari masyarakat. “Kalau misalnya HTM itu menjadi beban, maka harus dievaluasi. Tidak menutup kemungkinan bertolak belakang dengan keinginan awal,” ucapnya, (6/7).
Keinginan seperti apa? Investasi yang seyogianya bisa bermanfaat atau bisa dinikmati seluruh masyarakat. Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu menekankan agar persoalan tersebut bisa dibahas bersama-sama. Tidak hanya melibatkan pemko dan investor, juga DPRD di komisi terkait atau banggar.
“Tapi, juga SKPD terkait lainnya. Tim aset daerah juga diperlukan untuk bicara bagaimana ke depan persoalan aset yang dibangun. Untung rugi, dan sebagainya,” tekannya. “Paling terpenting, jangan sampai investasi untuk kepentingan masyarakat justru tidak bisa dinikmati masyarakat itu sendiri,” tegasnya.
Lalu, bagaimana tanggapan pihak investor? Pengelola wisata Kampung Ketupat, Hendra menyampaikan pengelolaan kawasan itu murni dilakukan oleh pihak swasta. Ia bilang bahwa pihaknya mengaku kaget ketika harga tiket dianggap mahal.
“Sebelumnya, kami sudah melakukan survei terkait HTM itu,” ungkapnya, ketika dihubungi melalui sambungan telepon, kemarin.
Menurutnya, pihaknya tidak perlu melakukan sosialisasi terkait HTM. Alasannya, karena pihaknya adalah pihak swasta murni. Tanpa ada campur tangan pemerintah setempat. “Terserah kami mau buka kapan, dan buka harga,” tekannya.
Hendra mengatakan bahwa HTM itu sebenarnya sudah disesuaikan. HTM diberlakukan bervariatif selama sepekan. Pertimbangannya, selain bisa menikmati apa saja fasilitas yang ada di kawasan tersebut, juga mendapatkan minuman secara cuma-cuma. Selain itu, untuk membatasi jumlah kunjungan.
“Istilah kami, pengunjung bukan beli tiket. Tapi beli minuman, bisa ditukar dengan harga yang sama. Seharga tiket itu,” ucapnya. “Tiket itu juga termasuk dengan menikmati fasilitas atau wahana bermain untuk anak-anak yang disediakan di sana,” tambahnya. Sebagai investor, Wahyu menjelaskan bahwa pihaknya sejauh ini belum berbicara pada bisnis. Tapi, lebih ditujukan kepada pengunjung yang benar-benar mau berwisata dan menikmati kuliner di kawasan tersebut.
“Kalau kami bebaskan tanpa tiket, kami khawatir ada pengunjung yang membawa makanan dan minuman sendiri. Kalau seperti itu, kasihan UMKM yang berdagang di dalam,” jelasnya.
Apakah pembangunan di kawasan itu bakal ditambah? Menurut Wahyu, pembangunan sudah selesai. Namun, di dalam tidak hanya menjual tempat, makanan, dan minuman. Pihaknya juga bakal mengadakan sejumlah event di kawasan itu. “Tiap pekan, akan ada event. Seperti sebelumnya, ada gelaran Hari Musik Sedunia di situ. Nah, pada tanggal 14-17 Juli mendatang, juga akan ada event di situ,” ucapnya.