Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Sudah Tiga Pekan, Cabai Masih Mahal di Banjarbaru, Pedagang Terpaksa Kurangi Stok

izak-Indra Zakaria • Jumat, 3 November 2023 - 19:51 WIB
MASIH MAHAL: Seorang pedagang menjaga lapak cabainya di Pasar Ulin Raya, Kelurahan Landasan Ulin Tengah, Kecamatan Liang Anggang, Kamis (2/11). (BAYU ADITYA RAHMAN/RADAR BANJARMASIN)
MASIH MAHAL: Seorang pedagang menjaga lapak cabainya di Pasar Ulin Raya, Kelurahan Landasan Ulin Tengah, Kecamatan Liang Anggang, Kamis (2/11). (BAYU ADITYA RAHMAN/RADAR BANJARMASIN)

Sudah beberapa pekan berlalu, harga cabai masih mahal di Banjarbaru. Para pedagang sampai harus mengurangi stok, agar modal yang dikeluarkan tidak membengkak.

Hendri misalnya, seorang pedagang di Pasar Ulin Raya, Kelurahan Landasan Ulin Tengah, Kecamatan Liang Anggang ini mengurangi stok cabai japlak yang dijualnya.

Saat harga cabai japlak masih Rp35 ribu sekilo, Hendri mengaku bisa menyetok 20 kilogram per hari. Namun kini cuma 10 kilogram. "Sudah hampir tiga pekan, harga cabai japlak masih Rp80 ribu sekilo. Terpaksa modalnya hanya bisa menyetok 10 kilogram sehari," katanya kepada Radar Banjarmasin, Kamis (2/11). 

Ia mengungkapkan, harga dari para petani cabai japlak di Banjarbaru memang sudah tinggi, berkisar Rp68 ribu sampai Rp70 ribu per kilogram. "Bisa juga lebih mahal dari itu, tergantung kualitasnya. Tak bisa juga dapat stok yang banyak dari petani, karena harus membagi dengan sejumlah pasar di Banjarbaru," paparnya. Menurut Hendri, kenaikan harga cabai karena faktor cuaca pada musim kemarau yang mengakibatkan banyak petani gagal panen. "Banyak lahan petani yang kering, bahkan ada juga yang terbakar akibat cuaca panas," ujarnya. 

Dari pantauan Radar Banjarmasin, cabai japlak di Pasar Ulin Raya masih Rp80 ribu sekilo. Cabai merah besar juga mengalami kenaikan, normalnya Rp35 ribu menjadi Rp50 ribu per kilogram. "Begitu juga cabai hijau besar, semula harganya Rp25 ribu menjadi Rp35 ribu sekilo, ada kenaikan sebesar Rp10 ribu," terang Hendri. 

Sementara itu, warung makan juga ikut terdampak dengan naiknya harga cabai. Sebab modal belanja bahan-bahan jualan mereka jadi lebih besar.

Seperti yang diungkapkan Susanti, pemilik rumah makan Dapur Jawa di Landasan Ulin Utara. Ia mengaku harus menambah modal untuk membeli bahan sambal, seperti cabai japlak, cabai merah besar, cabai hijau besar, dan bumbu lainnya. "Dulu Rp200 ribu cukup, sekarang Rp400 ribu sudah pas-pasan," ungkapnya.

Agar modal keseluruhan tidak membengkak, Susanti memilih menekan anggaran belanja sayur. "Jadi mencari sayur yang harganya murah. Misal kacang panjang harganya murah, maka bikin menu sayur dari kacang panjang. Kalau sambal, saya enggak mau merubah takaran. Kalau berubah, takutnya pelanggan kabur," tambahnya. 

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Banjarbaru, Abu Yajid Bustami sebelumnya menyatakan, harga cabai naik diakibatkan oleh musim kemarau panjang yang mengganggu produksi. "Pertumbuhan cabai yang ditanam petani kita di Banjarbaru menjadi kurang maksimal dan produksi jadi menurun, itulah sebabnya harga naik," jelasnya.

Ia mengaku sudah melakukan survei lapangan ke para petani cabai di Banjarbaru yang mayoritas menanam cabai rawit japlak dan didapati pertumbuhan cabai sudah dalam kondisi bagus. "Alhamdulillah, cuaca mulai mendukung, Banjarbaru sempat diguyur hujan, jadi untuk pengairannya mulai membaik," ujarnya.

Lebih lanjut, Yajid menyampaikan, dengan membaiknya hasil pertanian cabai di Banjarbaru, kemungkinan dalam waktu dekat harga cabai sudah mengalami penurunan. "Lalu dalam satu bulan ke depan, Insya Allah panen cabai rawit japlak dari para petani di Banjarbaru dapat mengubah harga cabai normal kembali," pungkasnya. (mr-159/yn/ris)

 
 
Editor : izak-Indra Zakaria