Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Suku Dayak Deah Balangan Lakukan Ritual Melatu Wini, Supaya Benih Padi Mengembara

izak-Indra Zakaria • 2023-12-02 11:16:48
TANAM BENIH: Warga Dayak Deah di Desa Liyu, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan melakukan ritual Melatu Wini untuk menanam padi. (Foto: M Dirga)
TANAM BENIH: Warga Dayak Deah di Desa Liyu, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan melakukan ritual Melatu Wini untuk menanam padi. (Foto: M Dirga)

Suku Dayak di Kalimantan Selatan memiliki ragam tradisi dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Seperti masyarakat adat Dayak Deah di Desa Liyu, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan. Kehidupan mereka tidak lepas dari berbagai ritual dan tradisi. Salah satunya ialah Melatu Wini.

****

Melatu Wini merupakan proses bercocok tanam. Ada pembacaan mantra dan doa menggunakan bahasa Bawo kepada sang pencipta dan pemelihara padi. Tujuannya agar benih yang ditebar (tanam) kelak menuai panen yang berlimpah. Bahasa Bawo sendiri merupakan bahasa asli leluhur Dayak Deah. Dengan para penutur yang kian menipis, bahasa ini sebenarnya terancam punah.

Prosesi Melatu Wini biasanya dimulai sejak malam hari. Dimulai dari mempersiapkan bibit benih padi. Masyarakat setempat menyebutnya 'Paung'. Benih tersebut kemudian dibaca-bacai dengan doa, sembari dipercikkan air yang juga sudah dibacai doa dan mantra. Prosesi ini kerap disebut 'Batutungkal'.

Puncaknya adalah keesokan hari. Ritual utamanya menanam padi atau 'Manugal'. Tanah dilubangi menggunakan tongkat yang disebut halu atau alu oleh laki-laki, dan diikuti oleh barisan penabur benih. Pada umumnya benih yang ditanam ialah padi gunung, ketan, dan buyung. "Hampir sama seperti proses menanam padi di tempat-tempat lain. Tapi bedanya, saat 3/4 ladang sudah mulai terisi, harus istirahat terlebih dahulu. Tidak boleh diselesaikan dalam satu kesempatan. Sesi istirahat ini disebut 'Ngasok Miah'," beber salah satu tokoh adat Dayak Deah Desa Liyu sekaligus aktivis pelestari Melatu Wini, Ruwit.

Momentum istirahat itu diisi dengan ritual tarian khusus yang disebut 'Ngengkulukng' atau Kurung-Kurung. Tarian ini merupakan prosesi wajib yang harus selalu ada di setiap Melatu Wini. Tujuannya untuk menghibur para petani yang lelah sehabis melakukan tanam padi.

Ngengkulukng ini biasanya dilakukan oleh beberapa orang. Pembagiannya, tiga orang memainkan alat musik tradisional, dua orang memegang bambu atau duri sebagai media permainan. Sedangkan sisanya menari sambil melompat di tengah media bambu atau duri.

Setelah sesi ini, barulah dilanjutkan proses menanam padi tadi hingga seluruh ladang terpenuhi. Prosesi Melatu Wini biasanya diakhiri dengan ritual menebang pohon buatan. Pohon ini merupakan tumbuhan asli yang dipotong dahannya, hingga menyisakan batang utama dan ranting. Di ranting-ranting tersebut, ditaruh berbagai sesajen. Mirip seperti pohon pinang yang ada di tiap lomba-lomba tujuh belas Agustusan.

Setelah pohon berisi sesajen tadi ditebang, proses Melatu Wini dinyatakan selesai. "Sederhananya, ritual ini mengajarkan bagaimana kita menghargai sebuah proses. Kami (masyarakat Dayak Deah, red) meyakini, setiap benih padi itu memiliki ruh atau nyawa. Menanamnya pun seperti membesarkan anak sendiri. Harus melalui cara khusus agar hasilnya sesuai harapan. Seperti idiom 'apa yang kita tanam, itu yang kita petik," ucapnya.

Kepala Adat Dayak Deah Desa Liyu, Ali Ancen menambahkan ritual Melatu Wini sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Dalam kepercayaan pihaknya, proses Melatu Wini digambarkan seperti 'Manulakakan' atau melepas benih yang berisi ruh tadi untuk mengembara. "Ada bacaan (mantra) khusus saat melepas benih itu mengembara. Proses pengembaraan benih ini berlangsung selama 5 bulan 10 hari. Saat pulang dari perjalanan itu, benih tadi membawa keberkahan dalam wujud padi yang sudah menguning dan siap dipanen," ujarnya.

Ali Ancen melanjutkan, nilai lain yang bisa diambil dari Melatu Wini adalah momentum mengumpulkan seluruh keluarga besar Dayak Deah. "Sebagai sarana pemersatu juga. Mirip dengan hari raya Idul Fitri-nya umat Islam. Jadi keluarga yang jauh bisa berkumpul kembali," ujarnya.

Menurut Ali Ancen, pelaksanaan Melatu Wini wajib hukumnya. Jika tidak dilaksanakan, maka terancam akan gagal panen. Bisa karena serangan hama, atau padinya kopong (kosong). "Itu memang terbukti dalam beberapa tahun belakangan. Hasil panen tidak sesuai harapan. Makanya kami munculkan lagi ritual ini. Melatu Wini tahun 2023 ini merupakan kali kedua setelah sempat terhenti beberapa lama. Harusnya tiap tahun ada," bebernya.

Camat Halong, Rahmadi mengatakan pihaknya akan berupaya maksimal agar tradisi budaya ini bisa terus lestari. "Sesuai pernyataan bupati yang menyebut ada penambahan anggaran untuk Dana Desa di tahun 2024, kami harap kegiatan Melatu Wini ini bisa dianggarkan di Dana Desa," kata Rahmadi.

Selain itu, Rahmadi juga berpesan kepada generasi muda agar tetap mencintai budaya lokal di tengah masifnya pengaruh budaya luar. "Di era teknologi seperti saat ini, jangan sampai kita melupakan budaya lokal. Mari kita cintai budaya yang ada di Desa Liyu, salah satunya Melatu Wini ini," tutup Rahmadi. (*)

Editor : izak-Indra Zakaria