Peristiwa langka terjadi di Kalsel Selasa (13/2). Dalam sehari, terjadi dua kali gempa di Bumi Lambung Mangkurat. Berdasarkan data BMKG, gempa pertama terjadi pada pukul 09.22 Wita dengan berkekuatan 4,7 Magnitudo. Kemudian pada pukul 15.09 Wita terjadi gempa susulan dengan kekuatan guncangan lebih rendah 3,3 Magnitudo.
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kalsel, Karmana membeberkan data gempa bumi yang dirilis Stasiun Geofisika Balikpapan, episentrum gempa bumi pertama terletak di darat pada jarak 19 kilometer arah timur laut Banjarmasin dengan kedalaman 10 Km.
Sedangkan yang kedua jarak episentrum gempa berada di 22 Km arah Timur Laut Banjar, Kalsel pada kedalaman 10 km. “Dengan memperhatikan lokasi episentrum dan kedalaman hiposentrumnya, kedua gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas patahan lempengan Meratus,” jelas Karmana.
Pada gempa pertama, kata Karmana, menimbulkan guncangan di tiga daerah. Kota Banjarmasin, Kabupaten Tapin, dan Kabupaten Barito Kuala. “Dampak getaran yang dirasakan masuk kategori III MMI. Getarannya terasa nyata dalam rumah seolah ada truk yang lewat,” kata Karmana.
Selain wilayah Kalsel, dampak gempa ini juga terasa hingga ke Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Seperti Kota Sampit, Pulau Pisau, dan Kota Palangka Raya.
Kemudian untuk gempa bumi yang kedua, estimasi luas peta guncangan gempa buminya lebih kecil. “Getaran gempa bumi susulan ini terasa di Kecamatan Sambung Makmur, Kabupaten Banjar. Tipenya mirip dengan getaran akibat lalu-lalang truk,” jelasnya.
Meski dilanda dua kali gempa dalam sehari, Karmana menegaskan bahwa fenomena alam ini tidak berpotensi terjadi tsunami. “Karena dari hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini memang tidak berpotensi tsunami,” tekannya.
Karmana mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. “Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG, dan disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi,” tegasnya.
Karmana meminta masyarakat menghindari berada di bawah bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa. “Sebelum kembali ke dalam rumah, periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal Anda cukup tahan gempa, dan tidak ada kerusakan yang membahayakan kestabilan bangunan,” imbaunya.
Minta Masyarakat Tetap Tenang
Gubernur Kalimantan Selatan, Sahbirin Noor atau Paman Birin melalui Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, Raden Suria Fadliansyah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang. Menurut Suria, pihaknya bersama BPBD kabupaten/kota, BMKG, serta instansi terkait terus melakukan koordinasi dan analisis digital terkait peristiwa alam tersebut.
"Dari laporan BPBD Kalsel dan analisis BMKG, peristiwa gempa yang terjadi masuk kategori dangkal di bawah 50 km, dan getarannya terjadi di sebagian wilayah Tapin, Batola, dan Kabupaten Banjar serta sebagian Kota Banjarmasin," terang Suria.
Berdasarkan data BPBD Kalsel, gempa yang terjadi sekitar tujuh detik. “Di lokasi bencana gempa tidak terdapat bangunan yang roboh," ucapnya.
Suria kembali mengingatkan agar masyarakat tetap tenang dan jangan mudah terpengaruh pada informasi yang kurang valid.
Bangunan Retak
Getaran gempa begitu terasa di Kabupaten Tapin, (13/2) pagi. Bahkan juga merusak bangunan. Kepala Pelaksanaan BPBD Tapin, Raniansyah menyebut ada dua bangunan yang terdampak. “Kantor Kecamatan Binuang mengalami rusak ringan, sebagian dinding retak dan plafon jatuh. Kantor Kelurahan Raya Belanti sebagian dinding bangunan retak,” jelasnya.
Gempa juga membuat para pegawai di perkantoran Pemerintah Kabupaten Tapin keluar dari ruangan. Pengunjung perpustakaan yang kebetulan anak-anak dari TK KB Aisyiyah berjumlah 65 juga ikut keluar. “Jadi pegawai di sini yang langsung mengarahkan untuk keluar dari area perpustakaan,” ucap salah satu staf di Perpustakaan Tapin, Ufik.
Warga Kecamatan Binuang, Mislani juga merasakan getaran saat gempa terjadi. “Getarannya memang terasa,” akunya.
Warga lainnya, Putri Elvira Puspa Rani langsung keluar membawa anaknya yang masih bayi. “Saya sempat panik, makanya langsung keluar rumah. Ternyata tetangga lain juga mengalami hal yang sama,” tutur warga Kelurahan Kupang ini. (*)
Editor : Indra Zakaria