Sudah menjadi semacam aksioma bahwa Pulau Kalimantan itu bebas gempa. Sekarang, kita baru tahu ada yang namanya Patahan Meratus.
***
BANJARMASIN - Lindu (gempa bumi) dengan kekuatan magnitudo 4,7 “menggoyang” Kalimantan Selatan, Selasa (13/2). Siaran pers Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan, gempa terjadi pada pukul 09.22 Wita. Titik gempa berjarak 19 kilometer arah timur laut Banjar, di kedalaman 10 kilometer.
Gempa itu dirasakan masyarakat Banjarmasin. Laporan lain menyebutkan, gempa juga dirasakan warga provinsi tetangga, seperti di Sampit, Pulang Pisau dan Palangkaraya. "Seperti ada truk besar yang sedang melintas di depan rumah. Gempa terasa nyata,” tulis Kepala Stasiun Geofisika Balikpapan, Rasmid di laman BMKG.
BMKG menerangkan, ini gempa dangkal yang tidak berpotensi tsunami. Dipicu aktivitas Patahan Meratus. BMKG meminta masyarakat menghindari bangunan yang retak atau labil. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, Raden Suria Fadliansyah mengatakan, gempa dirasakan di tujuh titik.
"Tidak ada bangunan yang roboh atau rusak membahayakan," klaim Suria. Di Banjarmasin, gempa dirasakan Johanie, warga Jalan Malkon Temon, Banjarmasin Utara. "Tadi saya kira pondasi rumah yang bermasalah. Baru sadar ada gempa ketika membaca berita," ucapnya.
Senada dengan warga Handil Bakti, Barito Kuala, Gusti Raha Fuadana. "Saya sempat merasakan goyangan selama dua detik," ungkapnya. Sementara itu, BPBD Banjarmasin menerima laporan dua bangunan rusak. Pertama, rumah retak dan ambles di Jalan Antasan Raden RT 5 Teluk Tiram, Banjarmasin Barat. Semula dikira imbas gempa, tetapi ternyata akibat abrasi.
Rob melanda kawasan Teluk Tiram sejak pukul 7 malam. Baru surut menjelang subuh. Limpasan air sungai sempat merendam jalan raya. Pantauan Radar Banjarmasin, rumah milik Supian itu berada di pinggir sungai. Kerusakannya cukup parah.
Tiang depan rumah itu patah. Bangunan rumah sepenuhnya ambles. Supian menuturkan, sebelum kejadian, ia dikagetkan bunyi retakan nyaring. Sekitar pukul 02.00 dini hari. "Saya langsung keluar rumah bersama dua anak saya," ucapnya.
"Sesudah itu, sekitar 30 menit kemudian, rumah ini ambles. Rumah saya seperti bergeser," ungkapnya. Rumah itu sebenarnya sudah berumur puluhan tahun. Namun, usai diamuk kebakaran, dibangun ulang pada awal 2017.
"Rumah ini sempat ludes terbakar. Yang bisa dimanfaatkan hanya tiang pondasinya," tutupnya pria 50 tahun itu. Supian lalu mengungsi ke rumah keluarganya, masih di kawasan Teluk Tiram. Komandan Regu (Danru) III BPBD Banjarmasin, Denny S menegaskan rumah ambles itu bukan akibat gempa.
Ketika ditinjau, tiang pondasi rumah sudah patah. "Dugaan kami, karena tiang pondasinya sudah lama. Tidak kuat lagi menahan beban," ujarnya. "Kami mengimbau pemilik rumah berhati-hati. Karena belum bisa dinyatakan aman. Pasang surut air sungai juga masih terjadi," pesannya.
Laporan kedua datang dari SDN Sungai Jingah 5. Sekolah ini berada di Sungai Andai, Banjarmasin Utara. Pascagempa, ada dua ruangan yang rusak. Yakni ruang dewan guru dan toilet siswa. Di kedua tempat itu, lantai tegel dan dinding tampak retak. Jendela dan pintunya tampak miring.
Salah seorang guru, Panji Rifki Maulana menceritakan, saat gempa para pengajar sedang berada di dalam ruangan dewan guru. Mereka pun berlarian keluar. "Karena getarannya membuat kursi dan lemari bergoyang," ungkap guru olahraga itu.
"Saya lihat status teman-teman, buka Google, eh ternyata benar ada gempa di Kalsel," serunya. Aktivitas belajar mengajar pun dihentikan lebih awal. Khususnya bagi siswa kelas I sampai kelas III.
Dalam kasus kedua ini, BPBD belum berani memastikan apakah kerusakan sekolah itu diakibatkan gempa. "Informasi yang kami terima, ada beberapa retakan kecil yang sudah muncul jauh sebelum gempa," kata Denny.
"Keterangan para guru memang ada getaran, tapi tidak terlalu kencang," tambahnya. Kendati demikian, demi mencegah yang terburuk, Denny mengimbau para guru agar tidak beraktivitas di ruangan tersebut.
"Kami sudah melihat kondisinya. Beberapa bagian pada bangunan tersebut memang rusak," ujarnya. Dijelaskan Denny, ada retakan sepanjang 10 meter di lantai dan plafon pada ruang guru. Ditambah retakan sepanjang 2 meter di dinding.
Kalimantan Tidak Bebas Gempa
PADA tahun 2021, Universitas Padjadjaran mengeluarkan kajian seismotektonik. Fokus kajiannya di sekitar Pulau Kalimantan. Disebutkan, gempa yang terjadi di Pulau Kalimantan kemungkinan besar didominasi oleh aktivitas sesar atau patahan pada lapisan penyusun bumi.
Ada tiga sesar besar yang ditemukan. Yakni Sesar Meratus, Sesar Tarakan dan Sesar Mangkalihat. Ketiga ruas sesar tersebut di atas 100 kilometer. Berpotensi menimbulkan gempa bumi 7 magnitudo. Sesar Meratus merupakan sesar dorong yang terdapat di sebelah selatan Kalimantan. Sesar Tarakan terletak di bagian utara. Memanjang dari daratan hingga laut lepas di bagian barat laut Sulawesi. Sedangkan Sesar Mangkalihat terdapat di
pesisir timur Kalimantan, dan terlihat bergabung dengan Sesar Palu-Koro di barat laut-utara Sulawesi.
Sebelumnya, beberapa peneliti asing mengaku menemukan Sesar Adang di Kalbar, Sesar Tinjia di Sarawak, Sesar Sangkulirang di Kaltim, dan Sesar Paternoster di Selat Makassar. Hasil kajian itu juga memuat sejumlah peristiwa gempa yang pernah terjadi di Pulau Kalimantan.
Akhir 2015, gempa magnitudo 6,1 mengguncang Tarakan di Kaltara. Lalu pada 2018, gempa magnitudo 4,2 melanda Katingan, Kalteng. Dalam kesimpulannya, meski Pulau Kalimantan mempunyai tingkat aktivitas gempa yang rendah, namun beberapa wilayah yang berdekatan dengan zona sesar besar tetap perlu diwaspadai.
Pelajaran Baru
Sekdako Banjarmasin, Ikhsan Budiman mengatakan, gempa ini menjadi pengalaman baru bagi masyarakat Kota Seribu Sungai. Maka sedikit guncangan akan membuat warga panik. Sekda pun meminta masyarakat tetap tenang.
"Ini memang hal yang baru bagi kita. Mungkin kita harus belajar dengan daerah lain yang pernah mengalami peristiwa seperti ini (gempa)," katanya Selasa (13/2) siang di Balai Kota.
"Intinya, pelajaran yang bisa diambil adalah bahwa Pulau Kalimantan tidak sepenuhnya bebas dari gempa," tambahnya. Maka ada baiknya masyarakat Banjarmasin belajar tentang cara menghindari korban luka atau jiwa jatuh ketika terjadi gempa bumi.
Contoh, segera keluar dari rumah atau kantor, menuju jalan atau lapangan terbuka ketika gempa. Disinggung terkait laporan kerugian atau dampak gempa, Ikhsan mengaku belum menerimanya. "Sampai saat ini belum ada laporan infrastruktur yang rusak parah,” pungkas Ikhsan. (*)