Ia mengaku sudah mengutarakan keluhannya tersebut kepada pihak dinas terkait, namun hingga saat ini tidak digubris. Berbeda dengan Wardah, Imah (24) pedagang lauk pauk mengatakan bahwa dirinya optimis akan bertahan berjualan di RTH Alun-alun Ratu Zalecha hingga selesai pasar wadai.
"Insya Allah bertahan sampai selesai. Kami hanya ingin bupati datang langsung ke Pasar Wadai mengunjungi lapak dagangan kami," ringkasnya.
Dikonfirmasi, Kabid Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Banjar, Syahid mengaku di hari ketiga Ramadan ini pengunjung sudah mulai ramai mendatangi Festival Ramadan. "Sepinya kemaren itu karena hujan, syukur peserta masih bisa tampil," ucapnya.
Syahid mengakui Pasar Wadai tersebut tidak ada pembukaan karena sang pucuk pimpinan daerah memiliki agenda Safari Ramadan. "Jadi arahan beliau kegiatan tetap dijalankan, jadi kami mulai dari hari pertama Ramadan," ucapnya.
Tak hanya itu, hujan yang sempat terjadi di hari pertama puasa pun, menurutnya menjadi salah satu dampak sepinya Pasar Wadai, sehingga membuat pedagang kaget.
"Kalau mereka tahu dan mau bertahan, pelan-pelan pengunjung mungkin mulai naik ini," ungkapnya.Menyikapi pedagang yang sudah mulai angkat kaki, Syahid mengaku pihaknya juga telah melakukan pendekatan kepada para pedagang.
"Karena ini di bawah PD Pasar dan Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, kami juga terhubung dalam grup, kami meminta agar diisi lagi. Cuma kami tidak bisa memaksa jika mereka tetap ingin pindah lapak," bebernya.
Selain itu, untuk meramaikan dagangan di Pasar Wadai, Disbudporapar Banjar juga telah membagikan 400 voucher senilai Rp 35 ribu untuk para staf dan PTT di seluruh SKPD di Kabupaten Banjar.
"Ada 400 voucher yang kita bagi, jadi kalau pakai voucher tidak bisa diuangkan, otomatis mereka harus berbelanja ke pedagang, hasilnya pun pedagang juga bisa menukar voucher tersebut ke kami," pungkasnya. (*)