Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Ekspedisi Gunung Hauk Bersama Walhi Kalsel (Bagian 3), Sambung Tulang Sambung Hidup

Wahyu Ramadhan • Rabu, 3 April 2024 - 17:21 WIB
MENGURAS TENAGA: Porter ketika menjajal Tanjakan Maikang. Ini salah satu rute berat yang mesti dilalui ketika menuju Auh Gayaha. (Foto: Wahyu Ramadhan/Radar Banjarmasin)
MENGURAS TENAGA: Porter ketika menjajal Tanjakan Maikang. Ini salah satu rute berat yang mesti dilalui ketika menuju Auh Gayaha. (Foto: Wahyu Ramadhan/Radar Banjarmasin)

 

Ada pohon yang selalu muda. Ada Sapah Bulan yang konon berasal dari ludah seorang raja.

 

    ***
TEPAT pukul 10.00 Wita, kami tiba di Sungai Jalitik. Di sini, kami beristirahat. Yang lain mengukur lebar sungai dan mendata serangga. Salah satu serangga yang kami temukan adalah kaki seribu. Masyarakat adat Dayak Pitap menyebutnya Sapah Bulan. 

Ukurannya hampir sebesar kelingking orang dewasa. Serangga berwarna merah tua itu menggerayangi punggung telapak tangan Rabadi. Ia tidak merasa geli atau takut. Sebaliknya, ketika saya memotretnya, Rabadi menyunggingkan senyum. 

Di kalangan masyarakat adat, ada kisah yang dituturkan secara turun temurun tentang Sapah Bulan. Alkisah, serangga ini tercipta dari air ludah seorang raja yang sedang asyik menginang.

"Air ludah menginang itu berwarna merah. Ketika raja meludah, jadilah serangga ini," tutur Rabadi. Porter lain yang mendengarnya tampak manggut-manggut.

Hanya berjarak 20 meter, ada sebuah air terjun mini. Tebingnya berundak-undak seperti tangga. Airnya jernih dan dingin. Saya penasaran dengan bagian atas air terjun setinggi dua meter itu. Tetapi, bebatuan itu sulit dipanjati. Permukaannya ditutupi banyak lumut. Licin.

Ketika perjalanan dilanjutkan, gerimis turun. Kami menyelimuti tas dengan kantong plastik, dan mengenakan jas hujan. Cuaca sedang bercanda. Usai mengenakan jas hujan, hujan justru mereda. 

Tujuan kami adalah hulu Sungai Iyam. Rencananya, di sana kami akan beristirahat lebih lama.

Tak mudah untuk mencapainya, medannya edan. Kami dihadapkan dengan tanjakan terjal. Untuk bisa terus berjalan, kami harus meraih batang pohon atau akar yang menjuntai.
Beberapa meter menanjak, akhirnya landai. Tapi, rasa lega itu hanya sementara.

Kami dihadapkan pada Tanjakan Maikang. Tanjakan sepanjang hampir 200 meter. Di situ, saya melihat pohon setinggi 12 meter. Kulitnya tampak terkelupas parah.

Saya pernah melihat pohon dengan kondisi serupa dalam sebuah video yang diunggah di Facebook. Di video itu disebutkan kulit pohon yang terkelupas itu akibat "garukan" beruang.

Ternyata itu cuma asumsi. Hasan memberikan jawaban lain. Ia bilang, kulit pohon itu terkelupas dengan sendirinya. Bukan karena beruang. "Ini pohon kayu palawan. Pohon ini selalu tampak muda. Kalau usianya sudah mulai tua, kulitnya akan terkelupas dengan sendirinya. Begitu seterusnya," terang Hasan.  

Kami tiba di hulu Sungai Iyam pukul 12.15 Wita. Di sini saya mencopot kaus, dan menjemurnya. Kaus itu basah oleh keringat. Mengenakan pakaian basah seperti menambah berat beban bawaan.

Di hulu Sungai Iyam, kami beristirahat cukup lama. Berjam-jam. Sementara tim memulai pendataan. Secara acak, namun terukur. Dari satu tempat di ambil beberapa sampel. Baik itu tumbuhan maupun binatang. Salah seorang pendata, Pius Rinaldi Indra Gampung mengatakan luas area pendataan bervariatif. Dari 20x20 meter, 10x10, 5x5, dan 2x2 meter. "Tergantung spesifikasi tanaman yang didata," ucap anggota Mapala Graminea dari Fakultas Pertanian di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) itu.

Hasil hari pertama, Pius sudah mendata banyak jenis akar-akaran hingga pepohonan. "Misalnya, saat kita memasuki muara hutan itu ada pohon mindai atau mantapau. Lalu ada pohon hara, kusi, dan bambu," ungkapnya.

Pius juga mendata kegunaan tumbuhan yang ditemui. Narasumbernya adalah Hasan dan porter lainnya. Misalnya kegunaan pohon bilayang, tarap, dan alaban untuk bahan baku pembuatan arang. Lalu ada pohon biuan. Kayunya berkhasiat sebagai obat penderita ambeien dan muntaber. Caranya, kayu biuan direbus dan airnya diminum.

Ada pula pohon dadap. Pohon berduri ini biasanya menjadi perlengkapan aruh (kenduri atau selamatan). Ketika aruh, masyarakat adat menari-nari sambil menggesekkan badannya ke batang pohon yang berduri itu. "Yang digunakan biasanya pohon dadap berukuran kecil. Kalau yang besar atau yang sudah tinggi, durinya hanya tumbuh di bagian atas pohon. Sulit untuk dijangkau," jelas Pius.

Terakhir tumbuhan bakatan, kutula, akar tarikan, indingan, dan miabung. Nama tumbuhan yang disebut terakhir, biasa digunakan sebagai bahan ramuan. "Mereka bilang untuk sambung tulang dan sambung hidup. Ramuan ini hanya bisa diracik orang khusus," ucapnya.
"Nama-namanya masih sebutan masyarakat. Nanti kami identifikasi kembali nama latin, atau nama Indonesianya," katanya.

Bermalam di Hutan Bambu

Perjalanan berlanjut, tujuannya adalah Sungai Auh Gayaha. Jalannya lebih landai, lebih santai. Kami tiba di Auh Gayaha pada sore hari. Di sini kami mendirikan tenda. Bermalam di antara rimbunnya batang pohon bambu.

Agak ngeri sebenarnya, mengingat hutan bambu biasanya dihuni ular berbisa. Kekhawatiran saya itu rupanya ditangkap Hasan. Ia menenangkan saya. Ia bilang, kawasan ini sudah sering dijadikan tempat bermalam. Termasuk bagi masyarakat yang pergi ke hutan untuk berburu. "Tenang saja. Aman," jaminnya.

Lokasi kami bermalam berjarak sekitar tujuh meter dari Auh Gayaha. Sungai berarus sedang, dengan hamparan batu-batu besar. 

Sungai selebar empat meter di kaki Gunung Hauk itu tak bisa digunakan untuk berenang, tapi bisa untuk berendam santai.Tak terasa malam pun tiba. Usai makan malam, saya masih punya tenaga untuk berbincang dengan porter. Niat hati ingin mengulik informasi. 

Saya mendatangi tenda yang dibangun khusus sebagai dapur. Berbeda dengan tenda yang kami gunakan untuk tidur, tenda ini tidak memiliki dinding. Hanya terpal yang ujungnya diikatkan ke pohon satu ke pohon lainnya, hingga membentuk atap. Sedangkan alasnya, menggunakan matras.

 Di atas matras itu, para porter menggelar lapak domino. Saya pun tertarik bergabung. Lawan bermain saya adalah Hasan, Ayun, dan Rabadi.

Main domino tentu lebih asyik bila ada yang diperjuangkan. Misalnya, bertahan agar tidak terkena hukuman.Malam itu, pemain yang kalah mengaitkan tali yang diikat batu ke telinga. Seperti anting. Batu itu baru bisa diturunkan apabila si pemain menang.

Putaran pertama, saya memang lolos. Sesudahnya, sungguh tidak mudah. Hasan begitu mahir. Ia mengontrol permainan. Kalah menang silih berganti. Permainan itu memantik peserta ekspedisi yang belum tidur merapat. Mereka juga membuat seceret kopi. Permainan pun semakin hangat.

Malam itu saya lebih banyak kalah. Mata yang mengantuk membuyarkan konsentrasi saya dalam bermain. "Sudah bang. Jangan dipaksakan bila tak kuat. Tidur saja di dalam tenda," ucap Ayun. Rekan-rekan ekspedisi yang menonton tergelak. Mereka seperti bahagia melihat saya tersiksa.Bagi kami yang berada di kesunyian hutan belantara dan pegunungan, bermain domino adalah pelepas penat.Sebelum pamit tidur, di hadapan Hasan, saya berjanji bakal mengalahkannya di hari selanjutnya.

Dari dalam tenda, saya mendengar arus Sungai Auh Gayaha. Tak lama gerimis turun. Menepuk lembut tenda. Mata pun tertutup. (bersambung)

 
 
 
 
 
 
 
Editor : Indra Zakaria