Ikan itu mengaku dirinya Raja Ikan Todak. Dan ia akan menyanggupi permintaan dari Datu Mabrur karena kalah menyerangnya. Datu Mabrur pun kemudian merawat luka Raja Todak. Sang Raja Ikan Todak ini pun senang menawarkan Datu Mabrur untuk datang ke istananya dengan perhiasan yang banyak.
Datu Mabrur menolak serata menjelaskan bahwa pertapaannya bukan untuk itu. Kemudian Raja Ikan Todak pulang dan Datu Mabrur masih bertapa,
Getaran bersuara gemuruh besar dari dalam laut pun dirasakan Datu Mabrur, ternyata ribuan ikan mendorong daratan. Saat itu Ikan-ikan itu meneriakkan kata: Saijaan. Sebuah pulau mengapung di hadapan Mabrur. Kemudian pulau itu menjadi tempat tinggal Mabrur dan diberi nama Pulau Halimunan karena berkabut, seperti dilindungi pagar halimun.
Singkat cerita Pulau Halimunan berganti nama jadi Pulau Laut dan Ikan todak dan Saijaan yang artinya Semufakat, satu hati dan seiya sekata dijadikan simbol dan slogan Kabupaten Kotabaru. Dalam kisah ini diambil dari kisah Hikayat Saijaan dan Ikan Todak.
Watu Laso
Salah satu yang juga harus diketahui adalah Batu berbentuk Kelamin laki laki yang ada di Kotabaru. Letaknya batu ini di pinggir pantai Desa Kerayaan Kecamatan Pulau Laut Kepulauan. Warga Desa Kerayaan menyebut batu itu dengan nama berbahasa Mandar yaitu Watu Laso yang artinya batu yang berbentuk alat kelamin laki laki.
Penamaan itu karena mayoritas masyarakat suku di pulau tersebut adalah suku Mandar. Menurut warga setempat saat Radar Banjarmasin kesana mengatakan Watu Laso merupakan ikon dari Pulau Kerayaan. Makanya, setiap ada tamu dari luar datang pasti menyempatkan untuk melihat Watu Laso
tersebut. “Kalau jalan- jalan ke kampung kami sini Pulau Kerayaan. Rugi kalau tidak ke Watu Laso. Setau saya ini satu satunya di Kalimantan,” ungkap Badrul salah satu warga.
Namun di balik itu juga ada cerita yang menurutnya mistis di wilayah sekitar Watu Laso. Dimana pengunjung yang berpacaran jangan coba datang melakukan perbuatan asusila. “Kalau ada yang masih nekat melakukan hal yang tidak senonoh di sini, saya tidak menjamin pulang dalam keadaan baik baik saja,” jelasnya.
Untuk menuju ke Watu Laso ini, dari Tanjung Serdang atau pelabuhan ferry bisa ambil kanan jalan darat. Waktu yang ditempuh sekitar tiga jam baru sampai di salah satu Desa Tanjung lalak.
Dari Tanjung Lalak lanjut ke Pulau Kerayaan dengan menggunakan kelotok, waktu yang dibutuhkan sekitar 30 menit. Dengan biaya kelotok per orang Rp 25 ribu. Namun lebih murah apabila dicarter. Sekira Rp 200 ribu dengan kapasitas 20 sampai 30 orang.
Dari Pelabuhan Pulau Kerayaan, dilanjutkan perjalanan menggunakan sepeda motor menuju ke Watu Laso. Waktu yang dibutuhkan sekira lima sampai 10 menit. Dengan kondisi jalanan sudah semen lebar satu meter. Dan samping jalan, banyak semak belukar dan pepohonan Mangga.
Kompleks Makam Belanda
KOTABARU- Banyak yang belum mengetahui ada kompleks makam Belanda di Kabupaten Kotabaru. Ini sekaligus menandakan jejak penjajahan di daerah ini.
Kompleks makam tersebut terletak di Desa Sebelimbingan, Kecamatan Pulau Laut Utara, berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat kota. Dari pinggir jalan raya, masuk ke pemakaman itu sekitar lima menit, kira-kira 200 meter.
Saat Radar Banjarmasin mendatangi lokasi ini, kompleks pemakaman tak terurus. Semak belukar dan lumut menguasai area tersebut. Di beberapa titik, terlihat ada bekas tanah yang digali. Sebagian besar nisan sudah tak berada di tempat lagi.
Jika melihat plang yang masih berdiri di sana, kompleks pemakaman ini pernah diurus. Setidaknya ada yang mendirikan tanda petunjuk bahwa di lokasi tersebut ada kubur orang Belanda yang pernah tinggal di Kotabaru.
Kompleks pemakaman ini ada 18 nisan yang terbuat dari struktur bata dan semen yang tak utuh. Tulisan di nisan pun sudah tak terbaca lagi. Pudar digerus waktu.
Menurut informasi warga sekitar, kompleks ini pernah digali. Konon kabarnya untuk mencari harta karun.
Pulau Cinta
Di Kotabaru, ada sebuah pulau yang dinamakan Pulau Cinta. Ini adalah pulau kecil tidak berpenghuni yang terletak di Desa Teluk Aru Kecamatan Pulau Laut Kepulauan. Luas Pulau Cinta hanya sekitar 500 meter persegi.
Orang yang ingin berkunjung ke Pulau Cinta, biasanya bertolak dulu ke Wisata Pantai Teluk Aru. Dari sana, warga setempat langsung mengarahkan jalan menuju Pulau Cinta.
Menuju Pulau Cinta harus naik perahu. Tarif yang dikeluarkan pengunjung yang ingin ke Pulau Cinta tidak terlalu mahal. Yaitu Rp100 ribu satu perahu balapan pulang pergi. Perahu bisa mengangkut lima sampai sepuluh orang.
Lalu apa isi Pulau Cinta? Ternyata pulau ini tidak memiliki pantai, namun dikelilingi terumbu karang yang sangat memanjakan mata. Hamparan batu karang berwarna warni dengan ikan-ikan kecil yang terlihat berenang di sela sela batu karang.
Pulau Cinta biasanya ramai dikunjungi di hari-hari libur. Di sana, pengunjung menggantung botol yang sebagian bertuliskan nama. Semacam gembok di Jembatan Paris.
Masyarakat disana memang memiliki sebuah adat yang unik tentang jodoh, yaitu ritual Mallasuang Manu. Yaitu sepasang kekasih jika ingin jodohnya langgeng, harus menggelar ritual adat itu di sebuah batu yang bernama Batu Jodoh. Nah karena ini juga makanya diberi namanya Pulau Cinta. Banyak orang menggantungkan harapan cintanya di pulau ini.
Sebelimbingan, Kotanya Yang Hilang
Bicara tentang Sebelimbingan yang saat ini ramai diperbincangkan karena pusat pemerintah di Kotabaru telah pindah ke sini.
Di sini Radar Banjarmasin akan mengulas bagaimana sih sejarah Sebelimbingan ini yang belum banyak orang mengetahuinya.
Sebelimbingan dulunya merupakan pusat kota Pulau Laut sebelum berganti menjadi nama Kabupaten Kotabaru. Desa yang sekarang berada di Kecamatan Pulau Laut Utara itu. Berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat Kotabaru sekarang.
Dari sisi sejarahnya sejarah Kota Sebelimbingan tidak banyak yang tahu karena cerita ini hanya melalui mulut ke mulut saja. Salah satu peninggalan kota yang hilang itu yang masih bisa dilihat. Yaitu Makam Belanda yang terletak di Desa Sebelimbingan dan sedikit bekas
Rumah Sakit Belanda
Lebih mendalam Radar Banjarmasin juga diceritakan oleh H Adi Sutomo. Dia adalah anak yang bapaknya dan kakeknya pelaku sejarah berjayanya Kota Sebelimbingan.
Kala itu menurutnya, Sebelimbingan merupakan kota yang makmur kaya akan tambang batu bara bawah tanah. Tapi, pada saat itu dikuasai oleh penjajah Belanda. Pekerja didatangkan Belanda dari Jawa.
Adanya pertambangan membuat Sebelimbingan menjadi kota yang makmur dulunya. “ Hampir tak terasa kalau kita sedang dijajah," ungkap Tomo. Bahkan, fasilitas pun banyak. Seperti Masjid, jalan, dermaga, bioskop, kereta, rumah sakit jiwa untuk keluarga Belanda. Dan ada juga pabrik pengolahan batubara mentah.
Namun, kejayaan Sebelimbingan berumur pendek. Tahun 1930, Sebelimbingan mendadak menjadi kota mati. Tambang berhenti beroperasi dan sebagian penduduk pindah ke desa lain di pesisir yang sekarang ada di pusat Kabupaten Kotabaru.
Penyebabnya karena meledaknya lubang tambang yang menewaskan 415 pekerja di Kota Sebelimbingan. Setelah musibah ledakan, Belanda berangsur-angsur meninggalkan Sebelimbingan. Soal nasib pekerja dari Jawa, mereka diberi pilihan. Bertahan di Kotabaru, atau pulang ke kampung halaman. Kala itu banyak yang memilih menetap.
Yang bertahan, berjuang membangkitkan ekonomi Sebelimbingan. Berhenti menambang, penduduk beralih ke pertanian dan perkebunan.
Pada 1956 terjadi penyerangan dan penjarahan oleh kaum pemberontak atau dikenal gerombolan di Sebelimbingan. “Kakek kami pada saat itu menurut ceritanya lari ke Tanjung Batu,” ungkap Tomo. Pemberontak kala itu membabi buta membakar pasar dan tempat tempat keramaian. Warga juga membumihanguskan desa supaya tidak didatangi pemberontak lagi.
Kebakaran kala itu terjadi dimana-mana dan meluluhlantakkan Kota Sebelimbingan sampai salah satu masjid pun ikut terbakar. Dan membuat Sebelimbingan jadi kota mati kedua kalinya.
Suku Bajau di Kotabaru
Suku ini terbilang unik dan banyak memiliki keahlian yang sangat luar biasa salah satunya adalah perayaan hari jadi kabupaten, selalu ada ritual Selamatan Leut.
Dari penelusuran Radar Banjarmasin ke Johansyah tokoh adat Bajau Samah di Kotabaru. Suku Bajau berasal dari Johor, Malaysia. Tempat berdirinya Kerajaan Bajau.
Kerajaan ini dirundung musibah ketika Putri Pa'pu menghilang. Memicu pergolakan internal. Raja sontak menitahkan warganya untuk berpencar mencarinya. Berbekal ciri-ciri Pa'pu, banyak yang berlayar menuju timur.
Ada yang singgah ke Filipina. Ada pula yang terdampar di Pulau Lombok hingga ke Kendari. Hasilnya? Nihil. Sang putri tak pernah ditemukan. "Dari penuturan cerita, putri kabur karena kecewa dengan raja. Karena tidak merestui hubungannya dengan Maruni, seorang nelayan biasa," kata Johansyah. Misi pencarian berubah menjadi misi bertahan hidup. Banyak yang memilih untuk menetap karena betah.
Suku Bajau memang tak bisa dipisahkan dari laut. Mereka adalah pelaut dan pengembara yang ulung. Laut adalah kehidupan mereka. Beberapa anggota Suku Bajau terus berdatangan ke Bumi Saijaan. Hingga pada tahun 1949 tercetus pendirian sebuah perkumpulan orang Bajau di Kotabaru.
Kala itu, Kepala Desa Rampa bernama Dome. Wakilnya adalah Darman, ayah Johansyah. Perkumpulan itu masih bertahan sampai sekarang. Lalu, mengapa nama belakangnya ditambahi kata Samah? Menurut Johansyah, itu pesan orang tua mereka.
"Samah artinya sama rata. Tidak ada derajat dan kasta yang lebih tinggi. Tidak ada yang spesial," jelasnya. Dia berharap, filosofi tersebut akan selalu dipegang oleh anggota sukunya, tua atau muda. "Saya berharap, anak-anak Bajau Samah di Kotabaru bisa menjaga sejarah dan pesan ini," harapnya. (*)