Nasib Tragis Wisata Kampung Ketupat: Pemko Banjarmasin Enggan Ikut Campur
Wahyu Ramadhan• Jumat, 10 Mei 2024 - 00:15 WIB
RUSAK: Atap ampiteater Kampung Ketupat yang bolong, dipotret Senin (6/5). Objek wisata di Sungai Baru ini ditutup pengelola sejak sebelum Ramadan. (Foto: Wahyu Ramadhan/Radar Banjarmasin)
Sekdako Banjarmasin, Ikhsan Budiman angkat bicara perihal Kampung Ketupat di Sungai Baru yang berhenti beroperasi. Ia menegaskan, objek wisata di Banjarmasin Tengah itu dibangun dan dikelola investor. Sehingga pemko tidak bisa ikut campur. "Kami menghormati perjanjian kerja sama (dengan investor)," katanya, Rabu (8/5).
"Jadi sampai saat ini kawasan itu masih di bawah kewenangan pengelola," tambahnya. Menurut penuturan warga sekitar, Kampung Ketupat sudah ditutup sebelum bulan Ramadan kemarin gara-gara sepi pengunjung.
Namun, Ikhsan mengaku belum menerima laporan dari pengelola terkait nasib Kampung Ketupat. Jadi ia tak bisa memastikan, apakah mereka cuma "libur sejenak" atau berhenti operasional.
Yang pasti, pengelola masih memenuhi kewajibannya. "Apa yang menjadi kewajiban mereka ke pemko, tetap mereka penuhi. Selayaknya proses sewa menyewa. Tidak ada yang dilanggar," tegasnya.
Namun, bila pengelola berhenti membayarkan sewa lahan tersebut, maka pemko bisa mengambil alih aset yang dibangun investor. "Tapi sampai saat ini, mereka masih memenuhi kewajibannya," tekannya.
Sebelumnya, Ikhsan memang pernah mendengar cerita dari Lurah Sungai Baru bahwa objek wisata di tepian Sungai Martapura itu sepi pengunjung. "Mungkin pengelola masih kesulitan mencari bentuk (konsep) yang bisa dikembangkan," tutupnya. Untuk diketahui, Kampung Ketupat memiliki lahan seluas 7 ribu meter persegi. Sebagian lahan, seluas 800 meter persegi dikerjasamakan dengan investor.
Mulai dibangun pada Agustus 2022, rampung dan mulai dibuka pada pertengahan 2023. Masa kerja sama antara PT Juru Supervisi Indonesia dan Pemko Banjarmasin berlaku selama 15 tahun. Nilai investasinya mencapai Rp6 miliar. Pemko mendapat keuntungan dari sewa lahan yang disetorkan investor. Ditaksir sebesar Rp100 juta per tahun.
Selain menawarkan wisata kuliner dan wahana bermain anak, investor juga membangun ampiteater untuk panggung kesenian. Sampai saat ini investor juga masih bungkam. (*)