Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Fenomena "Wajah Lama" Pengemis di HSS: Dilema Anggaran dan Budaya Memberi di Jalanan

Redaksi Prokal • 2026-01-28 13:45:00
MENGEMIS: Salah satu pengemis yang meminta-minta di pinggir jalan. ( M. Padil Ihsan/Radar Banjarmasin)
MENGEMIS: Salah satu pengemis yang meminta-minta di pinggir jalan. ( M. Padil Ihsan/Radar Banjarmasin)

KANDANGAN – Kehadiran pengemis di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) kian menjamur dan mulai menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Berdasarkan pantauan terkini, para peminta-minta ini secara masif menyasar titik-titik vital keramaian, mulai dari lorong pasar dan kawasan pertokoan, hingga melakukan aksi di persimpangan lampu merah serta bahu jalan protokol yang padat lalu lintas.

Satpol PP dan Damkar HSS melaporkan bahwa sebagian besar pengemis yang terjaring dalam operasi penertiban merupakan "wajah lama". Kepala Bidang Ketentraman dan Ketertiban Umum Satpol PP HSS, Indera Darmawan, mengungkapkan fakta miris di mana para pengemis, termasuk mereka yang menyandang disabilitas, tetap kembali ke jalan meski sudah berkali-kali ditegur dan mendapatkan bantuan dari Dinas Sosial. Kondisi ini memicu keluhan dari warga yang merasa upaya penertiban selama ini belum memberikan efek jera yang signifikan.

Menanggapi fenomena tersebut, Dinas Sosial HSS menekankan bahwa penanganan pengemis tidak bisa hanya mengandalkan penertiban fisik, melainkan butuh pendekatan rehabilitasi yang berkesinambungan. Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, Sri Wiyono, menjelaskan bahwa setiap pengemis yang terjaring akan melalui proses assessment di Rumah Singgah untuk menentukan langkah selanjutnya, baik itu dikembalikan ke keluarga (reunifikasi) maupun dirujuk ke panti rehabilitasi tingkat provinsi.

Wiyono mengakui bahwa faktor ekonomi menjadi akar masalah yang kompleks. Meski pemerintah daerah terus mengucurkan bantuan sosial, keterbatasan anggaran daerah diakui belum mampu menanggung beban hidup para penerima manfaat secara penuh. Ketimpangan antara bantuan yang diterima dengan kebutuhan hidup sehari-hari inilah yang ditengarai membuat banyak warga tetap memilih turun ke jalanan demi mencari penghasilan instan.

Namun, faktor lain yang tak kalah krusial adalah tingginya kedermawanan masyarakat HSS yang disalurkan secara langsung di jalan raya. Dinas Sosial mengimbau dengan tegas agar masyarakat lebih bijak dalam bersedekah. Menurut Wiyono, memberi uang di jalanan justru secara tidak langsung "menyuburkan" mentalitas ketergantungan dan membuat para pengemis merasa nyaman dengan profesi tersebut. Selama masyarakat masih terus memberi di jalanan, rantai ketergantungan ini diprediksi akan sulit diputus meskipun pemerintah melakukan penertiban secara rutin.(*)

Editor : Indra Zakaria