MARTAPURA – Pemerintah Kabupaten Banjar melalui Dinas Pendidikan (Disdik) bergerak cepat merespons dampak banjir yang melanda wilayah tersebut pada penghujung 2025 hingga awal 2026. Sebanyak 117 sekolah dilaporkan mengalami kerusakan, dan pemerintah berencana memprioritaskan revitalisasi menggunakan konstruksi beton untuk gedung-gedung yang berada di zona rawan banjir.
Langkah ini diambil menyusul banyaknya bangunan sekolah lama berbahan kayu yang mengalami kerusakan parah akibat rendaman air. Berdasarkan verifikasi lapangan, bangunan dengan konstruksi kayu yang sudah berusia puluhan tahun menjadi yang paling rentan terhadap pelapukan pasca-banjir.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana (Sarpras) Disdik Kabupaten Banjar, Mahriansyah, mengungkapkan bahwa tim teknis telah diterjunkan sejak 23 Januari 2026 untuk melakukan analisis mendalam terhadap tingkat kerusakan infrastruktur pendidikan.
"Dari 117 sekolah yang terdampak, kami sudah melakukan analisis terhadap 105 sekolah. Target kami pekan depan seluruh kategori kerusakan, baik ringan, sedang, maupun berat, sudah terpetakan secara detail," ujar Mahriansyah pada Minggu (1/2).
Adapun data sementara rincian sekolah yang terdampak meliputi PAUD/TK: 57 sekolah, Sekolah Dasar (SD): 48 sekolah dan Sekolah Menengah Pertama (SMP): 12 sekolah.
Dari hasil verifikasi sementara, sebanyak 34 sekolah masuk kategori rusak ringan, 63 sekolah rusak sedang, dan 14 sekolah mengalami rusak berat. Hasil verifikasi dan analisis tingkat kerusakan ini nantinya akan dijadikan dasar bagi Pemkab Banjar untuk mengusulkan rehabilitasi dan anggaran penanganan.
Penggunaan konstruksi beton di masa depan diharapkan menjadi solusi jangka panjang agar bangunan sekolah di Kabupaten Banjar lebih tangguh menghadapi bencana tahunan, sehingga proses belajar mengajar tidak terus-menerus terganggu oleh kerusakan infrastruktur.
Editor : Indra Zakaria