BANJARMASIN – Sebuah permata arsitektur tradisional Banjar tipe Bangun Gudang di Jalan Surgi Mufti, Banjarmasin Utara, terus memikat perhatian karena kekokohannya yang melintasi zaman. Dibangun sejak tahun 1925, bangunan bersejarah yang kini berusia 101 tahun tersebut resmi ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat provinsi dan hingga kini masih terawat dengan baik sebagai tempat tinggal.
Rumah legendaris ini merupakan buah karya Haji Abdul Gani Kamar, seorang pedagang lintas pulau kenamaan pada masanya. Sosoknya tidak hanya mahir dalam perniagaan, tetapi juga memiliki keahlian mendalam dalam konstruksi kayu. Mahakaryanya ini menerapkan sistem sambungan tradisional yang disebut barasuk, sebuah teknik pahatan balok yang saling mengikat kuat dan diperkuat dengan sistem pasak tanpa menggunakan paku sedikit pun.
Sejarawan UIN Antasari, Mursalin Arlong, mengungkapkan bahwa pembangunan rumah ini dirancang dengan kecerdasan lokal yang tinggi. Abdul Gani Kamar memperhitungkan dinamika pasang surut air sungai serta kelembapan iklim tropis Banjarmasin. Dengan lantai yang ditinggikan sekitar 1,5 hingga 2 meter, rumah ini terlindungi dari binatang liar sekaligus menjaga ketahanan material utamanya yang didominasi kayu ulin berkualitas tinggi, dipadukan dengan kayu cendana dan galam.
Bukti otentik usia bangunan ini ditemukan oleh Tim Ahli Cagar Budaya Kota Banjarmasin melalui artefak berupa ukiran tulisan Arab bertahun 1334 Hijriyah dan angka tahun 1925 pada bagian atas rumah. Memiliki dimensi luas 142,5 meter persegi, bangunan ini juga dihiasi ornamen kaya yang mencerminkan selera estetik pemiliknya yang sering merantau ke luar daerah, namun tetap mempertahankan identitas jendela khas rumah tradisional Banjar.
Sebagai rumah milik seorang saudagar besar, tipe Bangun Gudang ini memiliki karakter khusus yang memungkinkan penyimpanan barang dagangan dalam jumlah banyak di dalamnya. Kini, rumah ini tidak hanya menjadi saksi bisu kejayaan perdagangan masa lalu, tetapi juga menjadi simbol ketangguhan arsitektur lokal yang mampu bertahan menghadapi tantangan alam selama lebih dari satu abad. (*)
Editor : Indra Zakaria