Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Alarm Kesehatan di Banjarbaru: Lonjakan Kasus Campak dan Rendahnya Cakupan Imunisasi Picu Risiko KLB

Redaksi Prokal • Jumat, 27 Maret 2026 - 18:15 WIB

ilustrasi campak
ilustrasi campak

BANJARBARU – Ancaman Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit campak kini membayangi Kota Banjarbaru. Berdasarkan data Surveilans Kesehatan Daerah (SKDR), terjadi lonjakan signifikan kasus suspek campak yang mencapai puncaknya pada pekan ke-10 tahun 2026. Fenomena ini disinyalir kuat berkaitan dengan tingginya mobilitas masyarakat dan interaksi erat dalam kerumunan selama masa libur Lebaran lalu.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Banjarbaru, dr. Siti Ningsih, mengungkapkan bahwa distribusi penderita kini tidak lagi terbatas pada usia anak-anak, melainkan meluas hingga kelompok dewasa dengan rentang usia 5 bulan hingga 46 tahun. Hingga pertengahan Maret 2026, tercatat sudah ada 60 orang yang dilaporkan sakit, dengan 3 kasus di antaranya telah dikonfirmasi positif campak melalui pemeriksaan laboratorium.

Kondisi ini diperparah oleh rendahnya angka kekebalan kelompok (herd immunity) di masyarakat Banjarbaru. Hingga Februari 2026, cakupan imunisasi Measles-Rubella (MR) dosis pertama baru menyentuh angka 13 persen, sementara imunisasi MR lengkap hanya berada di kisaran 12,3 persen. Angka ini jauh dari ideal untuk membendung virus campak yang dikenal sangat menular, di mana satu orang penderita secara teoretis dapat menularkan virus kepada 12 hingga 18 orang lainnya yang belum memiliki kekebalan.

Dinkes Banjarbaru mengidentifikasi bahwa kombinasi antara cakupan imunisasi yang rendah dan faktor lingkungan pasca-hari raya memicu transmisi cepat lintas usia. Meski pada pekan ke-11 sempat terlihat tren penurunan, risiko penyebaran luas masih tetap tinggi jika tidak segera dilakukan langkah intervensi. Pemerintah daerah kini didorong untuk memperkuat penyelidikan epidemiologi serta melaksanakan imunisasi respons secara cepat guna memutus rantai penularan di kantong-kantong penduduk yang rentan.

Masyarakat pun diimbau untuk tetap waspada namun tidak panik, mengingat campak pada dasarnya adalah penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya jika daya tahan tubuh terjaga dengan asupan gizi dan istirahat yang cukup. Namun, kesadaran untuk melengkapi status imunisasi anggota keluarga menjadi kunci utama pencegahan jangka panjang. Bagi warga yang memiliki anggota keluarga dengan gejala campak, sangat disarankan untuk membatasi kontak fisik guna melindungi orang-orang di sekitar dari risiko infeksi yang lebih parah.(*)

Editor : Indra Zakaria