BANJARMASIN – Gelombang arus balik Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin tidak hanya membawa pulang para pemudik, tetapi juga menghadirkan wajah-wajah baru yang siap mengadu nasib. Kalimantan Selatan (Kalsel) tampaknya masih menjadi "tanah harapan" bagi para perantau yang tergiur kisah sukses kerabat mereka yang lebih dulu menetap di Bumi Lambung Mangkurat.
Pada Jumat (27/3/2026), suasana dermaga tampak sibuk saat KM Dharma Rucitra I bersandar dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Kapal besar ini membawa sedikitnya 1.010 orang, yang terdiri dari ratusan penumpang komersial hingga para sopir logistik.
Di antara keriuhan penumpang yang turun, terselip cerita dua pemuda asal Nganjuk, Jawa Timur, yakni Budi Setiawan (31) dan Riduan (27). Bagi mereka, menginjakkan kaki di Kalsel adalah langkah besar untuk mengubah nasib.
"Bisa dibilang kami datang untuk mengadu nasib. Rencananya kerja ikut keluarga dulu di sini," ujar Budi saat ditemui di sela bongkar muat kapal.
Budi mengaku motivasinya merantau muncul setelah melihat keberhasilan keluarganya yang telah lebih dulu sukses di Kalsel. Namun, ia tak ingin selamanya menjadi pekerja. "Targetnya suatu hari nanti tetap ingin bangun usaha sendiri di sini," tambahnya optimis.
Peningkatan jumlah penumpang di hari ketiga arus balik ini dibenarkan oleh pihak otoritas pelabuhan. Hasrullah, Koordinator Shift PT Indonesia Kendaraan Terminal (IKT) Cabang Banjarmasin, menyebutkan bahwa volume kedatangan terus membengkak dibanding hari-hari sebelumnya.
"Hari ketiga ini dipastikan lebih banyak. Selain KM Dharma Rucitra I, kapal kedua yakni KM Haida juga membawa penumpang yang jumlahnya tak sedikit," jelas Hasrullah.
Selain mengangkut manusia, kapal-kapal ini juga membawa mobilitas ekonomi yang tinggi. Tercatat puluhan sepeda motor, seratusan mobil pribadi, hingga puluhan truk besar dan tronton ikut memadati area parkir Pelabuhan Trisakti. Fenomena "ikut keluarga" ini memang menjadi pola klasik urbanisasi pasca-Lebaran di Indonesia. Kalsel, dengan stabilitas ekonomi dan sektor industrinya, tetap menjadi magnet kuat bagi warga dari Pulau Jawa.
Bagi pemerintah daerah, kedatangan para pendatang baru seperti Budi dan Riduan merupakan tantangan sekaligus peluang untuk menggerakkan roda ekonomi, asalkan dibarengi dengan ketersediaan lapangan kerja dan penataan kependudukan yang baik. (*)
Editor : Indra Zakaria